
Alfian sudah selesai menghitung uang di tangannya. Upahnya sebagai penulis Novel di salah satu Aplikasi tulis novel baru saja diambilnya. Jumlahnya satu juta empat ratus ribu. Dia harus menghitung pengeluaran pada bulan ini. Membayar listrik, membayar tagihan wifi dan sisanya akan diserahkan pada ibunya. Selain itu, ia punya keinginan ikut kursus komputer di pondok pesantren Nurul Yaqin. Keinginan yang telah lama ia cita-citakan tapi terkendala mental yang tidak kuat. Dia masih belum berani menerima pandangan orang-orang tentangnya. Dia masih belum bisa membayangkan bagaimana orang-orang akan berkerumun dan membicarakan keadaan dirinya. Dia akan jadi pusat perhatian yang akan berjalan di antara orang-orang normal. Dia tidak ingin dikasihani karna keadaannya. Dia tidak menuntut banyak. Dia ingin orang-orang nanti memperlakukannya biasa saja, acuh dengan keadaannya. Meskipun nanti tidak ada seorangpun yang mau berteman dengannya, itu lebih baik.
Tapi ia harus mendengar apa kata ibunya dulu. Jika ibunya mengijinkan, ia siap menerima konsekwensi dari penampakan dirinya.
Alfian merapikan kembali uang yang telah dihitungnya. Ia lalu mengambil tongkat penopang kakinya dan melangkah keluar mencari ibunya.
"Bu, ada yang ingin Alfian bicarakan sama ibu". Kata Alfian ketika sudah menemukan ibunya di dapur. Perempuan paruh baya itu menoleh. Melihat Alfian bersandar di pintu dapur, ia segera mematikan api kompor gasnya. Alfian mendahului ibunya melangkah ke teras rumah.
"Ada apa nak" kata bu Ely sambil mengusap punggung Alfian. Alfian mengeluarkan seikat uang kertas dari sakunya dan menyerahkannya kepada bu...
"Masya Allah banyak sekali nak. Dari mana kamu mendapatkannya Nak". Kata bu Ely sambil melepaskan ikatan uang.
"Biasa bu, dari tulis novel" Kata Alfian singkat.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ibu bersyukur kamu bisa punya penghasilan untuk keperluan kita sehari-hari. Kalau ada yang ingin kamu beli, katakan, biar nanti ibu belikan".
Alfian menggeleng kecil.
"Sebenarnya Alfian pingin punya laptop tapi harganya terlalu mahal. Harganya empat kali lipat honor menulis Alfian". Kata Alfian menundukkan kepalanya. Melihat itu bu Ely jadi sedih, ia mengusap rambut Alfian dan menciumnya.
"Doakan ibuya nak mudah-mudahan Ibu dapat arisan bulan depan. Insya Allah itu nanti buat beli laptop Kamu". Bu Ely tersenyum.
"Gak usah bu. Terlalu mahal. Itu buat ibu saja. lagi pula Alfian belum terlalu paham dengan laptop. Mungkin rizki Alfian yang bulan depan akan Alfian gunakan buat beli HP saja. Alfian pakai HP saja bu". Kata Alfian sambil memegang tangan ibunya.
"Gak usah bu". Alfian terdiam sejenak. "Oya bu, Sebenarnya Alfian mau kursus komputer di pondok pesantren. Bayarnya cuma tiga ratus perbulan. Tapi itu kalau ibu mengijinkan". Sambungnya.
Bu Ely menatap Alfian lekat. Air mata terlihat mengalir di pipinya. Sadar ibunya lama terdiam, Alfian menoleh dan mendapati ibunya sedang mengusap air matanya.
__ADS_1
"Ibu kenapa menangis" tanya Alfian. Ia mencoba menghapus air mata di pipi ibunya. Air mata bu Ely semakin deras mengalir. Dipeluknya tubuh Alfian dengan erat. Untuk sesaat keduanya larut dalam tangis.
"Dari dulu Ibu tidak pernah melarangmu kemana mana Nak. Ibu hanya tidak ingin kehilanganmu. Kamu adalah anak satu-satunya ibu. Kamulah satu-satunya tempat ibu berkeluh. Ibu tidak mau orang mengejek keadaanmu. Ibu tidak mau kamu merasa malu nak". Kata bu Ely dengan tersengguk-sengguk.
Alfian melepaskan pelukan ibunya. Kembali ia mengusap air mata ibunya. Dia terlihat tegar dan ingin memberitahukan ibunya bahwa akan baik-baik saja.
"Bu, Aku tidak terlahir seperti ini. Aku normal seperti orang-orang hingga pristiwa itu mengubah segalanya. Aku tak mau terus menerus mengurung diri sebab prasangka buruk yang belum tentu terjadi. Aku kursus di pesantren yang Insya Allah orang-orangnya mengerti ilmu agama. Mengerti bagaiman bergaul yang baik. Alfian yakin akan mendapatkan teman yang banyak disana.
Usiaku semakin hari semakin bertambah. Sedikit tidak ada orang yang akan mengenangku kelak ketika aku telah tiada".
Bu Ely menghapus air matanya. Mendengar kata-kata bijak Alfian, ia berusaha tegar menahan air mata. Dia meraih tangan Alfian dan menciumnya. Alfian membalas mencium tangan ibunya.
Ibu Ely mengangguk.
__ADS_1
"Besok ibu antar kamu ke pesantren. Kebetulan ibu punya kenalan di pondok pesantren. Teman ibu dulu waktu Aliyah. Sekarang kamu sarapan dulu ya, ibu sudah gorengkan cumi kering kesukaanmu". Bu Ely bangkit dan menuntun tubuh Alfian menuju dapur.