SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
Emi tidak pernah menyangka bahwa orang-orang yang berdiri di depan rumahnya...


__ADS_3

Waktu terus berputar dengan cepat. Tak terasa siang dengan cepatnya berganti dengan malam. Dan amat merugilah orang-orang yang lalai menabur benih kebaikan hingga tak sadar berada di ujung jalan.


Seperti biasa hujan kembali terdengar turun dengan derasnya. Hingga tengah malam, hujan masih terdengar walau tidak sederas pada awal malam.


Malam dengan gelap dan heningnya tercipta laksana selimut tebal tempat melepas penat, akibat kerasnya siang menguras tenaga dan pikiran penghuni bumi. Tapi malam juga tercipta di sepertiganya untuk orang-orang yang terketuk hatinya menyambut panggilan Tuhan. Ketika siang bergulat dengan usaha menyambung kehidupan yang sifatnya sementara, maka malam menyediakan sepertiga waktunya untuk usaha membangun kehidupan sebenarnya nan abadi. Malam menyediakan istana dengan maqom tertinggi lagi terpuji untuk hamba-hamba pilihan yang menghambakan diri dalam sujud panjang tahajjudnya.


Di saat penghuni malam terlelap dalam tidur dan mimpi indah mereka, hamba-hamba pilihan itu akan mengasingkan selimut-selimut hangat mereka dan berusaha hangat dalam dingin air wudhu mereka. Sang Pencipta adalah Maha Penting dari segalanya. Di kehidupan yang abadi kelak akan jadi penyambut yang ramah untuk hamba-hamba pilihannya.


Dua orang manusia nampak hening dalam doa masing-masing. Sama-sama mengharapkan petunjuk dan pertolongan kepada Yang Maha mengabulkan segala doa dan keinginan. Yang satu dalam ketidak sempurnaan fisiknya, dan yang satu lagi benar-benar menginginkan pemberian dan petunjuk dari Allah. Keduanya hanyut dalam zikir dan doa hinga fajar shodiq tiba.


Pagi menjelang menggantikan malam. Matahari sedikit mengeluarkan sinar keemasannya di balik mega mendung. Intensitas hujan pada tahun ini amat berlimpah. waktunya pun acak. Harus sering-sering mengucap Insya Allah jika membuat janji pada bulan-bulan ini.


Setelah tadi malam hampir turun semalaman, pagi inipun dengan gelap yang memenuhi ufuk timur, sebentar lagi hujan akan kembali turun dengan derasnya.


Pagi ini baik Alfian maupun Emi sama-sama gelisah di kamar masing-masing. Resah jika mendung yang menaungi akan berubah menjadi hujan yang deras. Setelah semalaman resah menunggu datangnya pagi, kini mereka harus menunggu lagi hingga hujan benar-benar berhenti.


Emi ingin sesegera mungkin keluar dari rumah untuk mengikuti kata hati yang menuntunnya menuju bangunan tua. Alfian pun begitu, ia begitu rindu melihat gadis berkerudung putih, yang wartanya hari-hari ini menyejukkan pendengarannya.


Alfian mendesah. Merasa tidak sabar menunggu, ia keluar dari kamarnya.


"Mau kemana kamu nak. Sebentar lagi hujan, ibu takut nanti kamu kehujanan dan sakit. Jika tidak begitu penting, jangan keluar dulu," sambut bu Ely ketika melihat Alfian keluar dari kamarnya.


"Alfian harus keluar Bu, ini menyangkut pekerjaan. Ada yang harus Alfian tanyakan pada Basir," kata Alfian mencoba meyakinkan ibunya.


"Apa gak bisa si Basir yang kesini Nak. Sekali-kali ajak dia ke rumah," timpal bu Ely.


Alfian tersenyum.


"Ya gak bisa Bu, Basir gak bisa meninggalkan counternya. Banyak sekali naskah skripsi yang harus ia ketik. Lagi pula data-data yang mau Alfian ambil ada di komputer Basir," jawab Alfian panjang lebar.


"Mumpung masih belum hujan Bu. Nanti Alfian telpon si Basir biar jemput Alfian di jalan besar. Sebentar saja Bu," sambung Alfian memelas. Bu Ely tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mendesah sambil mengangguk kecil.


"Jika urusanmu sudah selesai, cepatlah pulang. Ingat, jangan buat ibu menunggu."


Alfian tersenyum dan mencium tangan ibunya. Bu Ely kemudian mengambil Payung di dapur dan memberikannya kepada Alfian. Alfian pun beranjak pergi.


Tepat setelah beberapa detik Alfian akhirnya tiba di tingkat pertama bangunan tua. Hujan mulai turun dengan derasnya. Ia mulai berdiri menghadap keluar jendela. Ia tak sabar untuk berdiri sambil membayangkan tubuh Emi dari kejauhan. Pandangan matanya tertuju ke arah dimana Emi selalu datang.


Ia sudah tahu Emi tidak akan lewat hari ini. Emi tidak akan bisa kemana-mana karna hujan. Tapi sedikit tidak, rasa rindu yang lama terpendam sedikit terhapus saat ia berada di bangunan tua itu.


Betapa pentingnya bangunan tua itu untuknya. Terlalu banyak kenangan yang tersimpan sejak lima tahun lalu. Tembok bisu bangunan tua selalu jadi sandarannya jika ia merasa lelah dengan pergulatan batin. Dia selalu berandai-andai, jika suatu hari nanti ia punya uang yang banyak, ia akan membeli bangunan tua itu sebagai tempat tinggalnya. Ia akan mengadopsi banyak anak yatim dengan harapan kelak ada yang merawatnya ketika ia mulai sakit dan menua. Ia sudah yakin dia akan terus sendiri tanpa seorang istri hingga akhir usianya.


Hujan semakin deras. Terlihat sebuah mobil warna silver melaju menembus lebatnya hujan lewat jendela bangunan tua. Alfian duduk. Ia masih punya waktu tiga jam berada di tempat itu. Setelah itu ia harus pulang sekalipun hujan masih turun. Dia tidak ingin ibunya resah menunggu kepulangannya.


Emi tampak kecewa. Hujan yang ia takutkan akan turun akhirnya turun juga dengan lebatnya. Ia sempat punya harapan ketika beberapa kali angin keras datang menghempas. Biasanya awan yang menggumpal akan terusir dari langit jika angin terus menerus berhembus kencang.


Dengan langkah gontai Emi membuka pintu kamarnya. Tapi baru saja pintunya terbuka, suara mobil terdengar seperti berhenti di depan rumahnya. Tak berselang lama terdengar juga ucapan salam dari luar rumah.


"Emi, coba tengok Nak siapa yang datang. Ibu sedang memijit ayahmu," kata bu Marwan terdengar dari dalam kamarnya. Emi melangkah menuju pintu. Kelambu jendela disibaknya perlahan dan melihat ada empat orang terlihat berdiri di teras rumahnya.


Bagai disambar petir, Emi terperangah dan mematung di tempatnya berdiri. Sosok-sosok yang berdiri di luar rumah itu adalah sosok-sosok yang sangat ditakutkannya untuk berjumpa akhir-akhir ini. Itu memang Kiai Abdul Rozak dengan keluarganya. Ada istri Kiai Rozak, ada ustazah Juwariyah, ada ustadz mohammad Alqof dan satunya lagi Kadus di wilayahnya. Tubuh Emi bergetar. Jantungnya berdegup keras.

__ADS_1


"Siapa yang di Luar Nak." Terdengar bu Marwan setengah berteriak dari dalam kamar. Emi tak menjawab. Terdengar lagi suara salam dari orang-orang di luar rumah. Kali ini bu Marwan keluar dan melangkah menuju pintu teras rumah. Melihat Emi yang hanya berdiri mematung di depan pintu, bu Marwan memegang pundaknya.


"Kamu kok diam saja sih. Ada tamu mengucap salam kok gak di jawab," kata bu Marwan setengah kesal memincingkan mata. Melihat ibunya sudah ada di dekatnya, Emi segera berlari ke kamarnya. Ia terlihat menangis.


"Wa alaikum salam," kata bu Marwan sambil membuka pintu. Bu Marwan mencoba melihat dengan lebih jelas sosok tamu di depannya. Ia masih tidak percaya. Orang-orang yang ada di hadapannya seperti tidak asing di matanya. Tapi ia tidak begitu yakin akan kedatangan orang-orang itu.


"Astaghfirullah. Apa benar yang ada di hadapan saya ini adalah Pak Kiai," kata bu Marwan. Ia langsung meraih tangan Kiai Rozak dan istrinya lalu menciumnya.


"Apa tidak salah yang saya lihat ini Bu Ustadzah. Saya sempat menyangka kalau rombongan Bu Ustadzah salah alamat."


"Ah Ibu bisa saja," kata istri Kiai Rozak.


"O ya Bu, saya dulu satu sekolah lho dengan bu Marwan. Andai saja ia tidak buru-buru menikah, dia pasti lebih jago ngajinya ketimbang saya," kata ustadzah Juwariyah memperkenalkan bu Marwan. Bu Marwan tersipu malu.


"Owh, pantesan anaknya bu Marwan juga jago ngaji," kata istri Kiai Rozak menimpali.


"Eh jadi lupa ngajak masuk. Mari Pak Kiai, Bu, Mari semuanya masuk," kata bu Marwan mempersilahkan.


Bu Marwan dengan cekatan membersihkan Meja dan kursi di ruang tamu dengan lap yang diambilnya di atas meja. sesampainya di ruang tamu, Setelah dianggapnya bersih, bu Marwan mempersilahkan kiai Rozak dan rombongan untuk duduk.


"Silahkan duduk Pak Kiai. Maaf sebelumnya, ruang tamu masih berantakan."


"Gak apa-apa Bu. Biasa saja," sahut istri kiai Rozak.


" Saya pamit sebentar ke dalam, mau panggil bapak," kata bu Marwan membungkukkan tubuhnya memohon ijin.


"Oh ya silahkan Bu," jawab Kiai Rozak sambil memberi isyarat dengan tangannya. Bu Marwan pun segera bergegas. Ketika menghampiri pintu kamar Emi, ia mengetuknya.


"Saya di dapur Bu sedang masak air." Terdengar suara Emi dari arah dapur. Mengetahui Emi sudah ada di dapur, bu Marwan merasa tenang dan segera bergegas menuju kamarnya untuk membangunkan suaminya. Tapi ketika ia membuka pintu, Ia tidak mendapati pak Marwan di dalam kamar. Ia kembali bergegas ke dapur dan mendapati Emi sedang menyeduh beberapa gelas kopi di depannya.


"Bapak kamu dimana," kata bu Marwan dengan nafas ngos-ngosan.


"Ada di kamar mandi Bu, tadi Emi yang bangunin," kata Emi dengan nada lemah.


"Kalau begitu ibu mau temani tamu dulu. Nanti kalau ayahmu sudah selesai, suruh ia langsung ke ruang tamu ya," Emi mengangguk. "Kalau kopinya sudah siap segera bawa ke ruang tamu," sambung bu Marwan sembari berlalu meninggalkan Emi.


Bu Marwan membawa dua buah kursi plastik ke ruang tamu. Setelah tersenyum di hadapan tamunya, iapun duduk.


"Maaf sudah lama menunggu, bapaknya lagi di kamar mandi," kata bu Marwan begitu sampai di ruang tamu.


"Santai saja Bu. Kami kesini memang sudah niat. Kalau Ibu tidak keberatan, mungkin kami akan agak lama disini. Semoga saja Ibu sekeluarga tidak merasa terganggu," kata pak Kiai Rozak.


"Justru kami yang merasa senang Pak Kiai sekeluarga mengunjungi kami. Tumben-tumben kami kedatangan tamu agung ke rumah ini."


"Ah ibu bisa saja," kata Kiai Rozak sambil tersenyum.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pak Marwan muncul dan langsung bergegas menyalami satu persatu tamunya. Pak Marwan kemudian duduk di kursi plastik yang disodorkan bu Marwan.


"Maaf kalau Pak Kiai menunggu lama. Tadi saya ketiduran dan kaget saat Emi memberitahukan kedatangan Pak Kiai."


Kiai Rozak memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


"Gak apa-apa Pak. Justru kami yang minta maaf karna datang tanpa memberitahu terlebih dahulu," jawab Kiai Rozak.


Emi muncul membawa beberapa cangkir kopi ke ruang tamu. Untuk sejenak suasana seketika hening. Orang-orang yang ada di ruang tamu pandangannya tertuju kepada Emi yang mulai menyuguhkan kopi kepada tamu. Emi hanya menunduk dan malu mengangkat kepalanya. Mohammad Alqof yang berada dekat Kiai Rozak seperti terpana melihat kecantikan Emi.


"Kok ada sisa satu. Saya salah ngitung ya," kata bu Emi mencoba mencairkan suasana.


"Oya, jadi lupa menyampaikan salam pak Kadus. Dia minta maaf karna tidak bisa lama di sini. Katanya ada warga yang mau ngurus masalah tanah," kata ustazah Juwariyah begitu sadar pak kadus sudah lebih dulu pergi.


Setelah selesai menghidangkan minuman, Emi langsung menuju kamarnya. Ia harus mendengar isi pembicaraan Kiai Rozak walaupun ia sudah tahu pasti maksud kedatangannya. Dia berharap tak ada acara pemanggilan dirinya dalam pembicaraan itu.


Untuk sesaat tadi ia masih mendengar suara renyah ibunya membalas obrolan tamunya, Tapi entah dari mana mulainya, ia sudah tidak bisa lagi mendengar suara-suara itu dari arah ruang tamu. Sesekali hanya terdengar suara batuk kering ayahnya.


Emi mendongak. Mereka mungkin sudah mulai dengan pembicaraan serius mereka. Ia harus siap-siap karna sebentar lagi ibu atau ayahnya pasti akan menyuruhnya keluar.


Emi mengatur nafasnya yang tak beraturan. Ia mencoba berusaha tenang dan coba merenungi beberapa hal. Itu semua mungkin rentetan jawaban dari petunjuk Tuhan untuk dirinya. Ia hanya akan menunggu dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya perlu memikirkan jawaban yang bijak yang tidak akan menyinggung siapapun.


Terdengar ketukan pelan dari pintu kamarnya. Emi merapikan jilbabnya. Jilbab putih yang sedang dipakainya dan digantinya dengan jilbab berwarna biru. Itu adalah isyarat lembut untuk ayah dan ibunya bahwa inilah cara ia menolak.


Emi membuka pintu kamarnya dan melihat ibunya tersenyum lembut di balik pintu. Bu Marwan merapikan jilbab yang dipakai Emi dan memandangnya lekat. Ia menangkap sesuatu yang berbeda dari cara tersenyum dan memandang putrinya. Tumben juga ia melihatnya memakai jilbab cadangannya.


Bu Marwan memegang tangan Emi dan mengajaknya ke ruang tamu. Ia lalu duduk diapit ibu dan ayahnya.


Seluruh tamu yang melihatnya tersenyum. Sesekali ustadz Mohammad Alqof melirik ke arahnya. Ternyata, kecantikan gadis itu melebihi cerita yang ia dengar.


"Nak, mungkin kamu belum tahu maksud kedatangan pak kiai dan keluarga ke rumah kita. Pak Kiai dan keluarga ke sini bukan untuk ayah dan ibu, tapi untuk kamu. Pak Kiai sekeluarga menilaimu sebagai gadis yang shalehah dan alhamdulillah, ayah dan ibu sangat bersyukur tentang itu. Doa dan usaha ayah dan ibu menjadikanmu gadis baik dan sederhana, alhamdulillah akhirnya bisa menjadi kenyataan. Sedikit tidak itu telah diwakili oleh orang alim seperti Pak Kiai." Pak Marwan menghapus air mata yang mulai meleleh ke pipinya. Bu Marwan juga terlihat menangis, begitupun dengan Emi. Emi menoleh ke arah pak Marwan dan mengusap-usap punggung pak Marwan. Sejenak suasana semakin hening.


"Maaf Pak Kiai, kayaknya seperti di sinetron saja pakai acara menangis segala," sambung pak Marwan yang spontan disambut gelak tawa seisi ruangan.


"Memang ayahnya Emi ini kadang manjanya melebihi Emi Pak Kiai," sambut bu Marwan yang lagi-lagi disambut tawa seisi ruangan. Suasana yang tadinya khusyuk dan kaku seketika mencair.


Pak Marwan memegang pundak Emi dan menatapnya lekat.


"Nak, usiamu kini adalah usia yang sangat matang untuk berumah tangga. Ketika ayah dan ibu menggodamu agar cepat menikah, itu semua punya maksud agar kamu tidak melupakan kodratmu untuk menikah,bukan karna ibu dan ayah tidak menginginkanmu lagi di rumah ini." Pak Marwan mengambil nafas dalam dan melanjutkan pembicaraannya. Para tamu masih menunduk mendengar pembicaraan itu.


"Nak, yang di dekat pak Kiai itu adalah Ustadz Mohammad Alqof, anak satu-satunya Kiai Rozak. Dia adalah orang berilmu yang insya Allah shaleh. Dia datang kesini untuk memberitahukan keinginannya untuk menjadikanmu pendamping hidupnya. Nak, ayah dan ibu menginginkan agar kelak kamu mendapatkan jodoh yang baik, yang sesuai anjuran agama. Tapi ayah dan ibu tak akan memaksamu. Ayah yakin kamu tetap setia dengan istiharahmu mencari petunjuk dari Allah. Seperti yang selalu kamu katakan pada kami, Kamu pasti sudah meminta fatwa pada hatimu." Mendengar kata-kata ayahnya, Emi tersenyum. Hatinya terasa sedikit tenang. Pak Kiai Rozak terlihat mengangguk.


"Sekarang Pak Kiai menunggumu untuk mendengarkan jawabanmu."


Emi memberanikan dirinya menghadap pak kiai sejenak lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Enggak usah sungkan-sungkan Nak Emi. Katakan saja apa yang ada di dalam hatimu. Semua telah diatur oleh Allah. Yang kami lakukan saat ini adalah salah satu ikhtiar kami mencari yang terbaik," kata pak Kiai memberikan keberanian pada Emi.


Emi menghela nafasnya dalam-dalam.


"Seperti yang Pak Kiai katakan. Jika ini adalah salah satu ikhtiar kita mencari yang terbaik, saya hanya bisa mengatakan Insya Allah. Waktunya masih panjang dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari," kata Emi tetap dengan wajah yang tertunduk.


"Subhanallah, jawaban Nak Emi sungguh bijak sekali. Jawaban ini tidak akan mengecewakan kita. Untuk saat ini biarlah mereka mengadakan ta'aruf dulu dan selanjutnya kita serahkan keputusan kepada mereka berdua."


Kata-kata pak Kiai menentramkan hati Emi. Dan itu seharusnya yang diinginkannya. Dengan itu tak akan ada yang tersakiti.


"Nak Emi gak keberatan kan kalau saya kasih nomor HP nya Nak Emi sama Nak Alqof?" tanya ustadzah Juwariyah. Emi mengangguk.

__ADS_1


Terdengar Azan Ashar mengumandang. Hujan masih turun walaupun sudah agak mereda. Pak Kiai dan rombongan pamit pulang. Pak Marwan, bu Marwan dan Emi mengantarnya hingga ke teras rumah.


__ADS_2