
Hari ini suasana di pesantren tak seperti biasanya. Para santri yang biasanya khusyu' di kelas masing-masing terlihat berjejer rapi di halaman. Pandangan mereka tertuju ke arah gerbang, seperti ada yang sedang ditunggu. Mungkin hari ini, pesantren sedang kedatangan tamu penting.
Emi masih terdiam. Ia menoleh kesana kemari seperti mencari seseorang. Karna yang dicarinya tidak juga ditemukannya, ia memilih ikut berbaur bersama santri-santri lain di depannya.
Sebuah mobil Panther warna silver terlihat masuk. Santri yang tadinya masih berisik satu sama lain seketika terdiam menundukkan kepala. Beberapa santri yang berada di ujung barisan terdengar membaca shalawat dan seketika disambut oleh seluruh santri. Mobil Panther melaju pelan. Sampai mobil berhenti di depan rumah kiai, Emi masih belum tahu siapa tamu yang ada di dalam mobil.
Seseorang menarik baju Emi dari belakang. Ia menoleh dan melihat Nurhalimah di belakangnya. Emi menurut saja ketika Nurhalimah menariknya ke ruang kelas.
"Kamu kemana saja sih, saya cari kemana-mana tidak ketemu-temu."
"Saya datang agak terlambat tadi, saya bingung tumben seramai ini. Ada apa ya kok ramai sekali," tanya Emi masih keheranan.
"Jadi kamu belum tahu siapa yang datang," tanya Nurhalimah. Emi menggeleng.
"Tapi kamu lihat kan siapa yang di dalam mobil". Emi kembali menggeleng.
"Ck.ck.ck..., keterlaluan kamu Emi, tadi itu masya Allah, ganteng banget Emi," kata Nurhalimah bersemangat.
"Memangnya siapa yang di dalam mobil," tanya Emi.
"Ustads Mohammad Alqof, anaknya pak Kiai yang kuliah di Mesir itu."
Emi kaget begitu mendengar penjelasan Nurhalimah. Tubuhnya sedikit gemetar. Dia mulai bertanya-tanya dalam hatinya tentang adanya kaitan kepulangan ustads Mohammad. Alqaf dengan pemanggilan pak kiai tiga hari lalu. Dia takut setelah ini pak Kiai akan memanggilnya lagi, sedangkan dia belum punya jawaban sama sekali.
"Memangnya ustads Mohammad Alqof sudah lulus kuliah Nur," kata Emi mencoba mencari pembenaran.
"Informasi yang saya dengar sih, bu ustadzah yang menyuruh ustadz Mohammad Alqof pulang."
Hati Emi semakin tak karuan. Jika benar bu ustadzah yang menyuruh ustads Mohammad. Alqof pulang, maka ia harus siap-siap dipanggil pak Kiai. Tapi sebegitu pentingkah dirinya, sampai-sampai ustads Mohammad Alqof pulang dari tempat yang sangat jauh, hanya untuk diperkenalkan pada dirinya?
Emi menghela nafas pendek. Untuk sejenak, ia benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia masih memikirkan jawaban yang tepat jika suatu saat bu ustadzah, istri pak Kiai memanggilnya kembali. Ia benar-benar merasa dilema. Ia merasa tidak akan bisa menolak jika sudah berada di hadapan pak Kiai dan keluarganya. Emi mendongak pasrah.
"Nur, kayaknya aku mau pulang saja. Kayaknya aku kurang sehat," kata Emi sambil meletakkan tangan kanannya di pundak Nurhalimah. Nurhalimah memandang Emi yang memang terlihat pucat.
"Berarti kamu gak bisa dong ikut ke mushalla,"
__ADS_1
"Ke mushalla? memangnya ada apa lagi," tanya Emi mengerutkan dahi penasaran.
"Ustadz Mohammad Alqof akan memberikan sedikit ceramah di hadapan seluruh santri. Jarang-jarang lho Emi ketemu ustadz Mohammad Alqof," kata Nurhalimah mempertegas.
"Tapi gimana dong, aku benar-benar merasa tidak sehat hari ini. Aku titip cerita saja ya, Insya Allah jika kita jumpa lagi esok pagi, aku pasti akan mendengarkanmu berkisah." Emi bangkit dan berpamitan kepada Nurhalimah.
Sepanjang perjalanan, kepulangan ustadz Mohammad. Alqof menjadi topik mengeruhkan di kepalanya. Suasana hatinya berubah tak menentu. Entah, ia merasa hidupnya telah dipenjara sejak pemanggilan oleh pak Kiai Abdul Rozak. Saban malam ia menguras pikirannya untuk sebuah jawaban yang sebenarnya sudah didapatkannya tapi teramat susah untuk diungkapkan nanti di hadapan pak Kiai.
Tiba di dekat bangunan tua, Emi mendongakkan kepalanya sambil melirik ke atas. Hanya potongan karung yang dilihatnya. Perasaan, ketika kemarin ia melihat ke arah jendela, potongan karung itu masih melambai-lambai tertiup angin. Tapi sekarang, potongan karung itu seperti sudah diikat. Keyakinannya semakin kuat tentang adanya seseorang di atas sana.
Emi menundukkan kepalanya. Matanya awas kesana kemari memeriksa, mungkin ada sesuatu yang bisa ia bawa pulang seperti kemarin.
Emi menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di depan sana. Sebuah benda yang tampak tidak asing. Sesuatu yang digunakan untuk mengikat gulungan kertas HVS.
Emi meraihnya dan segera memasukkannya ke dalam tasnya. Ia menoleh lagi ke atas, setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya.
Azan Dhuhur terdengar berkumandang. Alfian terbangun. Lagi-lagi ia ketiduran. Suasana di dalam ruangan terasa dingin dan membuatnya menggigil.
Perlahan Alfian bangkit. Awan hitam terlihat menggumpal di depannya. Ia segera beranjak turun.
Setelah melaksanakan shalat, Emi langsung menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut tebalnya. Tak lupa ia menyertakan sesuatu yang di temukannya tadi di dekat bangunan tua.
Gulungan kertas HVS dengan pita berwarna biru sebagai pengikatnya mulai ia buka. Ia tersenyum sendiri. Ia merasa lucu dan seperti sedang bermain teka-teki. Sejak menemukan puisi pertama ia jadi tertarik dengan segala sesuatu yang berada dekat bangunan tua itu.
Mungkin saja gadis berkerudung putih dalam puisi itu ditujukan untuk orang lain yang mungkin punya kesukaan sama dengannya. Begitu juga dengan pita warna biru yang sangat banyak sekali dijual di pasar atau di toko-toko.
Ada dua lembar kertas yang ia temukan di balik lembaran HVS . Kali ini yang ia lihat adalah tulisan panjang memenuhi lembaran. Emi mengambil lembaran puisi yang ia temukan kemarin dan mencocokkan bentuk tulisan keduanya. Tulisan indah yang sama yang ditulis oleh orang yang sama. Sangat rapi sekali.
Setelah mengucap Bismillah, Emi mulai membacanya.
"Gadis berkerudung putih, sampai kapankah aku harus bersembunyi melihat indahmu. Terkadang aku merasa sudah mulai jenuh dan putus asa menunggu keajaiban Tuhan. Ingin sekali aku memandangmu dalam jarak begitu dekat, tapi keadaanku menyadarkanku bahwa aku tidak akan pernah pantas dicintai olehmu.
Gadis berkerudung putih, tahukah berapa banyak sajak yang aku buat untukmu? Jika semua sajakku dapat engkau temukan, engkau bisa membuatnya menjadi kumpulan cerita yang membuatmu jenuh menemukan akhirnya.
Aku mencintaimu wahai gadis berkerudung putih. Sangat mencintaimu dalam ketidak pantasanku. Nazar demi nazar telah aku ucap demi meraih mimpiku yang mustahil. Mimpi yang membuatku mulai putus harapan untuk mengejarnya.
__ADS_1
Tak terbayang bagaimana hidupku jika bisa bersamamu. Mungkin itu kesempatan pertamaku merasakan bahagia karna cinta. Doa yang selalu terpanjatkan dalam setiap rukuk tahajjudku.
Aku menyadari kekuranganku, tapi aku menangisi jika bayanganmu hilang dari pandanganku. Karna begitu berharganya dirimu bagiku, kau adalah bagian tak terpisahkan dari jiwaku.
Tahukah kau wahai gadis berkerudung putih? aku tak pernah mendoakan diriku sesering aku mendoakan dirimu. Aku tak pernah punya kekuatan hidup jika tidak mengingat bahwa aku masih bisa melihatmu dari kejauhan. Satu hari saja aku tak melihatmu, aku menangis karna tidak tahu keadaanmu. Aku tidak bisa memastikan apakah kau sakit atau baik-baik saja di sana. Dan tahukah engkau, tubuhku menjadi lemah dan sakit jika aku memvonis hal yang buruk terjadi padamu, pun jika tidak melihatmu sehari saja.
Dunia muram. Hatiku tak tenang. Sujud dan rukukku hampa tak bertuan.
Wahai Gadis berkerudung putih. Aku ada di dekatmu. Jika kau merasa aku di dekatmu, jangan ragu untuk melangkahkan kakimu menemukanku. Aku dekat dan kau pasti bisa menemukanku. Kau hanya belum percaya diri untuk melangkah dan masih ragu tentang keberadaanku. Padahal hatimu selalu membisikkan sesuatu yang tak salah. Hati yang bersih dari lisan yang tak lepas dari kalam suci Pemilik Arsy.
Inilah caraku memberitahukan keberadaanku. Jika engkau marah ketika sadar aku hanyalah burung hantu yang mematung di dahan pohon, tenangkan hatimu dan beri aku kesempatan mencintaimu tanpa harus memiliki. Aku hanya menginginkan engkau tahu, betapa sudah sekian lama aku mengintipmu di balik peraduanku.
Saat menulis surat ini, aku sudah berbisik pada Tuhan. Inilah adalah goresan terakhirku. Jika Tuhan tak mengijinkan maktuban ini berlabuh di tanganmu, biarlah akan jadi bacaan yang mengelikan buat alam. Tapi jika engkau telah membacanya hingga tuntas, maka pejamkan matamu dan ku mohon, cari aku sebisamu karna aku tak mampu mencarimu sebisaku. Keadaan dan ruang membatasiku.
Berbaringlah yang tenang wahai gadis berkerudung putih. Semoga yang kuasa menganugrahkanmu kebaikan yang sempurna di dunia dan akhirat.
Emi menghapus air mata yang mengalir di pipi putihnya. Dia merasa seperti sudah punya ikatan dengan pemilik surat. Ia merasa tak puas dan kembali membacanya sekali lagi. Ia benar-benar terhanyut jauh ke dalam dunia sang pemilik kata.
Sudah tiga kali ini Emi membaca surat itu. Sudah tiga kali itu juga ia menangis. Emi menatap lembaran surat di tangannya. Ada coretan kecil di ujung kertas paling bawah. Kecil sekali. Tampak seperti coretan memanjang ke samping tapi terlihat sangat rapi. Emi mencoba mendekatkannya sedekat mungkin ke matanya, tapi ia tetap tak bisa membacanya.
Emi mengambil tisu di atas meja dan segera membersihkan sisa air mata yang masih membekas di matanya. Dia baru ingat pernah melihat ayahnya membuat api menggunakan kaca pembesar ketika pergi ke ladang salah satu kerabatnya. Mungkin ayahnya masih menyimpan cermin itu.
Emi bergegas bangkit dan segera menuju ruang tamu. Suasana di rumah terlihat sepi. Pintu kamar ibunya tertutup. Ayahnya sampai saat ini belum juga pulang. Dia harus mencari kaca pembesar itu.
Laci demi laci meja ayahnya mulai ia buka dan ia menemukan sebuah kaca pembesar di salah satu laci tersebut. Segera Emi berlarian kembali menuju kamarnya, mengambil surat dan mengarahkan kaca pembesar ke ujung bawah kertas.
"Emi Widjayanti" .
Kaca pembesar terlepas dari tangan Emi. Diambilnya lagi dan mengarahkannya ke tempat yang sama dan ia masih menemukan namanya terbaca jelas di pojok bawah kertas.
Emi mendesah. Jadi benar, puisi dan surat yang ia baca sekarang memang ditujukan untuknya. Orang yang menulisnya pasti adalah orang yang mengenalnya dan dikenalnya. Pemilik surat itu tahu namanya. Dia adalah laki-laki misterius yang mungkin saja sering ia temui.
Emi mulai berfikir keras. Mencoba mengingat wajah laki-laki yang ia kenal dan sering ia lihat. Banyak tapi tetap tidak bisa memastikan siapa di antara mereka. Salah satu cara membuktikannya mungkin dengan mencocokkan tulisan masing-masing dengan tulisan surat di tangannya. Tapi itu akan membuatnya seperti orang yang tidak punya kerjaan.
"Ya Allah, beri hamba petunjuk-Mu untuk memecahkan kebingungan ini," desah Emi penuh harap. Ia lalu membaringkan tubuhnya. Tatapannya menerawang penuh arti menatap langit kamar.
__ADS_1