SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
Melihat Alfian di papah seorang gadis, Bu Ely nampak kaget. Ia segera keluar.


__ADS_3

"Assalamualaikum." Terdengar ucapan salam dari luar rumah. Bu Ely segera keluar. Ia kenal suara itu, itu anaknya, Alfian. Dia sudah menunggunya sejak sore tadi. Untuk kedua kalinya anak itu sudah membuatnya resah.


Bu Ely membuka pintu dan melihat anaknya sedanf berdiri bersama seorang perempuan di sampingnya. Merasa khawatir telah terjadi sesuatu sama Alfian, bu Ely segera berhamburan keluar. Ia segera meraba dan memeriksa sekujur tubuh Alfian, berharap tidak terjadi sesuatu pada Alfian. Melihat itu Emi tersenyum. Sedekat itu, Bu Elly belum juga melihatnya.


" Kak Alfian tidak apa-apa Bu," kata Emi mencoba menarik perhatian Bu Ely. Mendengar Emi memanggilnya kakak, Alfian tersenyum tersipu malu. Bu Ely sendiri terkejut. Dia baru sadar, perempuan yang memapah anaknya ternyata adalah Emi. Gadis yang dua kali datang menyambanginya.


Bu Elly tidak bisa lagi menyembunyikan rasa senangnya melihat Emi. Dia langsung saja memeluk tubuh Emi.


"Subhanallah Nak Emi, maaf, ibu sama sekali tidak sadar kalau Nak Emi yang bersama Alfian. Tapi bagaiman kalian bisa saling kenal," kata bu Ely mulai penasaran.


"Nanti saja ceritanya Bu. Lihat Kak Alfiannya sudah gemetar kedinginan," kata Emi. Ketiganya lalu masuk.


"Alfian kamu ganti pakaian dulu sana, biar nak Emi nanti pakai bajunya ibu," kata bu Ely ketika sudah sampai di dalam rumah. Alfian menoleh ke arah Emi, memberi isyarat sebelum masuk ke kamarnya. Emi mengangguk.


"Bu, baju Emi gak usah diganti. Sebentar lagi Emi mau pulang. Takut ayah dan ibu mencari Emi. Mungkin saat ini mereka berdua lagi khawatir menunggu Emi pulang," kata Emi.


"Iya tapi kamu ganti baju dulu. sudah nanti ibu antar."


Bu Ely mengajak Emi masuk ke dalam kamarnya. Ia lalu mengeluarkan gamis warna hitam dari dalam lemarinya. Dia juga mengeluarkan sebuah jilbab warna putih dari dalam lemari.


"Tahu enggak, gamis ini adalah gamis ibu dulu ketika jadi santri. Ibu rasa pas dengan ukuran Nak Emi. Nah, kalau jilbab ini ibu beli kemarin di pasar. Rencananya ibu akan berikan ini semuanya pada Nak Emi jika kebetulan mampir lagi ke sini. Eh tau-taunya Nak Emi datang kesini malam ini," kata bu Ely begitu semangatnya.


Azan maghrib terdengar bekumandang ketika Emi sudah selesai mengganti bajunya. Alfian terlihat sudah duduk di ruang tamu. Dia masih terlihat malu ketika Emi mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Aku pulang dulu. Ibu dan ayah pasti sudah lama menunggu di rumah. Insya Allah besok Emi datang lagi," kata Emi. Alfian menatapnya. Bu Ely yang mengintip dari balik kelambu pintu kamarnya hanya bisa menatap heran. Dia masih saja tak mengerti, tiba-tiba saja keduanya sudah saling mengenal.


"Bu, sudah siap," panggil Alfian sambil menoleh ke arah kamar ibunya.


"Tapi kamu belum makan Nak. Tunggu saja sebentar, ibu akan menyiapkan makanan untukmu," sambung Alfian berharap Emi mau tinggal sejenak untuk makan malam bersama mereka.


"Lain kali saja kak. Emi harus pulang dulu."


"Ayo nak ibu antar. Dan kamu Alfian, jangan kemana-mana dulu ya. Tunggu ibu sebentar," Kata bu Ely sambil mengepalkan tangannya ke arah Alfian. Alfian dan Emi hanya tersenyum.


Setelah berpamitan dengan Alfian, Emi kemudian melangkah mengikuti bu Ely.


Setelah memastikan Emi dan ibunya sudah berada di luar rumah, Alfian bangkit dan segera menuju pintu. Disibaknya kelambu jendela ruang tamu dan mulai menatap tubuh Emi hingga hilang di balik gelap malam. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Untuk beberapa jam tadi, Ia seperti berada dalam dunia imajinasi. Dunia yang tanpa cacat. Dunia yang sangat indah yang hanya dia sendiri yang bisa merasakannya.


Tapi ketika sosok Emi telah pergi, kini ia merasa seperti terbangun dari mimpi indahnya. Bekas-bekas keindahan itu masih ada, tapi hanya bisa untuk dikenang. Senyum Emi bisa ia lihat di mana-mana memenuhi kamarnya. Di setiap sudut ia memandang. Rasa indah yang menjelma menjadi rasa rindu yang mendalam. Seandainya saja Emi masih bisa berlama-lama di rumahnya, maka malam ini akan jadi malam yang tak diinginkannya diganti siang. Malam yang menjelma jadi mimpi indah yang ia tak ingin terbangun darinya.


Alfian bangun dan meraih hp nya. Ia lalu membuka aplikasi noveltoon. Ada satu bab yang belum ia selesaikan hingga akhirnya bisa masuk dalam daftar kontrak. Ia merasa inilah akhir ceritanya. Harapan adalah doa dan ia bweharap semoga terkabulkan. Dia akan mengakhiri ceritanya dengan menikahnya dua tokoh utamanya, Mirna dan Sadewa.


Setelah berjalan menyusuri jalanan yang becek mengikuti kemana arah senter di arahkan, akhirnya Emi dan bu Ely sampai di depan sebuah rumah bercat hijau. Seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah pak Marwan terlihat sedang duduk gelisah di teras rumah. Sisa-sisa asap rokok masih terlihat menutupi bola lampu teras. Melihat Emi masuk, ia segera bangun dan mendekat. Bu Marwan segera dipanggilnya.


Melihat Emi , bu Marwan segera berhamburan menyongsong Emi.

__ADS_1


"Astaghfirullah, kemana saja kamu Nak. Ibu sudah menunggumu sejak tadi. Tak biasanya kamu pulang selambat ini. Apa yang terjadi Nak," kata bu Marwan.


"Maaf Bu, nak Emi terlambat pulang gara-gara mengantar anak saya. Anak saya gak bisa jalan. Pincang sebelah Bu," kata bu Ely mencoba menjelaskan bu Marwan.


Pak Marwan dan bu Marwan mengangguk mengerti. Ia segera mengajak keduanya masuk.


"Maaf Pak, Bu, saya pamit pulang saja. Kasihan anak saya sendirian di rumah. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih ya Nak Emi telah membantu anak saya," Kata Bu Ely memohon pamit.


"Aduh Ibu ini, ngopi dulu Bu," kata bu Marwan


Bu Ely tersenyum.


"Lain kali saja Bu. Terimakasih," kata bu Ely setengah membungkuk pamit pada pak Marwan dan bu Marwan.


"Kami juga terimakasih lho Bu telah mengantar anak saya".


"Mari Pak, Bu, nak Emi, saya pamit."


"Hati-hati Bu," kata Emi.


Bu Ely menyalakan kembali senternya dan pergi meninggalkan rumah itu. Ketiganya kemudian masuk ke dalam rumah. Sebenarnya banyak yang ingin ditanyakan bu Marwan dan Pak Marwan seputar terlambatnya Emi malam ini. Tapi Emi beralasan kurang sehat dan ingin menghangatkan tubuhnya di dalam kamar.


Malam mulai beranjak larut. Emi hanya sekali keluar dari kamarnya ketika ibunya memanggilnya untuk makan malam. Seharusnya tadi ia mengambil nomor hp nya Alfian tapi ia lupa. Malam ini ingin rasanya ngobrol semalaman dengan Alfian. Dia hanya sekali jatuh cinta pada seseorang ketika ia baru kelas satu tsanawiyah. Dan yang ia rasakan kini adalah cinta pertamanya yang terulang, bahkan melebihi indahnya masa-masa itu.

__ADS_1


Emi mendesah dan tersenyum. Dia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan malam ini. Ingin rasanya ia keluar dan mengatakan apa yang terjadi pada ayah dan ibunya. Tentang ustadz Alqof dan tentang lelaki pilihannya serta keinginannya untuk segera menikah. Tapi ia anggap itu masih terlalu dini. Ia harus mencari waktu yang tepat sehingga nantinya ayah dan ibunya bisa menerima pilihannya.


__ADS_2