
Sesampainya di rumah, Emi mengambil air wudhu dan langsung mengerjakan shalat zuhur. Doanya kali ini tampak begitu panjang. Dia terlihat sangat khusyu' menengadahkan tangannya ke atas. Doanya hari ini tak lain seputar pembicaraannya tadi dengan pak kiai. Antara menolak dan menerima, keduanya merupakan pilihan yang sulit. Seandainya nanti ia menerima, ia merasa tak pantas masuk dalam keluarga besar kiai. Apalagi calon suami yang di tawarkan kepadanya adalah seorang lulusan Mesir. Tak sebanding dengannya yang hanya seorang anak sopir truk. Kalaupun harus menolak, itu lebih menyulitkannya lagi. Ajaran di pesantren menekankan ketaatan pada sosok guru. Apalagi orang yang memintanya adalah seorang kiai.
Dia belum bercerita sama sekali kepada ayah dan ibunya tentang masalah itu. Dan memang ia berniat, tidak akan memberitahukan keduanya tentang masalah itu. Ia ingin sendiri dulu mempertimbangkan baik dan buruknya. Juga menunggu fatwa dari hatinya.
Setelah selesai berdoa, Emi melipat kembali mukena yang di pakainya.
Sebelum pulang tadi, ia sempat melihat bu ustadzah memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Waktu itu ia hanya meliriknya dari kejauhan. Emi baru mengingatnya. Seperti sebuah amplop berwarna putih. Buru-buru ia bangkit.
Emi segera meraih tas hitamnya di atas meja. Segera diperiksanya ke dalam tas dan benar, ia menemukan sebuah amplop berwarna putih di dalamnya.
__ADS_1
Isinya bukan uang. Sesuatu di dalam amplop itu terasa keras. Emi semakin penasaran dan langsung membuka amplop.
Sebuah photo berukuran lima kali empat ia keluarkan dari dalam amplop. Bersamanya ada lembaran kertas yang dilipat rapi dan ternyata, ada juga lembaran uang yang terselip di dalam lipatan kertas. Setelah menghitungnya, uang itu berjumlah satu juta rupiah.
Emi memperhatikan dengan seksama photo seorang laki-laki tampan, berjenggot tipis dan memakai jubah berwarna hijau di tangannya. Sangat tampan. Gadis-gadis yang akan melihat photo itu, pasti akan iri kalau mereka tahu Emi yang akan ditunangkan dengannya. Benar -benar laki-laki sempurna. Mulai dari penampilan, wajah, apalagi pengetahuan agamanya. Sudah pasti, jangan ditanya lagi. Tapi aneh, ia merasakan biasa-biasa saja. Bahkan terkesan tidak tertarik sama sekali. Hatinya seperti menolak, bahkan terasa seperti berusaha mengalahkan ketaatan yang membelenggu hatinya.
Setelah puas memperhatikan photo itu, Emi mengambil kertas yang terlipat di dalam amplop.
"Nak Emi. Ini ibu sertakan photo anak kami sebagai pertimbangan Nak Emi. Kami juga menyertakan nomor watsup anak kami, jika Nak Emi mau menghubunginya suatu hari nanti. Kalian ta'aruf dulu, jika berjodoh, Allah pasti mempertemukan kalian.
__ADS_1
Dan maaf, uang satu juta yang kami sertakan dalam amplop, bukan uang sogok agar Nak Emi menerima permintaan kami. Anggap itu penghargaan kami untuk pengabdian Nak Emi di pesantren. Jangan sampai tidak dipakai atau dikembalikan."
"Subhanallah." Desah Emi ketika selesai membaca surat. ******* panjang yang menyiratkan kebimbangan hatinya. Benar-benar pilihan yang sulit. Ia harus benar-benar memikirkannya secara matang. Ia harus istiharah, meminta pilihan kepada Sang Pencipta.
"Emi, kamu sudah pulang Nak" . Terdengar Bu Marwan mengetuk pintu. "Sudah makan belum. Kalau belum, temani Ayahmu makan." Sambungnya.
Emi membuka pintu.
"Emi sudah makan Bu di pondok. Bilang sama ayah, Emi tidak bisa menemani ayah makan. Emi lelah sekali Bu" Kata Emi sambil berpura-pura menguap.
__ADS_1
"Tutup mulutnya dengan tangan kalau sedang menguap, nanti setan masuk semua. Ya udah kalau mau tidur cepetan. Jangan sampai bangun kesorean." Kata bu Marwan sambil berlalu meninggalkan Emi.
Emi tersenyum sambil mencolek manja punggung ibunya. Setelah menutup pintu kamarnya, Emi langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.