SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
ia seperti melihat photo pemuda tampan dengan ukuran besar di dinding kamarnya


__ADS_3

Bulan sabit terlihat menampakkan diri di ufuk barat setelah sejak siang tadi hujan begitu derasnya mengguyur bumi. Bulan sabit itu seperti sebuah sampan yang sedang berlayar di lautan teduh. Meneduhkan mata dan hati orang yang sedang melihatnya.


Suara kodok dan jangkrik terdengar seperti irama perkusi penghantar malam. Menina bobokan penghuni malam dalam selimut hangatnya.


Bu Marwan membawakan satu piring berisi pisang goreng yang baru saja selesai digorengnya untuk Emi yang sibuk di depan laptopnya.


"jangan terlalu larut tidurnya, besok mau ngajar" kata Bu Marwan sambil meletakkan sepiring pisang goreng di meja dekat Emi. Dia lantas pergi dan duduk di ruang tamu


"Besok libur bu. Makasih pisang gorengnya bu" Kata Emi setengah berteriak begitu sadar ibunya sudah tidak ada di dekatnya.


Emi mendesah. Ia memincingkan matanya dengan harapan matanya tidak terlalu kaku setelah beberapa jam memelototi laptop. Merasa letih, ia lalu mematikan laptop dan bersandar di dinding kamar.


Sudah lama sekali ia tidak membuka aplikasi Noveltoon. Ia merasa rindu membaca salah satu Novelis kesukaannya Lalu LHS dan si buruk rupa. Terakhir yang disebut sepertinya punya gaya bahasa yang sama dengan puisi milik orang misterius yang telah dibacanya.


Emi meraih hp nya dan mulai membuka aplikasi Noveltoon. Notifikasi muncul dan Author pavoritnya kembali menghasilkan karya baru. Paling tidak ia punya sesuatu untuk dibaca pada waktu senggangnya.


Bunyi jam dinding terdengar berdentang. Sudah jam dua belas malam. Tubuh Emi menggeliat letih. Tak terasa sudah lima bab ia menghabiskan membaca novel. Ia merasa mengantuk sekali, tapi ia masih punya satu malam untuk menyelesaikan istiharahnya. Terlebih malam ini adalah malam Jumat. Malam yang merupakan raja malam. malam yang penuh kemuliaan dan pengabulan doa bagi hamba yang memohon. Dia harap Tuhan memberinya petunjuk yang jelas tanpa harus membuatnya lelah menafsirkan.


Emi kemudian bangkit dan melangkah ke kamar mandi. Setelah berwudhu ia segera melaksanakan shalat.


Malam terasa hening. Angin dingin yang berhembus benar-benar memaksa penduduk malam mengheningkan diri di dalam rumah. Bulan sabit yang tadinya sempat terlihat kini sudah menghilang di lingkupi mendung yang mulai menguasai.


Di tempat lain, Alfian sibuk menulis kembali sebuah cerita yang menurutnya sangat menarik sekali. Sebuah cerita yang ia dapatkan saat membuka google.

__ADS_1


Sebuah cerita tentang keutamaan Malam jumat yang di nukil dari Kitab Ushfuriyah. Dimana dalam kitab itu menceritakan tentang dua orang bersaudara penyembah api. Ketika keduanya merasa sudah terlalu menyembah api, mereka sepakat untuk menguji api yang mereka sembah, apakah layak untuk disembah atau tidak. Jika layak disembah, tentu api itu tidak akan membakar orang yang menyembahnya. Tapi kenyataan yang mereka dapatkan, Api itu membakar tangan salah satu dari dua bersaudara itu. Satu diantara mereka memilih Islam dan satunya lagi tetap menyembah api. Satu yang memilih masuk Islam telah mengalami masa sulit bersama keluarganya. Dua hari ia tidak bisa menemukan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Dua hari dua malam itupun mereka jalan dengan perut yang lapar. Hingga pada hari berikutnya, tepatnya hari jumat. Si kepala keluarga memilih menghabiskan waktunya di masjid untuk shalat dan beribadah pada Allah. Dan keajaiban yang terjadi, karung berisi pasir yang ia bawa untuk menghibur istri dan anaknya tiba-tiba berubah jadi gandum. Tidak hanya itu, ada malaikat yang menjelma menjadi seorang pemuda tampan datang membawakannya satu nampan berisi emas untuk doa dan ibadahnya pada hari jumat.


Cerita yang menarik dan berhasil membuat harapannya kembali muncul. Kebetulan malam ini juga adalah malam jumat dan dengan keyakinan yang kuat maka tidak ada yang mustahil untuk dibuat nyata. Gadis berkerudung putih adalah makhluk ciptaan Tuhan, yang perubahan hatinya ada dalam kehendak Tuhan. Kenapa tidak mencoba mengetuk pintu pemberian Tuhan pada malam yang mulia ini? Gumamnya.


Alfian melirik hpnya. Ada notifikasi yang masuk di aplikasi noveltoonnya. Alfian memeriksanya dan terlihat seorang berinisial "Gadis desa" telah me like dan coment di berandanya.


"Ceritanya tak pernah membosankan. Semangat dan terua berkarya buruk rupa. bravo!


Alfian tersenyum. Gadis desa adalah salah satu yang setia membaca novelnya. Dia juga tak pernah memberikan komentar pada setiap karyanya. Tapi akhir-akhir ini ia jarang terlihat online. Baru kali ini.


Alfian mematikan wifi di hpnya. Setelah itu ia bangkit dan dengan berpegang pada dinding rumah, ia melangkah mengambil air wudhu'.


Emi menengadahkan kedua tangannya setelah zikir panjangnya. Ia mendongak penuh pengharapan, menampakkan rasa butuhnya pada pertongan Tuhan.


Ya Allah Tuhan kami. Pertemukanlah hamba dengan orang yang akan menemani hidup hamba mengabdi kepada-Mu. Hamba menunggu kekasih yang Engkau pilih buat hamba, bukan pilihan hamba sendiri ataupun orang lain. Karna jodoh yang Engkau pilih untukku akan jadi yang terbaik buatku, sekalipun di mata makhluk yang lain terlihat tidak baik.


Ya Allah, bukalah segala tabir gelap ini untuk hamba. Perlihatkanlah tanda-tandamu dengan cara yang mudah untuk hamba mengerti. Engkau Maha berkuasa dan Engkau Raja segala Raja. Amin.


Emi menutup doanya dengan mengusap kedua tangannya di wajah. Ia merasakan kedamaian dalam hatinya. Segala resah yang menguasai hatinya seperti menghilang begitu saja.


Iapun dengan perlahan membaringkan tubuhnya. Rasa kantuk mulai mendera. Beberapa kali ia menutup mulutnya dengan tangan ketika ia menguap. Kali ini ia tidak bisa menahan kantuknya dan ia mulai terlelap.


Sementara itu. Di tempat lain. Seperti halnya Emi, Alfian baru saja selesai dengan wirid panjangnya. Diapun merasakan hal yang sama. Hati damai sehingga pikirannya dipenuhi dengan ketenangan.

__ADS_1


Tak ada lagi sesuatu yang serasa menghambat dalam pikirannya. Dia merasa seperti terhubung dengan energi yang terasa sedang mengawasinya dengan senyuman Maha Indah.


Angin di luar rumah terdengar menghempas. Suara pepohonan dan suara tower salah satu jaringan telekomunikasi yang terhempas angin membuat suara menderu yang menakutkan.


Emi bangkit. Beberapa perabotan yang tergantung di dinding ruang tamu terdengar berjatuhan. Tak ada seorangpun yang terdengar di ruang tamu. Ibu dan ayahnya mungkin sudah terlalu lelap sehingga tak mendengar apapun. Suara angin yang menghempas membuat Emi takut. Tumben angin sekencang ini.


Emi memberanikan diri melangkah keluar kamar dan menuju ke ruang tamu. Banyak sekali hiasan di dinding yang sudah berganti tempat di lantai. Angin yang masuk kedalam rumah benar-benar membuat ruangan itu berantakan. Kertas-kertas berserakan di sana sini. Emi kemudian mulai merapikannya dan menaruhnya di tempat yang aman.


Emi terdiam menatap dua buah photo yang tergantung berjejer satu sama lain. Tapi ada yang beda pada salah satu photo itu. Posisinya terbalik dengan kepala menghadap ke bawah. Emi melangkah mendekat ke arah photo. Ia menjulurkan tangannya mencoba untuk membetulkan posisi photo, Tapi tiba-tiba angin menghempas, bahkan lebih keras dari sebelumnya sehingga menyebabkan kedua photo itu terjatuh dari dinding. Buru-buru Emi menyambarnya tapi sayang ia hanya bisa menyelamatkan satu photo saja. Sedangkan photo yang satunya terjatuh dan bingkai kacanya pecah berserakan. Bahkan percikan kacanya melukai jari kaki Emi.


Angin mulai reda. Emi memandang photo yang berhasil di selamatkannya dan membawanya ke kamar. Dia lalu menggantung photo itu di dekat photonya.


"Emi...Emi, Bangun nak sudah azan". Emi melonjak kaget ketika terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya. Dia terdiam beberapa saat menunggu kesadarannya pulih. Tatapan matanya tertuju pada gambarnya yang tergantung di dinding kamarnya. Hanya ada satu photo dan itu adalah photonya sendiri. Emi baru sadar bahwa apa yang terjadi tadi ternyata adalah mimpi.


Emi bangkit dan melangkah ke kamar mandi.


Setelah selesai melaksanakan shalat, Pak Marwan, bu Marwan dan juga Emi duduk santai di ruang tamu sambil menikmati cemilan ringan di depan mereka sambil menonton acara tv. Tapi Emi tidak bisa tenang karna masih memikirkan mimpinya tadi malam. Duduknya sudah tidak nyaman. Diapun pamit kepada kedua orang tuanya dengan alasan menyelesaikan sedikit tugas.


Sesampainya di kamar, Emi langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tatapan matanya melayang. Mencoba mengingat kembali secara runut, dari pertama sampai akhirnya ia terjaga. Benar-benar sempurna. Tak sedikitpun yang terlupakan. Kini fokusnya hanya pada satu photo yang berhasil ia tangkap dalam mimpi. Tentang photo satunya lagi yang terbalik dan jatuh di lantai, ia tak perlu pusing memikirkannya. itu mungkin hikmah kenapa ibu Ustadzah menyelipkan photo itu dalam amplop. Dan ia mulai menafsirkan dengan keyakinan penuh, photo yang jatuh adalah isyarat bahwa petunjuk Tuhan ada pada photo yang berhasil ia selamatkan. Walaupun ia tidak mengenal sosok laki-laki dalam photo yang ia selamatkan, Ia tak mau meminta terlalu banyak atau pusing memikirkan siapa dia. Dia berkeyakinan bahwa suatu hari nanti akan ada tanda atau petunjuk Tuhan untuk menemukannya.


Yang harus ia lakukan saat ini hanyalah menunggu tanpa putus asa dan tenang. Ia yakin suatu hari nanti sosok laki-laki dalam photo di mimpinya, pasti akan menampakkan diri.

__ADS_1


__ADS_2