SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
Emi terperangah melihat photo dalam mimpinya seperti punya kemiripan dengan...


__ADS_3

Pagi ini Emi tak tahu harus kemana. Tak ada kegiatan di pondok karna hari ini adalah hari jumat, hari libur pondok. Walaupun libur, sebelumnya ia selalu pergi ke pondok untuk mengikuti kegiatan jumat bersih santri. Tapi hari ini ia memang berniat tidak akan datang. Selama ustas Mohammad Alqaf masih di pondok, ia merasa lebih baik tidak kesana dulu jika tidak ada jadwal mengajar. Bukannya benci, hanya takut bu ustadzah kembali memanggilnya untuk membahas masalah kemarin, sedangkan ia tak tahu harus menjawab apa.


Oya, Emi baru ingat. Ada baiknya ia pergi ke rumah bu Ely saja. Perempuan seumuran ibunya itu sangat ramah. Dia sangat menikmati sekali pembicaraan dengan perempuan itu. Ada banyak hal yang bisa ia bicarakan dengan bu Ely. Sekalipun perbedaan umur mereka terpaut jauh, tapi bu Ely bisa nyambung ke dalam pembicaraan anak muda sepertinya.


Emi menengok ke dalam rumah. Ia melihat ke arah jam. Sudah jam dua belas kurang lima menit.


Suara Tarhim terdengar dari arah masjid desa, setelah terdengar suara beduk tiga kali sebagai penanda waktu shalat jumat telah tiba. Pak Marwan sudah tidak terlihat di rumah, dia sudah berangkat ke masjid. Sedangkan bu Marwan sudah dari pagi tadi pergi mengunjungi salah satu kerabatnya di desa sebelah. Emi merasa kesepian sendirian di rumah. Ia sudah mantap untuk berkunjung ke rumah bu Ely.


"Hati-hati di jalan Nak. Jangan berjalan terlalu tengah, takut ada mobil. Pelan-pelan saja yang penting selamat sampai masjid," kata bu Ely memberi pesan Alfian yang hendak berangkat menunaikan shalat jumat. Alfian mengangguk. Setelah mencium tangan ibunya, ia pun bergegas menuju masjid.


Bu Ely masih memandangnya dari kejauhan. Sejak kecelakaan yang menimpa Alfian lima tahun yang lalu, ia selalu khawatir jika Alfian bepergian sendiri melewati jalan raya. Ia takut terjadi apa-apa dengan Alfian, apalagi dengan keadaannya seperti sekarang.


Pernah suatu kali ia mengungkapkan kekhawatirannya itu pada Alfian. Bahkan ia pernah ngomong, andaikan ia punya tanah dan uang yang banyak, ia akan memindahkan masjid desa ke tempat yang lebih dekat dari rumahnya agar Alfian tak terlalu bersusah payah jika pergi jumatan. Tapi Alfian selalu menenangkan ibunya, Malaikat akan mencatat setiap langkah kaki seseorang yang melangkah menuju masjid untuk shalat jumat. Semakin jauh masjid yang dituju, maka semakin banyak pula langkah kebaikan yang akan di catat.


Bu Ely membalikkan tubuhnya ketika tubuh Alfian sudah tidak bisa dilihatnya lagi dari kejauhan. Ia pun melangkah ke dalam rumah.


Bu Ely menoleh, baru saja ia menginjakkan kaki di ruang tamu, ia mendengar seseorang mengucapkan salam. Bu Ely begitu kaget ketika melihat Emi tersenyum manis kepadanya.


"Masya Allah anak ibu datang lagi," kata bu Ely dan segera menyambut kedatangan Emi. Dia segera mengajak Emi masuk ke dalam rumah.


"Kali ini gak boleh nolak. Ibu pernah berjanji kalau Nak Emi datang lagi, Ibu harus mengajak Nak Emi masuk dan menemani ibu minum teh," kata bu Ely sambil terus merangkul tubuh Emi masuk ke dalam rumah. Emi hanya tersenyum dan mengikuti saja ketika bu Ely membawanya masuk ke dalam rumah.


"Nah, sekarang Nak Emi duduk dulu. Sebentar ibu buatkan teh dulu ya," kata bu Ely sambil mempersilahkan Emi duduk.


"Gak usah repot-repot Bu, Emi kesini hanya untuk melihat keadaan ibu," kata Emi berusaha menahan bu Ely.


"Gak, Ibu gak repot kok. Ibu malah senang kedatangan Nak Emi. Ibu kesepian di sini, maklum Ibu gak punya anak perempuan," kata bu Ely. Ia pun meninggalkan Emi di ruang tamu dan langsung menuju dapur.


Emi mendesah. Matanya mulai mengawasi seisi ruangan. Ada beberapa photo yang terpajang di lemari kecil di depannya. Itu mungkin photo keluarga bu Ely. Tapi anehnya, untuk ketiga kalinya ia menyambangi bu Ely, ia tidak pernah menemui siapapun di rumah itu selain bu Ely.


Emi bangkit dan melangkah mendekat ke arah photo. Dia mengenal seorang perempuan di dalam photo. Itu bu Ely dengan suami dan anak laki-lakinya yang masih kecil. Tapi ia belum pernah sama sekali melihat suami dan anaknya bu Ely.


"Itu photo keluarga Nak Emi. sudah lama, jadi photonya buram seperti itu," suara bu Ely mengagetkan Emi. Emi tersenyum malu dan kembali melangkah ke tempatnya duduk.

__ADS_1


"Mari diminum dulu tehnya. cicipi juga kue enak buatan ibu," kata bu Ely sambil menyodorkan teh panas ke depan Emi. Emi mengangguk kecil sambil tersenyum.


"Itu almarhum suami ibu dan anak kecil itu adalah anak ibu. Sekarang ia kurang lebih seumuran dengan Nak Emi." Emi menoleh ke arah bu Ely. Perempuan itu seperti tahu apa yang akan ditanyakan Emi terkait photo itu.


"Kalau anak ibu sekarang dimana," tanya Emi


"Ada tapi lagi pergi jumatan." Emi mengangguk.


"Tapi semenjak kecelakaan yang menimpa anak ibu lima tahun lalu, ia tak pernah keluar rumah kecuali ke masjid dan ke rumah temannya di desa sebelah. Ibu juga tidak mau melihatnya keluar rumah, takut terjadi sesuatu. Ibu masih saja trauma dengan kecelakaan itu. ibu juga tidak mau nanti anak ibu bersedih jika anak-anak di luar sana mengolok-oloknya," sambung bu Ely.


"O ya, Anak ibu namanya Ahmad Alfian, umurnya sekarang kurang lebih dua puluh tujuh tahun. Waktu kecelakaan, ia baru saja semester dua. Dia termasuk anak yang periang dan berprestasi, tapi semuanya berubah sejak kecelakaan itu terjadi. Kakinya terpaksa harus diamputasi dan wajahnya rusak parah. Ibu tak punya biaya untuk memperbaiki wajahnya. Sampai sekarang orang yang menabrak anak saya belum juga bisa ditangkap." Emi memeluk tubuh bu Ely saat melihat bu Ely mulai terisak.


"Tapi kami sudah memaafkan orang yang telah menabrak Alfian. Ini memang sudah takdir untuk anak saya," sambung bu Ely terdengar tabah.


Bu Ely tersenyum ke arah Emi. Emi membalas senyum bu Ely. Bu Ely kemudian bangkit dan melangkah ke arah lemari kecil tempat photo dipajang. Ia lalu membuka salah satu pintu lemari dan mengeluarkan sebuah photo berukuran besar dari dalamnya. Ia kemudian kembali ke tempat duduknya.


Bu Emi memperlihatkan photo itu kepada Emi. Seketika tubuh Emi bergetar begitu melihat sosok laki-laki tampan di balik photo. Nafas Emi tertahan, ia seperti terperangah melihat photo itu. Bahkan ia tidak mendengar ketika bu Ely berulangkali memanggilnya.


"Sejak kecelakaan itu, kami sepakat tidak lagi mengeluarkan photo ini. Ibu takut Alfian menjadi sedih setiap kali melihatnya," kata bu Ely membuyarkan lamunan Emi.


"Kamu tidak apa-apa Nak," kata bu Ely sambil terus mengusap punggung Emi. Emi masih terlihat seperti hampa. Bu Ely dibuatnya panik. Beberapa kali bu Ely mencoba menyadarkannya. Merasa sikapnya membuat khawatir bu Ely, Emi segera tersadar.


" Maaf Bu sepertinya penyakit Migrain saya kambuh. Emi harus segera pulang dan minum obat," kata Emi. Ia terpaksa harus berbohong pada bu Ely untuk menyembunyikan yang sedang terjadi pada dirinya.


"Kalau begitu katakan pada ibu apa nama obatnya, biar ibu carikan di toko sebelah."


Emi menahan tangan bu Ely.


"Gak usah Bu, itu obatnya khusus dari dokter. Saya pamit saja dulu ya bu, dan saya minta maaf karna saya tidak bisa menemani ibu lebih lama lagi. Saya janji lain kali saya akan datang ke sini lagi," kata Emi sambil menggenggam tangan bu Ely.


Emi bangun diikuti bu Ely.


"Kalau begitu biar ibu antar nak Emi pulang. Ibu takut nanti terjadi sesuatu sama nak Emi," kata bu Ely dengan nada cemas sambil mengantar Emi ke luar rumah.

__ADS_1


Sekali lagi Emi menggelengkan kepala. Ia berusaha meyakinkan bu Ely bahwa ia baik-baik saja. Bu Ely pun tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengantar Emi sampai di depan rumah. Ia terus mengiringi tubuh Emi dengan tatapan cemasnya hingga tubuh Emi tak terlihat lagi. Bu Ely kembali masuk kedalam rumah. Ia menatap segelas teh yang tidak sempat diminum Emi. Dia terdiam dan masih mencemaskan keadaan Emi.


Beberapa laki-laki terlihat baru selesai melaksanakan shalat jumat. Suara motor terdengar di luar rumah. Bu Ely menengok dan dilihatnya Alfian turun dari sepeda motor.


"Enggak mampir dulu Pak Haji" sapa bu Ely kepada laki-laki berpeci putih yang mengantar Alfian.


"Gak usah bu Ely, saya buru-buru mau kesawah."


"Oh ya, terimakasih telah mengantar Alfian Pak Haji," kata bu Emi. Laki-laki itu hanya mengangguk. Setelah itu sepeda motornya melaju pelan meninggalkan Alfian yang masih berdiri di depan rumahnya.


Alfian berhenti di ruang tamu. Dilihatnya dua buah gelas dan sepiring kue di atas meja. Rupanya ibunya baru saja menerima tamu, atau mungkin ada pria lain yang datang ngapelin ibunya.


Alfian tersenyum ketika mencoba menebak siapa gerangan tamu ibunya.


"Bu, kok ada minuman di atas meja. Apa tadi ada tamu," tanya Alfian.


"Oh itu, tadi nak Emi yang datang. Lama sekali ibu ngobrol bersamanya. Tapi tiba-tiba penyakit migrainnya kambuh."


"Sakit? terus bagaimana keadaannya sekarang Bu," . kata Alfian begitu kaget sambil mendekat ke arah ibunya. Alfian tak sadar dan tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Bu Ely yang melihat tingkah Alfian menjadi keheranan.


"Memangnya kamu kenal sama nak Emi. Kok kamu cemas begitu," kata bu Ely menatap wajah Alfian.


"Emh..., gak sih, Alfian kan kenalnya dari ibu. Lagi pula dia sudah baik karna telah membawakan kita cumi kering," kata Alfian .


"Tadi ibu menyuruhnya istirahat dulu di sini sambil menunggu ibu membelikannya obat, tapi katanya obatnya khusus resep dokter,"


"Memangnya ada urusan apa dia kesini Bu," tanya Alfian penasaran.


"Cuma mau ngobrol sama ibu. Anaknya baik sekali, ibu jadi pingin dia kesini terus menemani ibu."


Alfian terdiam. Pantesan tadi di masjid ia merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Sulit juga diungkapkan. Seperti orang yang telah mendapatkan sesuatu yang lama diidam-idamkan. Dia juga heran tiba-tiba pingin cepat-cepat pulang dari masjid, tapi sayang, terlalu ramai orang yang keluar lewat gerbang masjid sehingga ia harus menunggu masjid benar-benar sepi. Andaikan ia bisa cepat pulang, tentu ia bisa menjumpai Emi walaupun harus melihatnya di balik jendela, atau hanya sekedar mendengar suaranya.


Ah, dia tiba-tiba merasakan rindu dengan gadis itu. Ia harus menunggu sampai esok agar bisa melihat gadis itu. Dan untuk menunggu esok hari, waktunya akan terasa sangat lama.

__ADS_1


Alfian menyandarkan tubuhnya. Ia merasa harus istirahat siang ini. Tubuhnya terasa letih sekali. Perlahan ia meluruskan kakinya dan tak terasa ia sudah mulai lelap dalam tidurnya.


__ADS_2