SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
Emi bahagia sekali ketika Mohammad Alqof mengajaknya untuk...


__ADS_3

Bulan sabit menampakkan diri lagi di ufuk barat sesudah Maghrib. Cuaca malam ini agak cerah. Awan hitam yang terlihat hanya sekedar lewat saja di permukaan rembulan. Selebihnya bulan sabit seperti sampan nelayan yang terus mengarungi samudra luas.


Beberapa kali terdengar suara bersin dari dalam kamar Alfian. Sejak pulang dari Bangunan tua, Alfian sudah merasa badannya mulai meriang. Tapi sebelum berangkat pulang siang tadi, ia menyempatkan dirinya memetik beberapa tunas daun mimba. Ia sudah menyadari perubahan tidak enak pada badannya.


Gelas berisi air perasan daun mimba itu sudah dihabiskannya. Ia bertekad harus secepatnya sehat dan bisa beraktifitas seperti biasanya. Dan kini Ia membaringkan tubuhnya. Beberapa kali ia membuka aplikasi noveltoon di HP nya, menulis sebentar lalu menutupnya kembali.


Sementara di tempat lain. Di sebuah rumah kecil bercat hijau, nampak pak Marwan, bu Marwan dan Emi sedang terlibat perbincangan serius.


"Ayah dan ibu hanya ingin tahu bagaimana tanggapanmu tentang kedatangan pak kiai tadi siang," kata pak Marwan.


"Langsung saja Yah. Maksud ayah kamu, kamu mau enggak nikah sama anaknya pak kiai," sela bu Marwan tak sabaran. Emi hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak pak Marwan.


" Ya pelan-pelan dulu Bu, mau langsung to the point saja," kata pak Marwan sambil mengelus kepala Emi. "Tapi ya intinya kurang lebih seperti yang dikatakan ibumu," sambung pak Marwan melirik ke arah bu Marwan. Bu Marwan memiringkan bibirnya.


Emi memperbaiki posisi duduknya dan memegang kedua tangan orang tuanya.


"Ayah, Ibu, Siapa gadis yang tidak tertarik pada ustads Mohammad Alqof. Orangnya ganteng, ilmu agamanya luas, anak kiai lagi. Tapi menurut Emi belum tentu yang baik itu baik untuk Emi. Emi lebih setuju dengan pendapat pak kiai, berikan kami waktu dulu untuk saling mengenal satu sama lain tanpa harus mengangguk setuju atau menggeleng menolak terlebih dahulu," kata Emi memberikan penjelasan panjang lebar.


"Emi bukan gadis seperti gadis lainnya. Emi sudah jadi gadis dewasa yang sudah tidak lagi tertarik pada kegantengan dan fisik semata. Andaikan Ayah dan Ibu tidak pernah menekankan ilmu agama sejak kecil kepada Emi, mungkin saja Emi tak akan jadi seribet ini dalam memilih jodoh. Ayah dan Ibu juga selalu menyuruh Emi Istikharah meminta petunjuk Allah. Emi juga harus meminta fatwa pada hati Emi. Yang terbetik kuat dalam hati Emi, itulah yang akan jadi pedoman Emi." Bu Marwan dan pak Marwan sesekali saling lirik begitu menyadari begitu lamanya mereka terdiam mendengarkan Emi bicara.

__ADS_1


Pak Marwan meraih kepala Emi dan mencium keningnya.


"Ya udah, kami percaya pada pilihanmu. Siapapun dia nanti, kami yakin itu yang terbaik untuk Emi."


Emi tersenyum. Kini gantian bu Emi yang mencium kening Emi.


"Nah kalau begitu, sekarang kamu ke dapur dulu . Siapkan makanan untuk makan malam kita nanti setelah shalat isya," kata bu Marwan sambil mengarahkan remote di tangannya ke arah tv.


Emi pun segera bangkit dan mulai mengerjakan sesuai perintah ibunya.


Malam semakin beranjak larut. Langit masih terlihat cerah. Angin malam bertiup semilir mengiringi irama malam dari para melata yang bernyanyi riang.


"Assalamualaikum wr wb. Maaf saya mengganggu malam-malam. Saya Moh. Alqof anaknya kiai Rozak".


Emi mendesah. Setelah untuk beberapa saat berfikir, ia mulai menulis balasan.


"Waalaikum salam, tidak apa-apa Ustadz." Lama juga ia memikirkan balasan untuk Mohammad Alqof, tapi mentoknya sampai di situ. Untuk beberapa lama menunggu, HP nya kembali berbunyi.


"Sebenarnya banyak yang ingin saya bicarakan dengan kamu. Pembicaraan yang tak cukup jika lewat sms maupun telpon. jika kamu ada waktu, saya ingin bertemu sekali saja."

__ADS_1


Emi mendesah. Selama ini ia tidak pernah sama sekali bertemu dan berbicara berduaan dengan seorang cowok. Dia belum bisa memikirkan pertemuan yang seperti apa yang dimaksud Mohammad Alqof. Bersama keluarga besarnya atau berdua saja. Dua-duanya berat.


"Pertemuan yang bagaimana Ustadz," balas Emi.


"Datanglah ke pondok, ajak teman dekatmu. Nanti ustadzah Juwariyah yang akan menunjukkan tempat. Insya Allah aman dan berjarak."


Baru saja Emi mengarahkan kedua jempolnya untuk mengetik, sms berikutnya masuk.


"Datanglah karna ini menyangkut hidup kita berdua nanti."


"Insya Allah Ustads," jawab Emi singkat.


Emi menoleh ke arah jam dinding yang detak jarumnya terdengar berdetak sepanjang waktu, yang terkadang mengingatkannya untuk menoleh ke arah jam.


Sampai jam segini dia masih belum merasa mengantuk. Sudah hampir jam satu malam.


Emi merapikan beberapa diktat untuk bahan mengajarnya besok di Pesantren. Setelah mematikan laptop, ia membaringkan tubuhnya, berusaha membuat rilek tubuhnya yang penat.


Dia ingin melupakan sejenak cerita-cerita lain tentang dunia yang berhari hari membuatnya bingung dan menangis. Dia hanya ingin fokus memikirkan satu wajah dalam photo, di dalam mimpinya. Sosok yang ia sudah tahu kemana harus mencarinya. Petunjuknya sudah jelas. Dia laki-laki pemilik sajak yang indah. Dia adalah anak perempuan ramah bernama bu Ely. Perempuan baik yang telah menemukan buku catatan, yang merupakan cikal bakal menemukan jejak petunjuk Tuhan. Seperti apa rupanya kini ia tidak peduli. Dunia ini adalah persinggahan sementara. Ada kehidupan setelahnya yang lebih abadi, yang lebih indah dan panjang. Tak ada yang meragukannya bahwa pilihan Tuhanlah yang terbaik sekalipun seluruh penghuni dunia mencemoohnya. Dia hanya akan menunggu dengan sabar sampai akhirnya Tuhan memberikannya isyarat lain.

__ADS_1


Malam semakin larut. Pikiran tenangnya membawa jauh terbawa mimpi.


__ADS_2