SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
Emi memberanikan dirinya masuk lewat bagian samping bangunan tua dan menemukan..


__ADS_3

Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya di sela-sela mendung yang perlahan berkumpul memenuhi langit. Angin bertiup semilir membawa penduduk pagi memulai aktifitas masing-masing.


Dengan setengah bergegas, Emi melangkahkan kakinya menyusuri jalanan, mendahului anak-anak sekolah di depannya.


Di depan bangunan tua ia kembali berhenti. Kali ini ia memilih berdiri di balik sebuah pohon mimba yang tumbuh di tepi jalan. Dia menatap dengan awas ke arah jendela di tingkat atas bangunan tua. Tingkat atas bangunan tua tampak sepi. Tak ada terdengar suara apapun dari atas sana. Emi mengarahkan pandangannya ke sekeliling bangunan yang penuh dengan semak-semak dan tanaman liar. Nafasnya tertahan dan degup jantungnya berdetak kencang.


Dia mulai penasaran. Dia tak menemukan jalan masuk ke dalam bangunan, semua tertutup oleh semak-semak. Tapi karna ia yakin jika sosok yang ia lihat beberapa hari lalu adalah sosok seorang manusia, maka ia yakin pasti ada jalan masuk menuju bangunan.


Setelah memastikan tak ada seorangpun di sekitarnya, Emi melangkah ke samping bangunan. Beberapa kali ia harus berjibaku menyingkirkan ranting-ranting tanaman merambat dan berduri di sekitarnya.


Emi menghentikan langkahnya. Keningnya mengerut. Ada sebuah jalan yang berbentuk lorong yang ia temukan di depannya. Sebuah lorong yang hanya bisa di lalui dengan merunduk. Ia bisa melihat keadaan di ujung lorong yang bersih. Ia juga bisa melihat pintu belakang bangunan tua.


Bunyi hp terdengar dari dalam tas. Buru-buru Emi mengambilnya lalu segera mematikannya. Itu pasti panggilan dari Nurhalimah yang mungkin sedang menunggunya di pondok. Emi memasukkan kembali HP nya. Kali ini ia begitu berhati-hati melangkahkan kakinya. Dan begitu ia keluar dari area bangunan, Ia segera bergegas meninggakan bangunan tua itu.


Suara penopang kayu yang beradu dengan bebatuan di jalan terdengar sesekali memecah hening jalan. Alfian, untuk beberapa saat menghentikan langkahnya ketika sudah tiba di depan jalan masuk bangunan tua. Ia merasa ada yang berubah dari tanaman liar yang menghalangi jalan masuk. Arahnya terlihat tidak beraturan. Begitu juga dengan ranting-ranting kering yang ia buat sebagai pijakan agar kakinya tidak tertusuk duri. Itu bukan bekas pijakan kakinya. Terlalu berantakan. Alfian hafal betul ranting demi ranting di depannya karna ia selalu merapikannya ketika hendak pulang. "Adakah orang lain yang datang ke tempat itu? ataukah hanya bekas hembusan angin." Pikirnya.


Setelah menoleh ke sekelilingnya, Alfian memutuskan masuk dan dengan perlahan merunduk menyusuri lorong-lorong semak.


"Kamu kemana saja sih, di telpon kok dimatikan," kata Nurhalimah begitu melihat Emi muncul di depannya. Emi tersenyum sambil mengusap keringat yang menempel di keningnya.


"Maaf tadi takut terlambat makanya gak sempat menghubungimu lagi. Lho kamu kok gak masuk kelas," kata Emi ketika melihat ruang kelas tempat Nurhalimah sudah penuh berisi santri.


" Ya itu, aku nunggu diktatku," kata Nurhalimah sambil memberi isyarat agar Emi mengeluarkannya dari dalam tas. Emi mengeluarkan sebuah diktat dan memberikannya pada Nurhalimah.


"Dari tadi santrimu yang laki-laki gak berhenti nanya. ustadzah Nur, mana ustadzah cantiknya," kata Nurhalimah sambil memperagakan sebuah gerakan yang membuat Emi tertawa.


"O ya Nur, nanti kalau pelajaran sudah selesai, temani aku ya," kata Emi. Emi yang tubuhnya sudah berbalik terpaksa menghadap kembali ke arah Emi.


"Kemana?"

__ADS_1


"Nanti saya ceritakan. Kita masuk dulu, kasihan anak-anak sudah lama menunggu," kata Emi. Keduanya pun langsung masuk ke kelas masing-masing.


Terdengar lantunan ayat-ayat suci Alqur'an mengalun lembut saat Emi memperdengarkan suaranya di depan para santri. Suaranya yang serak dan khas sesekali terbawa angin ke telinga Mohammad Alqof yang berdiri di teras atas rumah bertingkatnya. Alunannya lembut dan menenangkan hatinya. Tasbih warna hitam berputar perlahan di tangan kanannya.


Setelah satu jam setengah lamanya memberikan latihan, Emi menyuruh para santri untuk berdoa. Dia tetap di dalam kelas ketika para santri membubarkan diri. Di ruangan sebelah, Nurhalimah masih terdengar mengajar.


Emi meraih HP dari dalam tas. Belum ada sms yang masuk. Dia masih bingung siapa yang akan menghubungi terlebih dahulu. Ustadz Mohammad Alqof sama sekali tidak memberitahukannya mengenai waktu pertemuan.


Emi bangkit dan segera berjalan ke arah pintu kelas ketika terdengar santri di kelas sebelah berdoa. Emi melambaikan tangannya ketika melihat Nurhalimah keluar dari kelasnya. Emi lalu mengajaknya masuk.


"Apa kita gak minum-minum dulu di kantin," kata Nurhalimah sambil menarik salah satu kursi di belakangnya. Emi meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kita di sini saja dulu," jawab Emi.


"Memangnya kita mau kemana, Tumben mau ditemani, biasanya langsung saja nyelonong pulang," tanya Nurhalimah. Emi tersenyum dan menghela nafas panjang.


Nurhalimah lebih mendekat ke arah Emi. Tampak sekali ada sesuatu yang serius yang hendak disampaikan Emi. Nurhalimah menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia siap mendengar cerita Emi.


Emi mengambil HP nya dan memperlihat sebuah sms kepada Nurhalimah. Nurhalimah memajukan wajahnya dan mengambil HP dari tangan Emi. Nurhalimah mengernyitkan dahinya dan menatap Emi.


"Serius ini Em. Ini benar dari ustadz Alqof," kata Nurhalimah penasaran. Sekali lagi Emi mengangguk.


"Sejak kapan Em. Perasaan ustadz Alqof baru tiga hari pulang dari Mesir. Dimana ceritanya dia bisa kenal kamu,"


"Itulah yang ingin Aku ceritakan pada Kamu," Emi memperbaiki posisi duduknya.


"Itu dimulai sejak aku dipanggil ke rumah pak kiai".


"Ow itu," Nurhalimah menyela penasaran.

__ADS_1


"Sepertinya ustazah Juwariyah yang menceritakan tentangku pada pak kiai. Entah apa yang membuat pak kiai tertarik kepadaku sehingga mau menjodohkanku dengan ustads Mohammad Alqof. Jujur Aku merasa tidak pantas," kata Emi memandang kepada Nurhalimah yang serius menatap wajahnya.


"Akupun kalau punya anak laki-laki akan memintamu menikah dengannya. Serius Em, kamu ini wanita yang langka di jaman sekarang. Baik, cantik, sholehah lagi," kata Nurhalimah serius.


"Ah kamu becanda terus." Emi mencolek dagu Nurhalimah.


"Aku serius Em. Aku sendiri banyak mengambil contoh dari kamu. Aku bangga punya sahabat yang penuh teladan sepertimu. Terus apa jawabanmu sama pak kiai."


"Pak kiai memberiku waktu untuk berfikir. Kemarin setelah shalat jumat, pak kiai datang bersama ustads Alqof ke rumah, tapi hanya sekedar untuk mempertemukanku dengan ustads Alqof. Mereka orang baik dan bijak. Mereka masih menyerahkan urusan perjodohan kami kepada kami berdua. Dan hari ini ustads Alqof mengajakku untuk bertemu. Katanya Dia ingin berbicara banyak tentang hubungan kami. Itu sebabnya aku mengajakmu menemaniku. Ustads Alqof sendiri yang menyuruhku membawa teman." Emi bercerita panjang lebar.


Nurhalimah masih terdiam memandang sahabatnya. Ia nampak tersenyum menatap Emi.


"Kamu beruntung sekali Em. Tapi ngomong-ngomong, aku ingin sekali mendengar pendapatmu," sambung Nurhalimah bersemangat.


Emi memegang tangan Nurhalimah.


"Entahlah Nur. Aku masih belum yakin. Aku tidak menginginkan ustads Alqof."


"Maksudmu? Kamu akan menolaknya?" kata Nurhalimah tak percaya. Emi mengangguk.


"Kenapa Em. Kenapa kamu menolak berlian yang berkilau. Ataukah ada berlian yang lebih berkilau yang sedang kamu tunggu?"


"Agama menyuruh kita untuk shalat istikharah, meminta petunjuk dari Allah. Pilihan Allah lah yang terbaik walaupun di mata manusia itu buruk."


Emi menghentikan pembicaraannya ketika hp nya berbunyi. Dia membuka hp nya dan membaca sebuah pesan singkat.


"Tunggu Aku di ruang kelasmu, sebentar lagi Aku jemput."


Setelah membacanya, Emi memperlihatkannya kepada Nurhalimah. Tak berapa lama kemudian, Mobil Panther warna silver berhenti di depan kelas. Terlihat ustads Alqof tersenyum dan mempersilahkan Emi dan Nurhalimah masuk.

__ADS_1


__ADS_2