
Suara Azan subuh terdengar mengalun lembut dari masjid desa. Suaranya yang mengalun merdu memaksa Alfian tetap mempertahankan matanya tetap terjaga.
Alfian menguap keras beberapa kali. Digelarnya kembali sajadah di depannya. Semalaman ia tidak tidur. Masih memikirkan esok ketika memutuskan ikut kursus komputer di pondok pesantren di desa sebelah. Ada perasaan takut dan malu yang mengganggu tidurnya semalam. Perasaan yang membuatnya bimbang sehingga hampir-hampir memaksanya membatalkan niatnya.
Di tempat lain, Emi sudah dari jam tiga tadi terjaga dari tidurnya. Sambil menunggu Azan subuh selesai berkumandang, Ia membaca kembali puisi yang ditemukannya di dekat bangunan tua.
Entah, antara penasaran ataukah kata-kata dalam puisi itu yang menarik, ia belum bisa memastikannya. Sempat juga ia berfikir bahwa mungkin saja puisi tersebut adalah sampah yang terbawa oleh angin dan kebetulan ia yang menemukannya. Tapi kata peruntukan untuk gadis berkerudung putih itu yang membuatnya berfikir tentang adanya kaitan dengan dirinya.
Dia bukan tipe gadis yang mudah tertarik pada hal yang tidak jelas. Jika tidak jelas dan tidak nyata, ia merasa itu bukanlah hal yang penting untuk dipikirkannya. Tapi ia merasa aneh sendiri. Semakin ia menganggap puisi itu sampah yang terhempas angin, semakin sering ia membacanya. Ia yakin puisi itu bukan sembarang puisi. Puisi itu ditulis dengan sepenuh hati dan ketulusan si empunya, sehingga ia yang membacanya ikut larut masuk ke dalam bait demi baitnya. Ikut larut dalam puji indah pemiliknya.
Atau bisa jadi, ditemukannya puisi itu bukanlah sebuah kebetulan. Bisa jadi itu cara Tuhan memberikannya jawaban atas doa dan istiharahnya setiap malam. Tapi jika benar, dimanakah ia bisa menemukan pemilik puisi itu?
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalanya. Hingga lamunannya terbuyar oleh suara ketukan dari pintu kamarnya.
"Emi, ayo jamaah Nak, ayah sudah menunggu," terdengar suara bu Marwan dari luar. Mendengar itu, Emi segera bergegas keluar. Mereka bertigapun dengan khusyu' mulai melaksanakan shalat berjamaah subuh.
__ADS_1
Pagi telah menyingsing. Suara kicau burung gereja di pepohonan terdengar ramai menyambut pagi. Di jalan, terlihat para petani beriringan menuju sawah. Demikian juga dengan anak-anak sekolah yang riang memenuhi sisi jalan.
Alfian masih duduk di kursi teras rumahnya. Di belakangnya, bu Ely bersandar dekat pintu memperhatikannya. Dia belum mendapatkan jawaban dari Alfian, kenapa tiba-tiba ia memutuskan tidak jadi ikut kursus. Dia hanya bilang masih capek karna semalaman tidak tidur karna menyelesaikan tulisannya.
"Kalau memang kita gak jadi pergi, ibu mau ke pasar. Sayur-sayur harus segera ibu bawa ke pasar, nanti keburu layu," kata bu Ely membangunkan Alfian dari diam panjangnya.
Alfian menoleh.
"Ibu pergi saja. Alfian juga mau pergi ke rumah si Basir. Alfian belajar komputernya di sana saja bu," jawab Alfian.
"Ya sudah, tapi ingat gak boleh pulang malam kayak kemarin." Bu Ely kemudian memasukkan sayur-sayur yang menumpuk di teras rumah ke dalam karung. Setelah itu ia berangkat pergi.
Alfian bangkit dan dengan mantap melangkah menyusuri jalan. Sesampainya di depan bangunan tua, seperti biasa ia menoleh kesana kemari, memastikan tak ada orang yang melihatnya. Ada jalan Khusus di bagian belakang bangunan tua yang sering ia gunakan untuk masuk. Dia sendiri yang bersusah payah membersihkan semak-semak yang tumbuh liar. Membuatnya seperti lorong persembuyian yang sulit ditemukan. Setelah memastikan sekitarnya aman, Alfian bergegas masuk.
Sesampainya di atas tingkat, Alfian tersenyum. Ia merasa damai ketika melihat batu-batu kecil yang masih menumpuk. Catatan-catatan tangannya dengan arang kayu di dinding ruangan terlihat seperti menyambutnya. Ini memang rumah keduanya. Rumah yang gemanya selalu mengikuti ketika ia meratap. Rumah yang gemanya mengamini setiap doanya.
__ADS_1
Alfian berjalan pelan ke dekat jendela. Tempat di mana ia bisa duduk dan mengamati suasana di bawah tingkat. Sobekan karung yang melambai-lambai tertiup angin diikatnya.
Dua hari sudah ia tidak datang kesana. Walaupun gadis berkerudung putih sudah dua kali datang ke rumahnya tapi ia tidak bisa melihatnya seleluasa di atas bangunan tua. Wajah ovalnya, bulu matanya, matanya yang indah, alisnya, sorot matanya yang teduh, jilbabnya yang putih, caranya berjalan dan hal-hal kecil dari diri gadis berkerudung putih bisa ia saksikan dari atas.
Dua hari meninggalkan bangunan tua membuat pikirannya buntu dan kosong inspirasi. Dan kini ia merasa kembali terisi.
Alfian menatap ke arah dimana gadis berkerudung putih biasa datang. Puisi yang ia tulis tadi malam sudah dilipatnya rapi dan dimasukkan ke dalam kertas HVS. Tak lupa ia mengikatnya dengan pita berwarna biru yang digunakan Emi mengikat bungkusan cumi kering. Dia berharap pita berwarna biru itu bisa menarik perhatian Emi dan segera mengenalnya.
Alfian memejamkan matanya. Terlihat mulutnya komat-kamit penuh kekhusyuan membaca doa. Setelah itu, dengan masih memejamkan mata, Alfian melemparkannya ke luar jendela.
Alfian melihat keluar, mencoba memeriksa dimana gerangan lembaran puisi itu terjatuh. Alfian tidak bisa melihatnya, mungkin telah jatuh di semak-semak atau ada di balik pagar pembatas bangunan. Alfian membalikkan tubuhnya dan bersandar di dinding.
Alfian masih berdiri menunggu. Ia yakin gadis itu belum lewat. Ia tak mau tatapan matanya teralihkan, takut nanti ada yang terlewatkan.
Nafas Alfian seperti terhenti. Denyut jantungnya berdegup kencang. Sesosok perempuan berkerudung putih terlihat semakin mendekat.
__ADS_1
Alfian menggeser tubuhnya masuk di balik sobekan karung. Gadis itu berhenti. Ia nampak menoleh ke atas. Alfian masih bersandar. Tubuhnya mematung dengan degup jantung yang masih terlihat dari balik bajunya.
Setelah untuk beberapa lama Alfian bersembunyi, ia memutuskan untuk menengok ke arah jendela. Dia sudah tidak menemukan sosok Emi di sana. Gadis itu sudah jauh pergi. Ketika ia mengeluarkan kepalanya dari jendela pun, ia tidak melihat tubuh Emi.