SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
Kali ini Alfian bertekat akan memperlihatkan dirinya pada Emi


__ADS_3

Emi nampak puas di hari pertamanya sebagai pembimbing tilawatil Qur'an di pesantren. Berkali-kali ia mengucap syukur karna buku catatannya berhasil ia temukan. Jujur, ada banyak materi yang masih harus ia lihat di buku catatannya. Maklum hari ini adalah hari pertama mengajarnya. Walaupun yang ia ajar adalah adik kelasnya di kelas tilawah, tapi ia masih merasa canggung.


Untung saja ada bu Ely. Kalau orang lain, mungkin ia tidak akan pernah menemukan buku itu. Dia berjanji, gajian pertamanya nanti, akan ia belikan sesuatu untuk bu Ely.


"Emi," Emi menoleh dan melihat Nurhalimah berjalan ke arahnya.


" Ada apa Nur. Kok kamu berlari seperti itu. Siapa yang ngejar." tanya Emi ketika melihat Nurhalimah tergopoh-gopoh ke arahnya.


Nurhalimah terdiam sejenak sambil mengatur nafasnya.


"Ah kamu, gini, aku barusan dari rumahnya bu ustadzah, bantu beres-beres di dapur. Nah, setelah selesai, aku disuruh panggil kamu. Berhubung aku mau ke pasar, jadi aku tidak bisa nemenin kamu".


Emi mengernyitkan dahinya.


"Lho kok begitu?" kata Emi sembari mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan sampai bu ustadzah lama menunggu," desak Nurhalimah sambil mendorong tubuh Emi.


Emi mendesah. Dia menengok kesana kemari. Tak ada satupun santriwati yang terlihat untuk menemaninya.


"Tapi aku malu jika harus sendiri ke sana. Please, temenin aku dong Nur." Kata Emi setengah memelas.


"Ini penting sekali Emi, maaf sekali aku gak bisa bantu. Aku harus ke pasar ngambil barang dagangan pesanan ibu. Kamu masuk saja sana. Cepat, takut bu ustadzah menunggu lama." Kata Nurhalimah sambil mendorong kembali tubuh Emi. Emi pun dengan muka cemberut terpaksa melangkah pergi.


** *


Seorang perempuan berbadan tambun keluar dari dalam rumah. Melihat Emi masih berdiri di depan rumah, ia datang menghampiri.


"Nak Emi? kok berdiri saja di sana. Ibu kira kamu gak datang. Ibu sudah menunggumu dari tadi."Kata perempuan itu menyapa Emi.


Emi hanya tersenyum. Beberapa kali ia terlihat memperbaiki posisi jilbabnya.

__ADS_1


"Ayo masuk. Sudah ditunggu sama Bapak."


Emi terdiam. Apakah urusannya sebegitu penting sehingga pak kiai juga ikut?" gumamnya. Ia masih saja berdiri, Ia agak ragu untuk masuk.


"Lho, kok masih di sana. Ayo masuk. Jangan malu-malu." Kata perempuan itu membalikkan badannya dan mengajak Emi masuk.


Jantung Emi berdegup kencang ketika melihat di depannya telah duduk seorang laki-laki paruh baya, yang selama ini hanya bisa ia lihat di Kalender. Baru kali ini ia melihat pengasuh pondok pesantren tempatnya menimba ilmu itu secara langsung. Maklum ia hanya santri luar yang hanya mengambil kelas tilawah. Orangnya berwibawa sekali, sampai-sampai seluruh tubuhnya gemetaran.


"Ow ini yang namanya Nak Emi. Bapak sering dengar tentang kamu dari ustadzah Juwariyah" Kata pak kiai memulai pembicaraan. Emi hanya menunduk sambil tersenyum kecil.


"Awalnya saya tidak mengijinkan ustazah Juwariyah mengundurkan diri sebagai pembimbing kelas tilawah. Tapi beliau telah memberi jaminan kepada saya bahwa beliau sudah mempersiapkan pengganti yang bagus untuk meneruskan pelatihan di kelas tilawah." Kata pak kiai menjelaskan. Emi masih tertunduk. Berat rasanya untuk mengangkat kepalanya.


"Dan saya juga berterimakasih, walaupun kamu nyantrinya tidak tinggal di pondok, tapi kamu bersedia mengabdi di pesantren ini." Pak kiai terdiam beberapa saat. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari balik sakunya. Emi memperbaiki posisi duduknya ketika seorang perempuan datang menyuguhkan minuman.


"Ayo diminum dulu. Jangan malu-malu. Kami menganggap semua santri yang menimba ilmu di sini adalah keluarga kami. Jadi jangan sungkan-sungkan." Kata pak kiai seraya mempersilahkan Emi minum. Rokok di tangannya ia sulut. Asap rokok terlihat mengepul dari mulut pak kiai.

__ADS_1


Emi menyeruput minumannya pelan.


__ADS_2