
Emi dan Nurhalimah memilih turun di depan gerbang pesantren. Setelah berpamitan dengan ustadz Mohammad Alqof keduanya melangkah pulang. Sebelum berpisah di persimpangan jalan, Emi membisikkan sesuatu di telinga Nurhalimah.
"Kayaknya ustadz jatuh hati sama kamu. Jangan salahkan saya ya, tadi ustadz meminta nomor dari saya," kata Emi sambil berlari kecil meninggalkan Nurhalimah yang masih berdiri menatapnya . Nurhalimah berlari-lari kecil mengejar Emi yang berusaha menggodanya. Di persimpangan jalan, keduanya berpisah.
Emi berjalan dengan hati-hati menghindari tanah becek di depannya. Hujan telah reda namun gerimis masih terasa turun. Emi terus melangkah dan ketika ia telah mendekati bangunan tua ia berhenti.
Jantung Emi tiba-tiba berdegup kencang. Tiba-tiba saja seperti ada sesuatu yang menarik kakinya untuk lebih mendekat. Ia seperti mendengar sesuatu di atas sana. Seperti suara orang yang sedang batuk.
Emi kemudian melanjutkan langkahnya. Ia bertekad mengikuti kata hatinya untuk masuk ke dalam. Ia sudah mengusir rasa takut di dalam hatinya dan hanya ingin membuktikan bahwa petunjuk Tuhan akan terlihat hari ini.
Emi menyibak tanaman merambat di depannya dan mulai merunduk menyusuri lorong semak di depannya dan berhenti ketika sudah sampai di belakang bangunan. Emi menghela nafas. Ia meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang dibuatnya adalah tepat. Ia yakin orang yang ada di atas sana adalah orang baik dan tidak akan mengganggunya.
Alfian melanjutkan kembali shalatnya setelah menyelinginya dengan pembacaan shalawat. ini adalah shalat hajatnya yang kedua belas rakaat, setelah ini ia akan pulang. Sebentar lagi gelap dan ia tidak ingin ibunya menunggu dengan resah.
Setelah salam, Alfian menengadahkan tangannya dan mulai berdoa.
"Ya Allah, Zat yang memiliki jiwaku. Wahai Zat yang tak pernah mengecewakan hamba-Nya. Aku memohon dengan segala kekurangan dan kehinaanku. Hamba adalah orang yang Engkau uji dengan ketidaksempurnaan ini di dunia, maka jangan Engkau uji lagi hamba kelak di hari kemudian.
Maafkan Hamba jika selama ini terlalu banyak aduan dan rintihan putus asa dari hamba. Hamba butuh waktu untuk menjadi mengerti berbagai hikmah dalam hidup. Hingga pada akhirnya ada banyak hikmah yang bisa hamba ambil pelajaran pada diri hamba.
Ya Allah, hamba menginginkan gadis berkerudung putih sebagai kekasih yang akan menemani hidup hamba, tapi hamba putus asa karna ia terlalu sempurna untuk hamba.
Hambapun tak ingin larut, bukan karna hamba telah menyerah, tapi hamba merasa sudah berusaha semampu hamba dan inilah batas usaha dan kemampuan hamba. Hamba berserah kepada-Mu, wahai Zat tempat menyerahkan diri dan tempat kembali, terimalah segala amal ibadah hamba dan ampuni segala dosa hamba."
Alfian mengakhiri doanya dengan usapan tangan di wajahnya.
Suasana di dalam ruangan semakin gelap. Ada baiknya ia segera pulang sebelum hujan kembali turun.
__ADS_1
Emi masih berdiri mematung di tempatnya ketika melihat seorang laki-laki cacat khusyu' dalam doa panjangnya nan mengharukan. Ini dia pemilik puisi untuk gadis berkerudung putih. Ini dia pemilik photo dalam mimpinya. Ini dia orang yang telah menyuruhnya melangkahkan kakinya untuk mencari persembunyiannya. Hari ini ia akan tuntaskan semuanya. Dia akan melihat wajahnya sekalipun nanti yang ia lihat adalah rupa monster menakutkan. Emi melangkah lebih dekat.
"Assalamualikum."
Alfian menahan nafasnya. Benarkah suara yang ia dengar itu dari arah belakangnya ataukah hanya suara angan-angannya. Suara serak yang terasa lembut terdengar di telinga. Alfian masih belum mau menoleh. Ia masih menunggu benarkah yang ia dengar itu.
Terdenga suara deheman lembut dari arah belakang.
Kali ini Alfiyan menoleh pelan. Betapa terkejutnya ia saat melihat seorang gadis berkerudung putih berdiri di hadapannya. Gadis itu bahkan tersenyum ke arahnya. Mulutnya seketika seperti terkunci. Jantungnya berdetak kencang dan nafasnya seperti terhenti.
Ia bangkit dan kini posisinya sejajar dengan Emi. Ia masih belum percaya namun mulutnya masih terkunci. Ia belum bisa mengatakan apa-apa.
Pada sujudnya yang terakhir, ia sempat berdoa agar dipertemukan dengan wanita berkerudung putih itu. Dan Tuhan telah mengabulkan doanya. Ini terlalu nyata. ini terlalu sempurna buatnya. Wanita berkerudung putih itu kini nyata berdiri di hadapannya. Begitu anggun dan mempesonakan dirinya. Tubuhnya tak bisa lagi menahan getaran jiwanya.
Sejenak keduanya membisu dalam tatapan yang satu sama lain tak mau lepas. Satu mata menampakkan binar-binar syukur yang tak terkira besarnya. Dan mata yang lain menampakkan ketakjuban luar biasa untuk seorang pemuda yang begitu menakjubkan dengan sajak-sajaknya yang jauh membawanya ke puncak imaji.
"Alfian, benarkah kau ini Alfian? Dan benarkah aku gadis berkerudung putih yang kau maksudkan itu? Jika aku benar, syukurku karna pencarianku telah berakhir. Tapi jika aku salah, maka pencarianku akan benar-benar panjang dan membuatku putus asa."
Alfian mengangguk. Air matanya tumpah tak tertahan. Ia terisak-isak dalam tangisnya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa di tempat itu, di lantai atas bangunan tua, Tuhan akhirnya mempertemukannya dengan gadis berkerudung putih.
Gadis yang sejak lama karnanya ia menyembunyikan diri hanya untuk melihatnya. Gadis yang ia maktubkan, entah berapa puluh lembar puisi untuknya. Akhirnya ia menemukan salah satu puisinya dan gadis itupun berhasil menemukannya di sini.
“Telah lama aku mencari seorang pemuda yang bisa menghiasi hari-hariku selama persinggahan dengan tuturnya yang lembut. Pemuda yang bisa menuntunku kepada keshalehan hati dan jiwa. Pemuda yang akan menerbangkanku menuju sebuah istana cinta, dan bersama-sama bisa menyaksikan wajah Pencipta yang agung. Mendekatlah, dan jika kau sudi, pinanglah aku dengan sajakmu dan berikan aku maskawin dengan zikir dan untaian tasbih yang selalu memenuhi ruangan dan dipan tempat kita menyatukan cinta. Dan jaminanku kelak, istana cinta dari Yaqut merah yang akan sama-sama kita tempati di syurga.”
Seperti petir di siang bolong yang memekakkan telinga. Kata-kata paling indah yang membuat Alfiyan tertegun di tempatnya berdiri. Ia terkejut dan tak pernah menyangka akan mendengar kata-kata yang terdengar aneh di telinganya. Aneh karna terucap lebih dahulu dari mulut gadis itu. Aneh karna itu tak pernah disangka-sangkanya. Gadis itu ingin ia mempersuntingnya dengan maskawin yang begitu agung.
Alfiyanpun tersungkur di lantai. Tangisnya kembali berderai dalam sujud syukurnya.
__ADS_1
Emi melangkah lebih dekat ke arah Alfian. Ia lalu memegang tubuh Alfian dan beruaha membantunya bangkit. Emi kemudian meraih tongkat penyangga kaki Alfian dan memberikannya pada Alfian.
"Hari sudah gelap. Ada baiknya kita pulang," kata Emi mengajak Alfian.
Alfian mengusap air matanya. Ia benar-benar merasa bahagia Emi sangat dekat dengannya.
"Pulanglah dulu, Aku takut orang-orang melihat kita," kata Alfian tertunduk.
"Kenapa harus memikirkan orang-orang. Jika mereka tak terima, kenapa tidak menikah saja besok," kata Emi mencoba menguatkan Alfian.
"Aku takut kamu malu dengan keadaanku," Kata Alfian lagi.
"Kenapa aku harus malu. Andaikan aku malu, aku tidak akan di sini selama ini bersamamu. Sudahlah, mari kita turun." Setelah mengatakan itu, Emi kembali memapah Alfian menuruni anak tangga.
Gerimis masih turun ketika Emi dan Alfian sudah sampai di bawah. Alfian menoleh ke arah pintu gerbang. Ia meraih sesuatu di bawah semak-semak. Sebuah parang dikeluarkannya setelah itu ia mulai memotong ranting demi ranting tanaman merambat.
Setelah lorong bersih dan menjadi sebuah jalan setapak yang bisa dilewati, Alfian mempersilahkan Emi untuk berjalan lebih dahulu, tapi Emi menolak. Ia memilih memegang tubuh Alfian dan berjalan bersama sama.
Hujan deras kembali turun menggantikan gerimis yang sedari tadi turun. Emi dan Alfian terus berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan air. Sesekali ketika Alfian terlihat lelah, Emi mengajaknya berhenti sambil menyandarkan kepalanya di pundak Alfian.
Emi sudah tidak merasa canggung ataupun malu lagi kepada Alfian. Ia merasa sudah lebih dulu mengenal Alfian lewat mimpi dan merasakan dekatnya Alfian kemana dan dimanapun Ia berada. Baginya ini bukan pertemuan pertama mereka.
Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Tapi baru beberapa langkah, Alfian menghentikan langkahnya.
"Bukankah itu jalan pulang ke rumahmu?" tanya Alfian sambil menunjuk ke arah jalan samping.
Emi tersenyum,
__ADS_1
"Kita ke rumahmu dulu. Aku juga ingin ketemu ibu. Aku ingin bilang bahwa aku menemukanmu tertidur di jalan," kata Emi mencoba menggoda Alfian. Alfian ikut tersenyum dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.