SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
Seperti disambar petir, Emi begitu kaget mendengar permintaan Pak Kiai


__ADS_3

Perempuan bertubuh tambun, yang juga istri pak Kiai ikut duduk di samping pak Kiai. Di tangannya tiga toples plastik berisi kue kering aneka bentuk. Dia menyodorkannya ke arah Emi. Emi makin penasaran. Ia masih belum mengerti apa maksud Kiai memanggilnya ke rumahnya.


"Bu, sudah disiapkan makanannya?", Jangan kasih Nak Emi pulang dulu. Kita akan makan siang bersama-sama," kata pak Kiai.


Mendengar itu Emi semakin kaget. Ingin rasanya ia menolak, tapi mulutnya seperti di lakban rapat.


"Oya, Nak Emi sekarang umurnya berapa kalau ibu boleh tahu," kata bu ustadzah mencoba mencairkan kekakuan Emi.


"Dua puluh lima tahun Bu," jawab Emi dengan suara parau.


"Pantes, Nak Emi kelihatan sangat dewasa. Wajah Nak Emi juga keibu-ibuan. Ibu bisa tebak, Nak Emi ini ciri perempuan yang sayang sama keluarga."


"Amin Bu." Emi tersenyum kecil. Wajahnya memerah menahan malu.


"Begini Nak Emi." Pak Kiai mematikan puntung rokoknya yang masih mengeluarkan asap di dalam asbak.

__ADS_1


"Kamu tentu bertanya-tanya kenapa kamu Bapak panggil kesini. Begini, bapak mau cerita sedikit saja. Mudah-mudahan kamu tidak akan bosan mendengarnya," kata pak Kiai sambil tersenyum menatap Emi. Emi hanya bisa membalasnya dengan tersenyum.


"Bapak punya seorang anak laki-laki yang sekarang masih kuliah di Mesir. Satu tahun lagi Insya Allah kuliahnya selesai. Dia maunya, setelah selesai kuliah langsung melanjutkan S2 nya di sana. Tapi bapak pribadi ingin dia pulang dan menikah dulu. Oya jadi lupa, nama anak bapak itu Mohammad Alqof. Dia lebih tua 2 tahun dari Nak Emi."


Pak Kiai menghentikan pembicaraannya. Ia kembali menyulut sebatang rokok. Emi mengernyitkan keningnya agak dalam. Sepertinya ia mulai bisa menebak arah pembicaraan pak kiai. Jantungnya semakin berdetak lebih cepat.


"Bapak memang baru pertama kali ini melihat Nak Emi. Selebihnya tentang Nak Emi, kami dapatkan dari cerita ustadzah Juwariyah.


Tapi jujur, walaupun baru kali ini melihat Nak Emi, tapi bapak berprasangka baik, Nak Emi adalah gadis baik. Gadis yang insya Allah punya dasar agama yang kuat. Terbukti Nak Emi sangat tertarik dengan hal-hal yang bersifat agama. Kami hanya ingin anak kami menikah dengan perempuan baik-baik, yang nantinya bisa membantunya membesarkan pesantren ini."


"Bapak rasa, Nak Emi sudah mulai mengerti maksud Bapak memanggilmu ke sini. Tinggal sekarang keputusan ada di tangan Nak Emi. Yang jelas, Bapak secara pribadi sangat menginginkan Nak Emi jadi menantu bapak. Tak perlu di jawab sekarang. Masih banyak waktu, tapi jangan kelamaan ya. Bapak perlu menyampaikan masalah ini kepada anak Bapak." Emi mengangguk pelan. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dari mulut pak kiai. Masalah pernikahan adalah masalah yang tak pernah bahas sama sekali. Walaupun umurnya sekarang telah memasuki usia yang ke dua puluh lima, tapi ia belum punya target untuk menikah. Ia masih ingin menimba ilmu agama untuk menambah pengetahuannya saat ini.


Dan tiba-tiba saja sekarang, ia harus berhadapan dengan seorang pimpinan pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. Tak bisa ia timpali seperti ia menimpali ayah dan ibunya ketika menggodanya terkait pernikahan. Kalaupun harus menolak, dengan cara apa.


Hp di saku baju Emi berdering. Ia diam saja dan belum berani mengangkatnya, hingga pak kiai menyuruhnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum Yah. Emi masih di pondok...," sebelum melanjutkan kata-katanya pak Kiai meminta Emi menyerahkan HP nya.


" Assalamualaikum Pak. Saya ini Pak Abdul Rozak dari pondok pesantren Nurul Iman." Pak Kiai tersenyum memperkenal diri.


Sejenak pak Kiai terdiam menunggu jawaban dari ayah Emi.


"Astaghfirullah, maaf Pak Kiai. Saya kira tadi bukan Pak Kiai. sekali lagi maaf Pak Kiai." Terdengar suara meminta maaf pak Marwan dari seberang sana.


"Saya yang seharusnya minta maaf Pak. Seharusnya nak Emi sudah pulang sejam yang lalu. Tapi ada yang harus dibicarakan sedikit terkait pesantren. Jadi nak Emi nya terpaksa kami tahan dulu." Kiai Rozak memperbaiki posisi duduknya.


"Ow gak apa-apa Pak Kiai. Kalau begitu dilanjutkan Pak Kiai. Assalamualaikum warah matullahi wabarakatuh."


Pak Kiai menyerahkan kembali Hp itu pada Emi. Emi melirik ke arah hpnya. Sambungannya telah terputus. Emi memasukkan kembali Hpnya ke dalam saku.


"Ayo Nak Emi, bantu Ibu mempersiapkan makanan di dapur. Temani kami makan dulu, baru Nak Emi pulang." Emi tak bisa menolak dan langsung mengikuti dengan pelan istri pak Kiai.

__ADS_1


__ADS_2