SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
Mohammad Alqof membawa Emi ke teras Kedai kopi yang sepi...


__ADS_3

Hujan mulai turun ketika mobil yang ditumpangi ustads Mohammad Alqof, Emi dan Nurhalimah melaju di jalan beraspal. Emi dan Nurhalimah hanya terdiam di kursi belakang mobil. Begitu juga dengan Mohammad Alqof. Dengan hujan yang mulai turun deras seperti itu, ia belum memutuskan arah tujuannya saat itu. Awalnya ia akan mengajak keduanya ke salah satu pantai terkenal di tempat itu, tapi sekarang ia harus memutar otak memikirkan tempat lain. Setelah beberapa jam mobil phanter warna silver itu melaju menembus derasnya hujan, akhirnya berhenti di sebuah kedai kopi yang terletak di pinggir pantai.


Mohammad Alqof segera memesan makanan dan minuman untuk ketiganya. Merekapun terlihat mulai menyantap makanan mereka.


Setelah selesai, Mohammad Alqof mengajak Emi menuju teras kedai kopi yang menghadap langsung ke laut lepas. Nurhalimah yang ditinggal mulai sibuk membuka buku novel yang dibawanya. Sesekali melirik ke arah Emi dan Mohammad Alqof yang mulai terlihat mengobrol serius.


Untuk sejenak mereka hanya terdiam. Kata-kata yang sudah dipersiapkan oleh Mohammad Alqof tidak juga kunjung keluar. Tapi begitu melihat Emi terlihat begitu kikuk, Ia memberanikan diri menghadap ke arahnya.


"Sengaja aku membawamu ke sini agar kita lebih leluasa membicarakan masalah yang dibicarakan orang tua kita tentang kita. Ini agar tidak ada yang merasa dirugikan dari kita." Mohammad Alqof membalikkan tubuhnya dan kembali menghadap ke laut.

__ADS_1


"Jika boleh menebak, saat ini kamu sedang merasa tertekan dengan kehadiranku. Aku tahu kamu tidak menginginkan semua ini. Aku tahu aku hanyalah orang baru di kehidupanmu dan tak mungkin mengalahkan orang yang mungkin lebih lama mendiami hatimu. Kamu adalah gadis yang taat, jika kamu berada di hadapan ayahku, tentu kamu akan mengangguk ketika disodorkan pertanyaan apakah kamu mau menikah denganku, walaupun kamu tidak menghendakinya. Itu sebabnya aku membawamu kesini sebelum itu terjadi. Kalau aku sih fine-fine saja jika orang tuaku menjodohkanku dengan siapa saja, karna aku tahu tujuan mereka baik. Tapi aku tidak menginginkan itu untuk calon istriku. Kita harus menikah sesuai dengan keyakinan hati kita dan atas dasar saling mencintai," kata Mohammad Alqof panjang lebar. Emi masih terdiam menundukkan kepala dan mendengarkan dengan seksama kata-kata Mohammad Alqof. Ia harus memasang telinga karna suara hujan yang turun sesekali mengaburkan pendengarannya.


"Bicaralah dan jangan malu untuk berpendapat. Aku lihat kau adalah seorang gadis dewasa yang tentunya bisa berfikir dan mengutarakan pendapatmu. Katakanlah, jangan malu karna ini menyangkut kebahagiaanmu," sambung Mohammad Alqof. Dia masih menunggu Emi berbicara.


Emi mendehem kecil. "Terimakasih atas kebesaran hati Ustadz yang telah mengajakku jauh-jauh kesini untuk membicarakan masalah ini. Terimakasih karna telah peduli dengan kebahagiaanku.


Sebenarnya, bisa saja Ustadz diam di rumah dan menunggu kapan tanggal pernikahan kita, karna seperti yang dikatakan Ustadz, aku tidak akan bisa menolak di hadapan guruku jika memintaku menikah dengan Ustadz. Tapi benar kata Ustadz, jujur aku merasa tersiksa dan terpenjara dengan keadaan ini. Mungkin akulah orang yang paling bodoh karna telah menolak seseorang yang punya segalanya. Punya segala yang diidam-idamkan setiap wanita. Tapi hatiku tidak sama sekali memberiku kemantapan untuk melangkah lebih jauh denganmu. Dan aku mohon maaf atas kelancanganku ini."


"Luar biasa. Sekarang ini aku sudah merasa lega mendengar jawabanmu. Demikian juga harapanku semoga setelah ini kamu akhirnya merasa bebas kembali."

__ADS_1


"Tapi bagaimana nanti jika pak kiai memanggilku lagi dan menanyaiku lagi masalah ini."


Mohammad Alqof tersenyum.


"Kamu tenang saja. Aku yang akan menghadap dan menolak perjodohan ini. Kamu tenang saja dan nikmati kembali hidupmu. Cetakkan kami santri-santri pecinta Alqur'an."


Emi tersenyum. Ia merasa plong dengan jawaban Mohammad Alqof.


Pembicaraan mereka berlanjut saat kembali duduk bersama Nurhalimah. Suasana yang tadinya kaku berubah menjadi sangat cair. Mereka tidak lagi sungkan kepada Mohammad Alqof. Beberapa kali ketiganya terlihat tertawa ketika ada joke-joke yang dikeluarkan oleh Mohammad Alqof.

__ADS_1


Dan sebelum azan ashar berkumandang, ketiganya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


__ADS_2