
Mamanya pun mulai geram,dia ingin langsung bertanya pada suaminya,namun langkahnya terhenti saat melihat sang suami memeluk erat sang anak dan memberikan lambaian tangan padanya.seakan mengerti maksud dari sang suami,lalu pergi menarik tangan niko menjauh dari kamar nadira.
..."sayang... kau percaya papa kan"...
"sangat pa.."semakin mengeratkan pelukkannya
"apapun nanti yang akan putuskan,kau akan siap menerimanya kan?" anggukan nadira sudah menjadi bukti bahwa dia sangat percaya pada papanya.
"katakan pada papa,jangan hanya diam dan mengangguk. Karna diammu dan anggukanmu akan menjadi arti yang berbeda buat papa"menarik dagu ke atas agar nadira menatapnya.
"aku percaya sama papa,apapun yang papa lakukan pasti yang terbaik buatku"
"istirahatlah,papa masih ada urusan"
****
"ma,maafin niko. Niko udah gagal jagain nad"
"sebenarnya apa yang terjadi nik,apa benar adikmu dilecehkan?"
"niko sendiri kurang tau ma,hanya saja saat kita datang kesana nadira tanpa menggunakan busana sehelaipun. tubuhnya hanya tertutup selimut dalam pelukan pria brengsek itu". niko menceritakan apa yang dia lihat saat ini.
__ADS_1
"sayang..."panggil adiguna dari kejauhan turun dari lantai dua setelah nadira tertidur.
"apa" jawaban singkat dari sang istri,membuatnya tau kalau sekarang sang istri sedang mode ngambek. Adiguna berjalan mendekati sang istri yang sedang duduk bersedekap dada di ruang keluarga
"aku ingin pergi mengajakmu ke suatu tempat yang bisa melampiaskan kekesalanmu sekaligus tujuanmu".membelai lembut wajah sang istri.
"kemana" masih dengan suara datarnya
"tujuanmu,ayo bersiaplah.mereka sudah menunggu kita di sana" .
Satu jam sudah berlalu sepasang suami istri itu pun turun dengan baju santai namun terlihat anggun.
Vikri sudah harap-harap cemas,karna tak biasanya sang ayah memanggilnya untuk pulang hanya sekedar acara keluarga. Dia merasa tak beres dengan itu semua.
Kemeja berwarna navy dipadukan dengan celana jeans biru laut,lengan kemejanya digulung sampai siku,rambut yang di beri gel ke atas membuatnya semakin tampan.
Sama halnya yang dirasakan oleh vikri,istri adiguna yang tak lain adalah mama nadira juga merasa heran. Tak biasanya suaminya bisa bersikap tenang tentang apa yang terjadi pada putrinya.
"sempat-sempatnya dia masih ngajak aku jalan" batinnya.
"aku tau apa yang kau pikirkan sayang,kumohon percayalah padaku hari ini" .menggenggam tangan sang istri dengan erat.
__ADS_1
Setelah bergulat dengan pikirannya,tak terasa sudah sampai di kediaman sang ayah. Dia mendudukan diri di ruang keluarga,disana masih terpampang rapi foto mama dan dirinya. Namun ada sedikit tambahan di dalamnya saat foto perempuan itu dan anaknya juga ada di sana.
"malam den".kedatangan vikri di sambut hangat pembantu yang sudah lama bersamanya saat ibunya masih hidup.
"malam bi,ayah sama perempuan itu dimana?"
"tuan ada diruang kerja,nyonya masih di kamar bersiap. Aden mau saya buatkan teh?" tawarnya.
"boleh bi,seperti biasanya ya" bibinya pun mengangguk dan segera pergi ke dapur.
"akhirnya kau datang juga". terlihat vian baru turun dari tangga,tapi seperti biasa vikri tak pernah menghiraukan serta menatappun enggan karena Bagi vikri vian hanya angin lalu seperti ibunya.
Satu persatu dari mereka muncul,setelah vian mendudukan diri di sebrang sofa vikri tak lama sang ayah juga keluar dari ruang kerjanya termasuk juga ibu vian yang keluar dari kamarnya.
Sang bibi hadir di tengah-tengah keluarga membawa secangkir teh permintaan vikri. Teh tarik yang menjadi favorit vikri sejak dulu.
"ini den tehnya,silakan di minum" ia pun segera pamit pergi dari tengah-tengah keluarga itu.
Baru sejenak beranjak,suara bel berbunyi. Bibi yang ada didekat sana pun langsung membukakan pintu.
..."maaf,kami datang terlambat"...
__ADS_1