
Ica awalnya enggan menyusul sang sahabat yang akan berkutat dengan banyaknya buku di perpustakan,akhirnya mau tak mau mengikuti nadira ke perpus daripada dilanda rasa penasaran pikirnya.
Nadira sudah mengambil beberapa buku materi memilih duduk dipojokan perpus,karena selain dekat dengan cendela,udaranya pun sejuk karena tepat diluar cendela tersebut ada pohon.
"nad,kamu harus jelasin apa maksud kak vikri barusan"ica sudah datang menghampirinya dan duduk begitu saja disamping nadirasambil berbisik pelan.
"maksud apa?"dengan kedua alis yang saling tertarik seolah ingin bersatu.
"itu yang tadi kak vikri bilang,gak usah pake ngeles dech!!!".nadira memang belum mengerti apa yang dimasksud oleh ica,karna memang vikri mengatakannya setelah nadira pergi.
"emang apa yang di bilang kak vikri?"tanya nadira balik,namun suaranya menjadi perhatian teman yang lain bahkan sempat mendapat pelototan guru penjaga perpus karna nadira bertanya tanpa berbisik.
"soal pertunangan kamu" jawab ica ketus.
"apa tunangan". sontak nadira yang mendengarpun langsung tersentak kaget dan berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"kalian kalau mau ngobrol jangan di perpus,bisa dilanjut di kantin atau diluar".guru perpus itu merasa jengah dengan dua orang murid yang dilihatnya sedari tadi mengobrol.
Meras malu,nadira dan ica pun melenggang kangkung pergi keluar.
"kok kamu isa bilang tunangan,aku sendiri aja belum tau sapa calon tunanganku. kak vikri goda kalian mungkin"
"gak,wajahnya serius kok waktu bilang kamu calon tunangannya. orang kita semua juga dengar,kalau gak percaya coba tanya kak vian and the genk nya kak vikri.tuch mumpung mereka masih pada makan di kantin". jari nya sudah menunjuk pada pria yang masih duduk menikmati makanannya di kantin,siapa lagi kalau bukan rico dan andi. sedangkan kan vian sudah pergi entah kemana.
"kamu balik aja gih dikelas,aku mending cari kak vikri dech.mau tanya yang jelas apa maksudnya". ia pun pergi begitu saja neninggalkan ica yang masih berdiri di tempat samping perpus.
"kak...." panggilnya saat melihat vikri dengan badan bersandar di pohon besar.
"kak vikri"panggilnya sekali lagi,namun kali ini dia sudah berada persis duduk di samping badan vikri yang menyandar.
"hm..."jawabnya dengan masih menutup mata.
__ADS_1
"aku mau tanya aja,emang kak vikri tadi ngomong apa sama ica dan kak andi,kak rico?". inilah nadira yang tak mau basa basi,dia langsung to the point pada apa yang menjadi fokusnya.
"ngomong apa emang?"dengan membuka matanya perlahan,menatap wajah cantik yang sedari tadi duduk disampingnya dengan sibuk menata rambutnya yang tertiup angin kesana kemari menutupi wajahnya.
Vikri sebenarnya tau kemana arah pembicaraan nadira,hanya saja melihat wajah kesalnya membuatnya begitu gemas dan ingin rasanya mencium gadis itu.
"ya tadi waktu dikantin" bibir ranum itu mengerucut sebal,menunggu jawaban yang terkesan berbelit-belit baginya.
"O... yang tadi bilang CALON TUNANGANKU,emang bener kan". vikri mengatakannya dengan wajah datarnya,padahal dia ingin sekali tersenyum melihat mata nadira yang melotot ke arahnya.
"jangan bilang tidak atau pun gak mau,bukankah kita sudah tidur bersama".sungguh sadis dan kejam kata-katanya,hingga membuat nadira yang tadinya duduk di sampingnya kini sudah berdiri tegak.
"apa ada yang salah?"vikri berdiri men-sejajarkan dirinya di depan nadira.
"GAK LUCU ...!!!!"
__ADS_1