Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Putus


__ADS_3

Lasmi berlari masuk ke dalam rumah diikuti Sandi. Pikiran buruk berkelana jauh saat mendengar teriakan Seruni. Terbayang, pencuri masuk ke dalam rumah sederhana mereka dan mengobrak-abrik barang berharga yang mungkin bagi sebagian orang tak ada nilainya. Namun, ketakutan itu tak menjadi kenyataan. Kejadian yang sebenarnya lebih buruk dari dugaan.


Wanita tua itu membeku, berdiri di belakang Seruni yang tampak terpukul. Demikian juga dengan Sandi yang tak kalah tercengang mendapati kenyataan di depan mata.


“Aa.” Beberapa saat mematung, Seruni bersuara setelah menguasai keadaan. Sepasang mata indahnya berkaca-kaca, menyiratkan perasaan yang tengah terluka.


Caraka, pemuda tampan dari kampung sebelah yang selama ini menjalin hubungan dengannya tiba-tiba hadir di depan mata. Tidak sendiri, tetapi tengah bercumbu dengan kakaknya sendiri di ruang tamu kediaman minimalis mereka.


“Uni.” Caraka buru-buru berdiri dan tertunduk.


“Aa, bukannya Aa hari ini ada janji dengan teman. Kenapa Aa ke sini?” Suara Seruni terdengar serak dan nyaris menangis.

__ADS_1


Tidak bisa menjawab, Caraka hanya menurunkan pandangan dan diam-diam mengintai sang kekasih yang kini telah berurai air mata. Cairan kristal yang berusaha ditahan sejak tadi akhirnya luruh tanpa permisi.


“Kenapa … kenapa jadi begini, Aa?” Bungkusan di dalam genggaman Seruni terlepas. Suara nyaring terdengar nyaring ketika membentur lantai. Sebuah panci aluminium tampak melompat keluar dan penutupnya menggelinding menjauh.


“Uni, maaf.” Caraka menyahut pelan.


“Maaf, maaf!” Lasmi yang sejak tadi diam, kini lantang berkoar-koar. “Kalau tidak suka dengan Uni, kenapa harus menggoda Anga? Tinggalkan saja dan cari wanita lain. Anga sudah punya calon suami. Anak pengusaha dari kota yang lebih segala-galanya dibandingkan dirimu. Kamu punya empang, dia punya kolam renang. Sapi bapakmu selapangan, pabrik semennya se-indonesia.”


Kenanga melotot. Direngkuhnya lengan Caraka dengan mesra, kemudian didekap manja. Tak peduli saat ini Seruni membeliak karena tingkahnya.


Seruni tak sanggup berkomentar, sejak tadi hanya menangis tanpa suara. Hingga usapan pelan di pundak, menyadarkan gadis itu kalau dia tak sendirian.

__ADS_1


“Uni, sabar, Nak. Tarik napas, embuskan.” Sandi menenangkan putrinya yang terus bercucuran air mata


“Pak.” Gadis ayu dan manis itu berbalik, memeluk pria tua yang selalu ada di dalam suka dukanya.


“Ssstt, tidak apa-apa, Nak. Ini mungkin jalannya. Dengan begini, matamu terbuka lebar. Dia bukan laki-laki terbaik yang disiapkan Tuhan untukmu. Jangan menangis, Nak.” Sandi terenyuh ketika merasakan tubuh putrinya berguncang di dalam dekapan. “Jangan bersedih. Ada baiknya begini. Andai setelah menikah belangnya baru kelihatan, kamu akan lebih sakit.” Pria tua itu mengusap punggung Seruni dengan lembut.


“Uni, maaf.”


Caraka berusaha menghempas gadis yang terus menempel padanya. Melangkah ragu, dia berusaha mendekati gadis yang selama ini dicintai. Dia memang lelaki lemah, tak sanggup menepis rayuan Kenanga yang sejak dulu berjuang menarik perhatiannya. Godaan demi godaan yang dilancarkan membuatnya tumbang. Pertahanan runtuh ketika wanita berambut pirang menyala itu menyodorkan diri dengan sukarela.


Seruni menggeleng. Di dalam dekap sang ayah, gadis itu menegaskan. “Kita putus, Aa.”

__ADS_1


Lasmi yang sejak tadi menyimak mulai bereaksi. Dipandanginya Kenangan dan Caraka dengan mata berkilat. Urat-urat menonjol di pelipis, rahang mengetat tak bisa kompromi.


“Tidak, Angaku tetap harus menikah dengan Wisely. Keluar dari rumahku. Jangan pernah menginjakkan kaki di sini. Anggap saja ini hanya khilaf.” Teringat bagaimana keduanya berpelukan mesra di atas sofa, Lasmi benar-benar naik darah. “Jangan pernah datang ke sini. Kamu dan Uni sudah selesai, dengan Anga juga tidak pernah ada. KELUAR!” usirnya sembari membanting bungkusan di tangan,, kemudian mengarahkan telunjuk ke arah pintu.


__ADS_2