Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Di tengah Keremangan


__ADS_3

Menikmati Paris van Java dengan ditemani Seruni membuat Wisely mengenal lebih jauh sosok sang calon istri. Mereka berbincang, membahas banyak hal hingga lupa waktu. Saling berbagi kisah dan pengalaman dengan latar belakang keduanya yang berbeda jauh.


Seruni lahir dari keluarga sederhana yang tinggal di salah satu perkampungan di kota Bandung, sedangkan Wisely putra konglomerat ternama di ibu kota. Yang wanita masih perawan dan minim pengalaman, sedangkan yang pria berstatus duda dengan jam terbang yang tak perlu dipertanyakan.


“Kamu lapar?” Wisely membuka suara setelah puas berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di kota Kembang.


Gadis yang sudah berganti baju itu menggeleng. Mengenakan pakaian pilihan Wisely, dia merasa tampil berbeda dengan gaun selutut model pundak sabrina.


“Yakin?” Wisely menatap Seruni dan tersenyum. Diam-diam mengagumi kecantikan sederhana wanita tersebut, dia membuang muka. Tak mau sampai pesona calon istrinya itu sampai membuat harga dirinya ternoda, dia berusaha terlihat acuh tak acuh.


“Ya, Aa. Aku masih kenyang. Bukannya tadi Aa sudah traktir ramen.”


“Mau coba sushi? Atau makanan lainnya?” tawar Wisely.


Seruni menggeleng. Kalau boleh jujur, tak ada satu pun makanan yang masuk ke dalam perutnya itu sesuai dengan selera. Walau tampilan dan harganya luar biasa, tetap saja tak ada yang mampu menandingi kelezatan sambal terasi dan ikan asin. Apalagi ditambah lalap mentah, seketika lidah dan lambungnya berdendang.

__ADS_1


“Yakin?” Wisely lagi-lagi melontarkan tanya yang sama.


“Kita pulang saja, Aa.” Seruni tiba-tiba teringat pada kedua orang tua yang ditinggalnya di tengah acara tanpa berpamitan. “Sudah jam berapa? Kita pergi terlalu lama. Kasihan Ibu, Bapak, dan Kak Anga. Nanti mereka panik tidak mendapati kita di sana.”


Wisely melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari sudah senja, di luar pun matahari mulai merangkak turun ke ufuk barat.


“Ya sudah.” Wisely tak mau berdebat. Menenteng beberapa kantung belanja berisi pakaian Seruni, dia berjalan mendahului.


Ingin menggenggam tangan gadis muda itu, tetapi ada canggung yang membuat Wisely ragu. Walau jelas-jelas mereka akan menikah sebentar lagi, tetap saja dia tak bisa memperlakukan Seruni sama seperti wanita lainnya. Ada batasan yang memagarinya agar tak bersikap lancang.


Gerimis masih belum mau beranjak pergi dari kota Bandung. Rintik air menghunjam bumi bak tangisan mengiringi pernikahan Kenanga dan Caraka. Berjam-jam menikmati kegembiraan sesaat bersama Wisely, kesedihan yang sempat tersesat kini kembali saat perjalanan menuju ke tempat acara pernikahan.


Suara Seruni tak lagi terdengar, dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mengabaikan pria tampan di balik kemudi yang diam-diam mengirim lirikan penuh arti.


“Ni, nanti sebelum pernikahan, kamu ke Jakarta, ya?” Wisely membuka obrolan sesaat sebelum mereka tiba di tujuan. Cuaca semakin tak bersahabat, suara gemuruh terdengar sesekali.

__ADS_1


“Hah!” Seruni tersentak.


“Sebaiknya, fitting gaun dan beli perlengkapan pernikahan di kota saja. Lebih banyak pilihan.” Wisely beralasan.


“Oh.” Seruni tak menolak, tetapi tak juga mengiakan.


“Nanti, aku kabari. Simpan nomor ponselku, jadi kita bisa bertukar kabar.”


“Ya.” Seruni menelan ludah. Pemandangan keramaian acara pernikahan Kenanga sudah di depan mata, luka di dadanya kembali menganga. “Aa, langsung pulang ke Jakarta malam ini?” tanyanya, berbasa-basi.


“Mungkin besok pagi. Nanti aku cari hotel dekat-dekat sini.” Wisely menghentikan mobilnya di pinggir lapangan yang dipenuhi orang-orang. Tak hanya tamu undangan, aneka penjaja jajanan dan mainan tampak memenuhi pinggir lapangan.


Belum sempat keluar dari mobil, Seruni mendadak terbeliak. Di tengah keremangan, di antara keramaian orang-orang, pasangan tua tampak menggigil kedinginan.


“Loh, Aa ....” Telunjuk gadis itu mengarah ke tempat acara.

__ADS_1


__ADS_2