Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Landasan Pacu


__ADS_3

“Aku lupa bawa minyak rambut. Apa Bapak ada?” tanya Wisely, sibuk menata rambutnya dengan sisir yang selalu menyelip di saku belakangnya.


“Hah!” Seruni terkejut. Masih mendekap jas hitam yang tadinya akan diperuntukkan untuk Wisely, tetapi ditolak mentah-mentah.


“Rambutku berantakan. Apa ada minyak rambut? Sekalian pinjam parfum ke Bapak.” Wisely memerintah dengan lancang.


Beberapa saat bersama, hubungan dengan calon istri pun mulai mencair. Kekakuan lenyap perlahan, komunikasi keduanya pun kian lancar. Tragedi cacing di dalam kamar mandi yang menyapa saat sabun mandi menggenang di ubin mampu membuat calon pengantin untuk beberapa minggu ke depan itu mulai mengenal satu sama lain. Bagaimana Wisely yang jijik saat melihat binatang melata yang menari-nari di dekat kaki dan memaksanya keluar hanya bermodalkan handuk melilit di pinggang.


“Bapak tidak ada parfum Aa. Satu-satunya aroma yang biasa melekat di tubuh Bapak itu minyak kayu putih. Aa, mau?”


Wisely terbelalak. Kehidupan desa yang jauh dari bayangannya. Sewaktu dikenalkan dengan keluarga Sandi, dia sudah melihat kesederhanaan di dalam keluarga tersebut. Namun, tak terbayang akan jadi seperti ini. Banyak hal bertolak belakang saat dia melangkah lebih dekat. Benar-benar pengalaman baru untuknya yang terlahir dari keluarga berada. Hutomo Putra yang sudah terkenal kaya sejak beberapa keturunan sebelumnya, Salah satu produsen semen terkemuka di nusantara.


“Ya sudah. Minyak rambut saja kalau begitu.” Wisely mengalah. Belum sempat Seruni berbalik pergi, titah kedua meluncur lancar dari bibirnya. “Ni, tolong jasku diseterika juga.”


“Ya, Aa.”

__ADS_1


Tidak ada penolakan, apalagi sanggahan, Seruni menurut dan bergegas keluar dari kamar. Walau canggung sudah terurai, jarak pun perlahan terpangkas. Batasan masih dijaga gadis berkebaya merah muda dengan kecantikan sederhananya. Mereka belum menikah, akan jadi omongan kalau terus bersama. Etika yang selalu diingatkan sang bapak, agar kelak menjadi panduan dalam bersikap.


Wisely menatap tirai kain yang berayun pelan ketika mendapati sosok cantik tersebut telah menghilang dari pandangan. Hati kecilnya menghangat. Tentu, dari tampilan calon istrinya ini terbilang biasa dan sederhana. Jauh dari Rose—sang mantan yang selalu tampil sempurna di setiap kesempatan. Namun, ada sesuatu yang tak dimiliki para gadis di sekelilingnya, dan itu hanya ada di Seruni. Setidaknya, dia belum menemukan di dalam wanita-wanita yang dikenalnya selama ini.


“Dia penurut sekali.” Wisely berkomentar sembari mematut diri di cermin dengan garis retakan melintang.


🌿🌿🌿


Rintik air belum mau pergi. Awan hitam pun terbang rendah di langit kota Bandung. Seruni baru saja keluar dari kamar bapaknya dengan sebuah benda mungil di dalam genggaman. Pomade jadul yang hits pada zamannya itu selalu menjadi andalan Sandi. Aroma yang khas dengan kepekatan yang pas mampu menyulap empunya jadi lebih tampan. Gel hijau serupa dengan warna penutup wadahnya itu tentu akan menjawab keresahan Wisely akan penampilan yang kurang maksimal di pernikahan Kenanga.


Wisely tercengang. Mengamati minyak rambut di dalam wadah mungil yang pertama ditemuinya selama bernapas di dunia.


“Apa itu?” tanyanya, mengambang.


“Minyak rambut. Aa membutuhkannya, ‘kan?”

__ADS_1


Mengerjap beberapa kali, Wisely yang berjalan mendekat jadi ragu sendiri.


“Aman, ‘kan?”


“Aman. Bapak sudah puluhan tahun dengan ini. Bapak-bapak kampung sini juga rata-rata menggunakan ini. Murah meriah, Aa.”


“Hah!” Wisely tersentak. “Berapa?” tanyanya tanpa sadar.


“Murah. Aman di kantong. Sepuluh ribu masih ada kembalian. Pakailah. Kata Bapak sisa sedikit. Habiskan saja. Diusap dengan jari supaya bersih. Di pinggirannya masih menempel banyak.”


“Yang benar saja, Ni?” Mata Wisely melotot. “Apa aman digunakan? Jangan-jangan landasan pacu di pucuk kepala bapak disebabkan efek samping penggunaan ini?”


Seruni ganti terkejut mendapati kalimat Wisely yang lucu.


“Landasan pacu itu memang sudah dari sana, Aa. Hanya Bapak saja, yang lain aman.” Seruni menanggapi sembari menahan tawa.

__ADS_1


__ADS_2