Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
34. Menyelinap


__ADS_3

Benar-benar melakukan niatnya, Wisely membawa pergi Seruni keluar dari acara pernikahan Kenanga dan Caraka setelah gadis itu mengangguk ragu. Keduanya menyelinap pergi dari tempat pernikahan, diam-diam memisahkan diri dari kerumunan orang-orang. Rintik air masih menghunjam bumi seakan menjadi saksi dua hati saling mengenali.


“Kita ke mana, Aa?” tanya Seruni sambil membenahi tatanan rambutnya yang berantakan terkena terpaan hujan. Mahkota kembang yang menghiasi pucuk kepala pun ikut rusak, kelopaknya luruh.


“Loh, kamu yang tahu daerah sini. Kenapa bertanya padaku?” Wisely balik bertanya.


Salah tingkah, Seruni tertunduk malu. Terkurung berdua di dalam mobil, rasa canggung menyelimuti. Sesekali diliriknya pria tampan yang tengah mencengkeram kemudi.


“Maksudku, Aa mau jalan ke mana?”


Wisely melirik gadis cantik di sebelahnya. Seruni sedikit berbeda dengan para wanita yang menemani hari-harinya selama ini. Kecantikan sederhana, sikap malu-malu menggemaskan, dan masih sedikit kampungan. Di awal jumpa, dia sempat menolak. Tegas tak menerima rencana perjodohan karena dunia mereka yang bak langit dan bumi. Namun, hari ini dia menemukan alasan lain untuk tetap bertahan. Bukan lagi sekadar takut dicoret dari status ahli waris.


Seruni manis, lumayan menarik, dan cantik yang khas. Gadis itu tak perlu make up tebal, gaun mahal, tetapi sanggup membuatnya terjungkal. Sesuatu yang tak dimiliki wanita-wanitanya selama ini. Apalagi saat rasa penasaran tumbuh dengan kisah masa lalu yang diam-diam didengarnya tak sengaja. Ada bias cemburu hadir.


“Jalan di mana yang enak?”

__ADS_1


Seruni menggeleng.


“Mal?” tanya Wisely sembari melajukan mobil. Separuh fokus terbagi pada jalanan yang basah, sisanya terperangkap dalam pesona Seruni yang tak biasa.


“Mal sedikit jauh, Aa. Harus ke kota.”


“Tidak masalah, toh? Acara sampai malam dan kita bisa memanjakan diri.


Seruni tersentak. “Bapak dan Ibu, bagaimana?”


Tak mau banyak protes, Seruni menurut. Sudah terlanjur basah, maju atau mundur jadi serba salah.


“Kita beli baju ganti.”


“Hah!” Seruni terkejut. “Untuk siapa?” tanyanya memastikan. Pendengarannya menangkap ucapan Wisely kalau kalimat itu ditujukan untuknya. Akan tetapi, tetap saja dia harus memastikan.

__ADS_1


“Untukmu. Memangnya kamu tidak malu berkebaya resmi seperti ini, lalu jalan ke mana-mana?” Wisely menjelaskan alasannya.


Seruni menggeleng lemah.


“Tapi, aku malu.” Wisely menambahi dan membuat Seruni cemberut. “Kamu cantik, tapi dandanan tidak sesuai tempat. Kita ke mal, cari pakaian ganti dan siap mengeksplorasi kota Bandung.” Laki-laki itu menjelaskan maksudnya, tanpa diminta. Bibir merengut milik sang calon istri cukup membuatnya mengerti telah terjadi salah paham di dalam benak Seruni.


Seruni mengukir senyuman malu-malu, pipinya bersemu saat dipuji Wisely.


Dasar gadis kampung. Mudah sekali dirayu. Tapi, dia terlihat berbeda karena itu. Jadi ada nilai tambah.


Di sisa perjalanan, keduanya memilih diam. Sepatah dua patah terdengar saat sang pengemudi menanyakan jalan. Keduanya dilanda canggung, diterpa kebingungan. Pertanyaan-pertanyaan beterbangan di benak keduanya, tetapi sulit untuk dieksekusi. Hingga akhirnya setelah hampir empat puluh menit berkendara, sepotong tanya meluncur dari bibir Wisely.


“Bagaimana bisa kekasihmu menikah dengan kakakmu?”


Seperti terkena ledakan kencang, Seruni terdiam dan membeku beberapa saat. Hal yang selama ini tak ingin diingatnya, diusik Wisely. Rasa sakit itu belum hilang, apalagi ketika melihat sepasang suami istri tengah bersanding mesra. Kecewa itu tak lagi bisa diungkapkan dengan kata. Akan tetapi sakitnya terasa menyiksa.

__ADS_1


“Kak Anga ....”


__ADS_2