Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Perpisahan Sementara


__ADS_3

“Pesan nasi putih satu.” Seruni memandang etalase kaca dengan berbagai sajian khas rumahan memenuhi piring di dalamnya.


“Apa lagi, Neng?” tanya pemilik warung makan sembari mengisi kertas nasi dengan pesanan Seruni.


“Aa mau?” tawar Seruni pada pria tampan yang terus mengekorinya itu.


“Tidak, Ni.” Wisely memandang gadis muda itu tak berkedip. Bukan sekarang, sejak dari kediaman Sandi, Seruni menarik perhatiannya.


“Sambal terasi tidak ada, Pak?” tanya Seruni, teringat pesan ibunya.


“Ada.”


“Boleh, Pak. Dibungkus terpisah, ya,” pinta Seruni dengan ramah.


Berjalan beriringan menuju meja kasir, Seruni mulai risi saat Wisely terus mengekorinya. Apalagi ketika hendak mengeluarkan dompet dan membayar, dia malu hati. Isi wadah penyimpanan uangnya yang sederhana itu akan menjadi bahan tertawaan sang calon suami.


Melirik Wisely sekilas, Seruni memastikan pria itu tak mengintai. Dia tak sanggup menanggung malu andai calon suaminya tahu isi dompetnya tak lebih dari lima puluh ribu rupiah dalam berbagai pecahan uang kertas.


“Berapa, Pak?” Seruni bertanya sembari menarik selembar uang dua puluh ribu rupiah. Namun, niatnya belum terlaksana, Wisely sudah menyodorkan lembaran uang kertas berwarna merah.


“Aku saja, Ni.”

__ADS_1


“Loh, Aa. Kenapa dibayar?”


“Tidak apa-apa, Ni.”


“Aku tidak enak. Keluargaku sudah banyak menyusahkan Aa selama ini.” Seruni sungkan. “Harusnya Aa jadi tamu, malah menjamu kami. Maaf, ya, Aa.”


“Sudah. Tidak apa-apa. Nanti pulang, aku mau mampir ke minimarket, ya. Ada sedikit urusan.” Wisely mengalihkan pembicaraan.


“Ya, Aa.”


***


Setelah semua kebaikan Wisely, Seruni tak sampai hati melihat tangan yang masih berjejak pasta gigi itu harus memotong daging steik. Menyambar piring pria itu tanpa permisi, dia mulai memotong-motong kecil.


“Tidak apa-apa, Ni.” Wisely mengulum senyuman saat melihat gadis dengan kecantikan sederhana itu membantunya.


“Bukan pekerjaan yang sulit, Aa. Tenang saja.”


Duduk bersisian, rasa canggung dan sungkan di antara keduanya mencair. Ikatan mulai terjalin, komunikasi pun terbangun dengan alami. Sepasang mata Wisely berbinar bahagia memandang Seruni yang makin memikat hati.


Obrolan selebihnya terasa santai sambil menikmati sarapan yang berbeda dari kebiasaan. Kalau sebelumnya diisi roti, bubur, atau nasi goreng, kini mereka menyantap steik sesuai pinta Lasmi yang sudah tenang tanpa mengoceh panjang.

__ADS_1


Hingga akhirnya isi piring keempatnya tandas, tak terdengar perdebatan. Lasmi duduk manis sambil memandang pasangan Seruni dan Wisely. Baru kali ini putri sambungnya itu terlihat berbeda. Rasa kesal dan kecewa setiap melihat gadis sederhana itu menguap entah ke mana. Berganti suka cita yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


***


“Ni, Aa pamit.” Wisely tersenyum simpul memandang Seruni yang mengantarnya di teras rumah. Pria itu mulai terbiasa dengan kehidupan sederhana calon istrinya, bahkan terlihat nyaman dengan sapaan yang sebelumnya mengganjal.


“Ya, Aa.” Seruni mengangguk. Tak berani berlama-lama menatap Wisely, dia melemparkan pandangan pada mobil mewah yang sudah siap bertolak ke Jakarta.


“Ini, titip untuk Ibu.” Wisely tiba-tiba mengagetkan Seruni dengan beberapa lembar uang merah di tangan.


“Loh, Aa. Buat apa? Jangan.” Seruni sungkan. Didorongnya pecahan uang kertas yang diperkirakan sebanyak belasan lembar itu menjauh.


“Ini buat Ibu, bukan untukmu, Ni.” Wisely mengedipkan mata, tersenyum ringan. “Tidak banyak, kok.”


Awalnya Seruni ragu, tetapi bujuk rayu Wisely mampu melunakkan hatinya. Dia tak mungkin menolak niat baik pria itu membantu ibunya walau masih tersisa secuil rasa tak nyaman dalam hati.


“Sampaikan terima kasihku untuk Bapak dan Ibu karena sudah dijamu dengan baik. Ini buat Ibu beli kompor baru dan odol.” Wisely terkekeh. Bias bahagia hadir saat mendapati semburat merah muda di pipi Seruni. “Akhir bulan aku ke sini untuk menjemputmu. Jangan lupa hubungi aku kalau memang ada sesuatu.”


***


Detik-detik menjelang tamat. Kisah ini akan usai sebentar lagi, izinkan aku berpamitan. Kalau rindu dan ingin mengobrol denganku, silakan chat di instagram : casanova_wety.s.hartanto.

__ADS_1


__ADS_2