Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Bias Cemburu


__ADS_3

Wisely menolak tegas setelah aroma pomade jadul terendus indra penciumannya. Menyengat dan khas, sontak membuat kepala berdenyut.


“Loh, Aa.” Seruni terkejut ketika memandang Wisely yang menyibak tirai dan berjalan keluar masih dengan tampilan semula. Tak ada rambut keren menerjang langit, helaian pekat itu berjatuhan menutupi dahi. “Katanya mau minyak rambut.” Berjalan mendekat sembari mendekap jas, disodorkan pakaian itu pada pemiliknya.


“Tidak mau. Aromanya itu menyengat, Ni. Gelnya mengerikan. Dibayar mahal pun aku tak mau.” Wisely bergidik. Pundaknya berjingkat cepat dan memasang wajah jijik.


Seruni mengernyit. Berbalik dan menatap bapaknya yang sejak tadi diam-diam mengawasi. Pria tua itu menyunggingkan senyuman meski ucapan calon menantu terdengar menjatuhkan. Cukup tahu diri, kehidupan mereka dan Wisely bagaikan langit dan bumi. Tidak bisa menuduh, dia paham akan kesenjangan yang sedang dipangkas keduanya.


Pandangan Wisely terarah ke luar jendela. Rinai masih setia membasahi bumi, suara rintiknya mengenai atap rumah bak harmoni. Sesekali, dia mengalihkan pandangan pada Seruni dan Sandi, mencoba menyelami kehidupan sederhana yang akan menjadi masa depannya.


Tak mungkin lari, apalagi menghilang dan pergi. Dia harus menerima Seruni atau segala fasilitasnya akan dikebiri. Untuk saat ini, gadis itu adalah dewi penolong yang akan membuatnya tetap hidup di dunia kayangan. Bergelimang harta bersama segala kemudahan.


Tidak apa-apa. Dia manis juga. Setidaknya tidak membuat sakit mata.


“Aa.” Seruni mengayunkan tangannya ketika mendapati Wisely menatap tak berkedip. Malu hati, pipi putih mulus bak pualam itu bersemu.


“Ah!” Tersentak, Wisely menyunggingkan senyuman datar ketika tersadar.

__ADS_1


“Kita mau jalan sekarang.” Seruni melirik ke arah bapaknya yang sudah bersiap.


“Panggil kakakmu, Uni. Minta dia bersiap. Sebentar lagi pengantin pria akan menjemput,” titah Sandi. “Tadi di kamar Bapak sepertinya,” lanjut pria tua itu, memberi tahu.


Seruni menurut. Berjalan menuju ke kamar yang dimaksud, diiringi tatapan semua orang di dalam ruangan. Sebelum menyingkap tirai dan membuka pintu, dia masih sempat melihat ibunya berjalan dari arah dapur.


“Minta Anga bersiap. Sebentar lagi rombongan pengantin pria datang menjemput,” pesannya merapikan serenceng kembang yang menghiasi sanggul.


“Ya, B ....”


Suara Seruni mendadak lenyap ketika mat menyapu kamar orang tuanya itu. Tidak ada siapa-siapa di kamar, hanya senyap. Pengantin wanita menghilang. Berbalik badan, gadis itu melempar tatapan bingung pada semua orang.


“Kak Anga tidak ada di kamar, Bu.”


Sandi melongo, Wisely mengernyit. Reaksi sedikit berbeda ditunjukkan Lasmi. Wanita tua itu limbung seketika. Dunianya runtuh, ketakutan yang dipendam sejak tadi, tak dapat disembunyikan lagi.


“Anga kabur, Pak. Bagaimana ini?”.

__ADS_1


Sandi kian mencelang. “Ba ...bagaimana bisa? Apa maksudmu?”


“Ta ... tadi, Anga meminta padaku untuk membatalkan semua ....”


“Sudah gila anak itu!” tegas Sandi.


“Bagaimana bisa, Bu?” Seruni melirik Wisely, malu hati saat masalah keluarganya jadi konsumsi orang luar.


“Ta ... di masih sempat meminta Uni saja yang menggantikan. Tapi, aku pikir ... aku pikir dia tidak sungguh-sungguh.”


Seruni terdiam. Rautnya berubah sedih. Tertunduk, disembunyikan kecewa dan sakit yang terukir nyata di dalam sanubari. Dia tak mungkin berdusta kalau sekarang baik-baik saja. Jauh di dalam lubuk hati, luka itu masih menganga.


Sandi menggeleng.


“Katanya, lebih pantas Seruni yang menjadi pengantin wanita. Toh, Caraka juga masih menyimpan cinta untuk Uni, bukan untuknya. Mereka tidak saling cinta dan ....” Lasmi ragu meneruskannya.


“Caraka?” Wisely yang diam-diam menyimak ikut terusik. Entah kenapa, perasaannya jadi tidak enak ketika berhasil menangkap jalan cerita yang dipapar sang calon ibu mertua.

__ADS_1


“Aku dan Aa Raka sudah selesai, Bu.” Seruni berkaca-kaca. Diingatkan hubungannya dengan sang mantan, kesedihan kembali menyeruak. Lupa akan kehadiran Wisely yang berdiri di dekatnya.


“Siapa Caraka? Apa hubungannya denganmu?” Pertanyaan itu terlontar beruntun dari bibir pria yang sedang dilanda gelombang asing. Perasaan yang hadir tanpa diminta, tetapi sanggup membuat tidak nyaman. Bias cemburu terpahat samar pada wajah tampan Wisely.


__ADS_2