Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Penghabisan


__ADS_3

Panik menyerang semua orang karena ulah Lasmi yang seenaknya sendiri. Kenanga, Caraka, dan Sandi terpaksa turun tangan untuk mencari keberadaan wanita tua yang sering kali berulah. Seruni yang sudah mengenakan gaun pengantin tampak resah menunggu di lobi. Dia tidak tenang membiarkan keluarganya yang belum paham Jakarta berkeliaran demi mencari keberadaan sang ibu.


“Ni.”


Di tengah resah yang bergelayut, Seruni dikejutkan dengan kehadiran Wisely. Pengantin prianya terlihat tampan dengan jas berwarna gading yang serasi dengan gaun off white yang dikenakannya.


“Aa?” Seruni buru-buru menghampiri.


“Kenapa menunggu di sini?” Wisely mengedarkan pandangan, orang-orang tengah mencuri pandang ke arah mereka.


“Ibu tersesat.” Seruni menjawab lirih.


“Bagaimana bisa?” Wisely tampak menggenggam rangkaian bunga, berdiri gagah di depan pengantin wanitanya yang tampak gelisah.


Seruni menggeleng lemah.


“Bapak mana?” tanya Wisely lagi.


“Bapak, Kak Anga, dan Aa Raka sedang mencari. Aku juga tidak tahu. Kok, Ibu bisa-bisanya turun cari nasi Padang.”

__ADS_1


Wisely tercengang. Beberapa saat pria itu tertegun, lalu tersenyum ketika menyadari sesuatu.


“Ibu memang begitu, ‘kan? Ayo masuk. Tunggu di dalam. Jangan di sini. Aku tidak rela pengantinku ditatap orang-orang.” Merengkuh punggung bawah Seruni, Wisely menuntun gadis yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya itu berjalan menuju lift.


“Tapi, Aa ....” Suara Seruni menggantung.


“Ayo, kita ke dalam.”


“Bagaimana dengan Ibu?” tanya Seruni dengan polosnya.


“Tenang, aku akan mengirim orang untuk mencarinya. Jangan khawatir. Ibu tidak mungkin hilang. Siapa yang mau menculiknya?” Wisely terkekeh. Sikapnya tetap tenang, tak panik seperti yang tengah melanda Seruni.


“Yakin.” Wisely mengangguk. “Orangku akan menemukan Ibu. Jangan khawatir. Sebentar lagi pasti ditemukan.”


Pria muda itu mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu menghubungi orangnya. Perintah diturunkan segera, dia tak ingin sampai Seruni berburuk sangka dan panik berlebihan.


“Jangan khawatir, Ni. Ibu pasti ditemukan.” Wisely kembali meyakinkan.


“Yakin, Aa?” Panik yang tengah menguasai Seruni belum mau reda sama sekali.

__ADS_1


“Sangat. Jangan memikirkan hal itu lagi. Percayakan padaku, Ni. Sebentar lagi orangku akan membawa ibumu kembali.” Wisely merengkuh pundak Seruni dan mendekap mesra.


Waktu membuat hubungan keduanya terjalin dengan baik. Penjajakan dan saling membuka hati menjadi kunci keberhasilan mereka menyempurnakan perjodohan yang berujung pada pernikahan. Seperti janji Wisely, Lasmi akhirnya ditemukan dalam keadaan berantakan tak terlalu jauh dari apartemen. Bukan nasi Padang, wanita tua itu harus kehilangan dompet kesayangannya saat dalam keadaan panik.


Jera, satu kata yang mewakili perasaan Lasmi sepanjang acara pernikahan. Dia masih terbayang-bayang saat kehilangan arah dan lupa jalan pulang. Menggandeng suaminya—Sandi, wanita tua itu tak mau sampai hal yang sama terulang lagi. Terus menempel hingga malam tiba di acara resepsi.


Ballroom sebuah hotel mewah disulap bak istana raja. Bunga-bunga bertema rosegold bertebaran indah di mana-mana. Resepsi digelar di sebuah hotel bintang lima, di pusat ibu kota.


Alunan musik berkumandang mengiringi pesta mewah keluarga Wisely. Sajian dari berbagai negara tampak memenuhi meja-meja yang tersedia. Para tamu undangan menyesaki tempat acara. Tak kalah dengan pemilik hajatan, orang-orang yang hadir di acara pernikahan itu pun tampil mahal dan sempurna.


Sandi dan Lasmi berdiri di pelaminan menatap kagum lautan manusia yang ikut berbahagia merayakan pesta pernikahan putra putri mereka. Tampil gagah dan cantik, keduanya merasa seperti mimpi bisa hadir di tengah acara orang kaya. Mengenakan pakaian yang indah dan mahal, mimpi pun tak pernah menduga akan berada di titik ini.


“Pak, ternyata begini rasanya jadi orang kaya.” Lasmi berbisik di telinga suaminya yang tampak menggigil. Gigi gemeletuk, tubuh gemetar menahan semburan pendingin ruangan yang mengarah kepada mereka. Gaun pesta yang indah tak sanggup menghangatkan tubuhnya.


“Ya, Bu. Belum lama kita menikahkan Anga dengan Raka dengan pesta rakyat dengan layar tancap. Sekarang giliran Uni. Waktu cepat berlalu, akhirnya kita tinggal berdua menikmati masa tua.” Tangan Sandi mengepal, menahan dingin yang menggigit tulang.


“Aku pikir cukup di resepsi Anga saja, ternyata di sini juga harus menggigil, Pak. Besok-besok, kita harus persiapan.” Lasmi mengeluh, tak sanggup menahan serangan dingin yang tengah mencabik-cabik tubuh rentanya.


Sandi terkekeh, menatap sedih putrinya yang kini tengah menggandeng mesra Wisely. “Sudah penghabisan, Bu. Setelah ini tidak akan ada lagi. Jadi dinikmati saja.”

__ADS_1


T A M A T


__ADS_2