
Beberapa hari berinteraksi dengan keluarga pengusaha semen ternama di ibu kota, Seruni makin memantapkan hati. Sambutan hangat sang calon mertua membuat gadis cantik itu kian yakin dengan pernikahannya. Apalagi, Wisely menunjukkan tanggung jawab sebagai calon suami dengan membekalinya sebuah kartu hitam yang bisa digunakan untuk membeli berbagai keperluan selama kunjungan ke Jakarta.
Banyak hal terjadi, termasuk sikap Kenanga yang semakin ke sini makin menunjukkan sikap tak bersahabat. Ada saja keluhan wanita yang sedang hamil itu terkait pernikahannya. Belum lagi sikap Caraka—kakak ipar—yang sering mencuri kesempatan berduaan dengan berbagai alasan. Namun, semua itu membuat Seruni kian yakin dengan keputusannya. Menikah mungkin adalah jalan yang digariskan Tuhan untuknya melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu.
Setelah melewati berbagai ujian, akhirnya hari pernikahan itu pun tiba. Seruni tampil sempurna dalam balutan gaun rancangan desainer ternama. Tak hanya sampai di situ, Wisely memanggil MUA yang selama ini banyak digunakan oleh pesohor negeri demi mendandani calon istri yang akan menemaninya menjadi raja dan ratu sehari.
Seruni mencengkeram gaun pengantinnya yang terurai sampai ke lantai dan berjalan mondar-mandir menunggu Wisely menjemputnya untuk mengikuti pemberkatan pernikahan. Perasaan campur aduk, pengantin wanita itu tak tenang.
“Sudah, Uni. Jangan mondar-mandir di depanku. Aku tahu kalau gaunmu itu mahal.” Kenanga berkata ketus.
Sejak mengetahui siapa pria yang ditolaknya, penyesalan terus menghantui. Keberangkatan ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Seruni makin mengukuhkan sakit hati dan kecewanya. Dia bisa melihat secara langsung kehidupan yang akan dijalani adiknya pascapernikahan. Sesal tak berguna, wanita yang tengah hamil itu hanya bisa merutuki kebodohannya. Menolak pangeran berkuda putih demi putra mahkota juragan sapi.
Seruni diam. Dia mulai terbiasa dengan sikap Kenanga yang terus menyerangnya akhir-akhir ini. Seburuk apa pun sikap wanita hamil itu, mereka adalah saudara.
“Sudah, jangan begitu, Nga.” Caraka menenangkan istrinya. Pria muda yang tampak tampan dengan setelan jas hitam itu duduk di sebelah Kenanga. Sesekali melirik ke arah pengantin wanita yang masih menggetarkan hatinya hingga kini.
Maafkan aku, Uni. Aku menyesal. Harusnya aku tak mengkhianatimu demi Kenanga. Dia benar-benar jauh dibandingkan dirimu.
Menundukkan kepala, Caraka tak berani menatap terang-terangan. Dia cukup tahu diri. Kesalahannya terlampau besar dan sulit dimaafkan.
__ADS_1
“Jangan berpura-pura, aku bisa melihat kilat di matamu, Aa.” Kenanga protes saat mendapati suaminya menyembunyikan kekaguman saat menatap adiknya. “Wajar saja Uni cantik, pakaian dan dandanannya saja mahal. Suaminya orang kaya di kota. Bukan juragan sapi sepertimu.” Wanita itu cemberut.
Pandangan mengedar, menyapu seisi ruangan mewah tempatnya dan keluarga menginap selama di Jakarta. Menempati salah satu penthouse milik keluarga Wisely, mereka dilayani dengan istimewa. Bukan hanya tempat tinggal, sebuah mobil senilai miliaran rupiah selalu siaga dan asisten rumah yang sigap melayani setiap saat. Belum lagi deretan fasilitas mewah yang didapatkan selama tertahan di ibu kota.
“Tidak, Nga.” Caraka menciut mendapati tatapan tajam istrinya.
“Kalau macam-macam, aku akan menceraikanmu!” ancam Kenanga yang pagi itu tampil cantik dengan gaun mahal yang cantik hadiah dari Seruni untuknya.
Caraka menggeleng. Dia tak berkutik. Menjalani pernikahan dengan Kenanga, dia harus siap mengalah. Istrinya keras kepala dan semena-mena, jauh berbeda dari sebelumnya.
“Kamu di sini karena keluargaku. Jadi, jangan berani membantah. Kalau bukan karena Aa Wise, mana mungkin kamu bisa mengenakan jas mahal. Ingat, jas pengantinmu saja masih kalah jauh. Jadi sebaiknya diam dan menurut.” Kenanga mengancam.
“Nga, bagaimana ini?” ucapnya, resah.
“Ada apa?” Kenanga mengernyit, lalu memandang suaminya.
“Ibumu kesasar. Coba bicara dengannya.” Sandi menjelaskan sembari menyerahkan ponsel pada Kenanga.
“Kesasar?” Seruni menyimak. “Bagaimana bisa?”
__ADS_1
“Ibu tadi memaksa turun. Katanya mau cari nasi Padang.”
“Kenapa tidak minta Mbak yang kerja di sini?” Seruni tercengang.
“Kamu tahu sendiri ibumu seperti apa. Kalau ada maunya, mana mungkin ditolak.”
“Bukannya Ibu sudah didandani?” Seruni bingung. Terbayang kondisi ibunya yang resah dalam balutan gaun indah.
“Lagi pula, aneh-aneh saja. Sudah didandani malah mau cari nasi Padang. Apa tidak ada makanan di sini?” Kenanga menggeleng kesal.
“Ibumu kalau ada maunya sulit dicegah. Selepas didandani, dia malah bilangnya lapar, mau turun ke bawah cari nasi Padang.” Sandi menjelaskan.
Kenanga tampak menempelkan ponsel di telinga. Belum menyapa, suara raungan di ujung panggilan memekak telinga.
“Nga, tolong Ibu. Ini Ibu tidak tahu di mana, Nga? Sama semua gangnya.”
...***...
...Untuk informasi giveaway dan novel baru yang akan rilis di Noveltoon, silakan follow instagram : casanova_wety.s.hartanto....
__ADS_1