
“Mandi ya mandi saja, Aa. Tinggal jebar jebur.” Seruni berdiri di sisi calon suaminya, menatap pria itu dari kepala sampai ke ujung kaki.
Wisely ternganga, memandang heran ke arah kamar mungil berukuran satu meter dikali satu setengah meter. Sebuah kloset jongkok biru menemani bak mandi dari fiber berwarna serupa. Pandangan kembali ke lantai, mencari keberadaan binatang melata yang kini tak lagi tampak mengintai.
“Bagaimana mandinya? Bathtub seukuran bayi, tidak ada shower.” Wisely menunjuk ke arah bak fiber dengan keran plastik yang airnya terus mengalir turun karena sudah tak berfungsi dengan baik.
“Shower?” Seruni terbelalak, menoleh ke arah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
“Ya. Shower. Keran yang di atas, mandinya tinggal berdiri dan air mengucur sendiri.” Wisely menjelaskan dengan hati-hati.
“Aku tahu, Aa. Masalahnya, kalau mandi dari shower, berasa tidak mandi. Kalau kata Bapak, seperti mandi burung. Paling enak itu ya diguyur sampai puas.” Seruni tak mau kalah. Hanya masalah mandi, keduanya berdebat panjang. “Dan itu ....” Seruni menunjuk ke arah bak mandi mungil di depan mereka.
“Ya.” Wisely menyimak.
“Itu bak mandi, Aa. Bukan bathtub.” Seruni mengulum senyuman. “Di sini, tidak ada kamar mandi seperti yang Aa sebutkan. Bahkan, masih ada yang mandinya di pinggir sumur, kalau BAB di semak-semak.”
“HAH!” Wisely dibuat tersentak dan bergidik dalam waktu bersamaan. “Yang benar saja ...?” Dia bingung bagaimana harus menyapa sang calon istri.
__ADS_1
“Makanya, Aa harus bersyukur. Masuk dan mandi sekarang.” Mendorong punggung Wisely agar segera masuk ke dalam kamar mandi, Seruni terkejut sendiri dengan kelancangannya. Apalagi saat pria itu berbalik menatapnya tak berkedip.
“Kenapa dorong-dorong?”
“Supaya Aa cepat masuk ke dalam.” Seruni tersipu.
“Lalu, mandinya?” Wisely masih mengirim tatapan penuh tanya.
“Ada gayung bentuk hati di dalam bak, Aa. Ambil dan silakan mengguyur dengan itu. Aa bisa mandi sepuasnya.”
Wisely masih mematung di tempat, menatap gadis cantik itu dengan tatapan penuh arti.
“Aa, aku serius.” Seruni malu-malu.
“Bukan apa-apa. Aku tidak yakin cacing tadi tidak menggodaku saat kami dikurung berduaan di dalam.” Wisely sudah ingin tertawa ketika ucapannya kembali memercik semburat jingga di pipi gadis berkebaya merah muda.
Kenapa dia manis sekali?
__ADS_1
“Aa, aku serius.” Seruni melayangkan protes setelah digoda berulang kali.
“Aku juga serius. Kalau saat aku mandi, tiba-tiba cacingnya mengintai. Bagaimana?”
“Siram air sabun, Aa. Nanti juga mati sendiri.” Seruni mulai kesal, menanggapi pertanyaan demi pertanyaan yang dilayangkan Wisely.
Menurut, pria muda itu tak lagi mengeluh. Melangkah masuk, dia masih sempat melirik gadis yang sedang merengut.
Dia manis juga.
Wisely menutup pintu kamar mandi dan membiarkan dirinya terkurung seorang diri. Perasaan menghangat tanpa sebab, dia tak bisa mendustai diri. Seruni memang berbeda dan sederhana. Akan tetapi, ada sesuatu di dalam diri gadis itu yang membuatnya terusik.
“Aa kenapa jadi aneh!” dengkus Seruni.
Baru akan berbalik badan, gadis itu kembali dikejutkan dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka. Wisely menjulurkan kepala dari celah pintu dan tersenyum usil.
“Ni ....”
__ADS_1
Seruni tersentak ketika disapa dengan nada canggung.
“Handuknya, Ni.” Wisely memasang tampang memelas.