
“Ke kota?”
Seruni menatap bingung. Jawaban apa yang harus diberikannya pada Wisely yang sedang memandang dari balik cangkir kopi dengan asap yang mengepul putih di udara.
Kota Bandung yang dingin tak mampu menghangatkan hati Seruni yang mendadak beku. Lidahnya kelu, terbayang akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Wisely andai dia mengangguk setuju. Getar yang semula semu, kini terasa nyata. Dia bisa mendengar detak jantungnya yang memburu.
Tuhan, aku harus apa? Bagaimana mungkin aku menolak di saat pilihan itu tak pernah ada? Tapi, kalau aku menerima ... tentunya gengsi. Dikira aku juga sangat menginginkannya.
“Aku jemput akhir bulan.” Tak lagi memberi Seruni pilihan, Wisely langsung memutuskan.
“Tapi, Aa. Apa harus sampai ke Jakarta? Apa tidak bisa di sini saja. Misalnya, setelan Bapak Ibu, Kak Anga dan ....” Seruni tertunduk. Dada mendadak nyeri ketika membayangkan pengantin baru yang baru saja melewati malam pertama. Nama Caraka masih terpatri walau sudah menyakiti. Benar kata orang, cinta pertama itu tetap membekas walau banyak nama datang dan pergi—silih berganti.
“Kalau pakaian Bapak dan Ibu bersama setelan keluarga ... mungkin Mama akan mengirim bahannya dari Jakarta. Itu urusan mamaku. Nanti model dan jahitnya di sini, tak masalah. Cuma, untuk gaun pengantin dan lain-lain, harusnya di Jakarta. Semua sudah diurus WO.”
“WO?” Seruni ragu. Dia pernah mendengar istilah itu, tetapi tak yakin berkesempatan diurus oleh wedding organizer di hari pentingnya.
“Ya, di sana sudah diurus semua. Mama sudah mulai meeting dengan pihak WO, menentukan tanggal dan tempat. Karena untuk hotel itu paling tidak setengah tahun sampai satu tahun proses booking sampai hari-H.”
__ADS_1
“Serumit itu, Aa?” Seruni menatap heran. “Di sini hanya pakai panitia dan ....”
“Dan tendanya roboh, tamu kocar-kacir. Keluarga pengantin wanita kehujanan, basah kuyup. Big no. Itu memalukan, Ni. Jangankan keluarga, tamu undangan saja dijamu istimewa. Selain tempat, makanan, hiburan juga dipikirkan.” Wisely menjelaskan dengan detail.
“Hiburan?” Dari arah dapur tampak Lasmi muncul sembari mengusap tangannya yang basah di daster lusuhnya. Pakaian kebesaran yang warna dan motifnya sudah memudar itu tampak robek di beberapa sisi. Rambut dicepol asal, beberapa helai terjatuh dari simpulannya. “Seperti pesta Anga semalam, ya?” tanyanya, memastikan.
“Ibu.” Seruni kesal. Ketika ibunya sudah melibatkan diri, semua pasti kacau.
“Tidak, Bu.”
“Oh ya. Kalau orang kota pasti bukan artis kampung lagi. Di sana jelas artis kota. Ibu boleh minta?” Lasmi ikut bergabung, duduk di salah satu kursi kosong dan terlibat dalam obrolan. Lupa akan kompor yang masih menyala di dapur tengah menghangatkan sisa semur ayam sisa pesta Kenanga semalam yang dikirimkan kerabat Caraka pagi-pagi sekali.
“Ibu bisa minta artisnya Ayu yang jualan minyak wangi?” Bu Lasmi sembari bersenandung, mendendangkan lagu sang artis yang pernah naik daun.
“Ayu?” Wisely dan Seruni saling memandang setelah melontarkan kata yang sama.
“Ya, bisa, ‘kan? Papanya orang kaya, tidak mungkin hanya mengundang organ tunggal. Paling tidak ada biduan dangdut. Bukan biduan kampung.” Wanita tua itu tersenyum sendiri, membayangkan berkesempatan foto bersama idolanya. Akan dipajang di ruang tamu, dipamerkan pada orang-orang sekampung.
__ADS_1
“Bisa. Mau Aldebaran pun bisa. Sekalian dengan Andin-nya.” Sandi yang baru masuk ke dalam rumah menggeleng sembari melotot menatap istrinya. “Bu, kita itu orang tak punya. Jangan banyak maunya. Apa kata calon besan saja. Setidaknya walau tak punya harta, masih ada harga diri ....”
Sandi masih menggenggam cangkir enamel dengan gambar ayam jago yang legendaris. Berhenti bicara, pria tua itu tiba-tiba mengendus sesuatu yang tak biasa.
“Bau apa ini, Bu? Sepertinya ada yang terbakar.”
Pandangan Seruni mengedar, Wisely pun melakukan hal yang sama. Lasmi yang sejak tadi terseret lamunan jadi orang terakhir yang menyadari.
“Aroma apa ini, Bu? Ibu memanaskan sesuatu?”
Seruni panik saat melihat asap mengepul dari arah dapur. Berlari secepat kilat, dia berteriak mendapati api sudah melalap kuali mungil di atas kompor.
“Tolong, kebakaran!”
Sandi dan Wisely berlari bersamaan untuk memastikan, sedangkan Lasmi yang terlambat sadar mengekor dari belakang. Kepanikan menjalar pada semua orang.
“Ya Tuhan, air-air.” Sandi berteriak.
__ADS_1
“Handuk basah!” Wisely menahan pergelangan tangan Seruni yang hendak mendekati api.
Lasmi terdiam, berdiri paling belakang. Dalam bayangannya ada banyak keresahan. “Semur ayamku habis dilalap api. Padahal dari kemarin aku belum mencicipi sama sekali.” Wanita tua itu memasang tampang sedih.