Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Monas dan Kerak Telur


__ADS_3

Akhir bulan yang dinanti-nantikan itu pun tiba. Selama berhari-hari, tak satu pun pesan dilayangkan Seruni pasca perpisahan mereka. Gensi memaksa pria tampan itu menahan diri. Rindu menyesak, waktu seakan berjalan merangkak. Rasa apa yang tengah bertunas di dalam hati, Wisely belum bisa mengenali pasti.


Memacu kereta besi pagi-pagi sekali, Wisely menempuh ratusan kilo demi gadis yang belakangan tak pernah absen hadir dalam mimpi. Terjaga sepanjang malam, dia membuat Erlang dan Kana yang baru saja keluar dari kamar tidur itu memandang heran. Tak biasanya sang putra sudah rapi di saat matahari belum sempat menyapa bumi.


Dia sudah tak sabar ingin bertemu Seruni. Gadis kampung yang mampu memorak-porandakan hati. Siang dikenang, malam dibayang. Hari-hari Wisely tak tenang. Melakukan rutinitas pekerjaan, separuh jiwa melayang.


Mungkin ini yang namanya jatuh cinta. Hasrat ingin berjumpa, tak mampu dibendung oleh logika. Dunia terasa hampa, wajah gadis yang dipuja terus membayang nyata. Perpisahan memantik debar di dada, memancing detak jantung menggila.


Semesta seakan merestui, Wisely tak perlu berlama-lama bertarung dengan jalanan Jakarta Bandung. Tepat saat matahari memamerkan kilau keemasan, sedan hitamnya sudah terparkir di sebuah rumah sederhana milik Sandi.


“Loh.” Lasmi baru saja keluar dengan membawa seember air untuk membersihkan teras rumahnya yang digunakan pasangan kucing bermalam. Kotoran binatang itu menyengat setiap pagi. “Itu bukannya mobil Wise?”


Tak mau menduga-duga, wanita tua itu mendatangi mobil untuk mencari tahu. Diketuknya pelan jendela kaca untuk memastikan. Perasaan Lasmi berdebar. Bayangan keindahan membuncah dalam dadanya.


Pintu mobil terbuka, Wisely muncul dengan senyuman secerah mentari pagi.

__ADS_1


“Bu, maaf mengganggu paginya. Ni ada?”


Belum menjawab, Lasmi sudah menyuguhkan senyuman manis.


“Ada. Masuk-masuk. Anak itu tidak ke mana-mana. Tenang saja.” Menuntun lengan Wisely, Lasmi tak malu-malu menuntun lengan calon menantunya. Hal yang tak pernah dilakukan pada Caraka. “Kenapa tidak berkabar, Nak Wise? Ibu jadi tidak sempat menyiapkan sarapan pagi untukmu.”


Senyum Lasmi mengembang, terbayang traktiran sarapan dan uang perpisahan yang akan dititipkan sang menantu.


“Tidak perlu repot-repot. Aku ke sini mau menjemput Ni. Aku mau membawanya ke Jakarta.”


Lasmi tersentak di teras rumah. Kakinya bak terpaku, tubuh pun membeku.


“Ya, Bu.”


“Kenapa tidak katakan dari jauh-jauh hari? Jadi Ibu punya persiapan.”

__ADS_1


Wisely tersenyum sungkan. “Tidak perlu repot-repot, Bu. Aku dan Ni mau mencari pernak-pernik pernikahan. Tidak perlu persiapan apa-apa. Bapak ada? Sekalian mau izin membawa Ni ke Jakarta.”


Lasmi menatap sedih. Ucapan Wisely sudah jelas ke mana tujuannya.


“Ke Jakarta menginap?” tanya Lasmi memastikan.


“Ya, Bu. Sekalian mengenalkan Ni dengan keluarga besarku."


Memutar otak, Lasmi tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Jika Seruni diboyong ke ibu kota, tentu dia juga harus ikut serta. Beberapa saat berpikir keras, sebuah ide cemerlang pun melintas.


“Maaf, sekali, Nak Wise. Uni itu masih di bawah umur. Belum mengerti banyak hal.” Lasmi menarik napas dan mengembuskan perlahan. Sembari melirik pria tampan yang tengah menyimak kelanjutan ucapannya.


“Ya, Bu.”


“Uni gadis baik-baik yang belum mengerti banyak hal. Bukan tidak mengizinkan Uni dibawa ke Jakarta, Nak.”

__ADS_1


“Mak ... sudnya, Bu?”


“Uni itu masih butuh pengawasan orang tua. Masih butuh bimbingan orang tua. Sebagai Ibu, tidak mungkin melepasnya bepergian sendiri.” Lasmi memasang tampang serius. Saat ini, di dalam pandangannya sudah terbayang Monas dengan jajanan kerak telur yang khas.


__ADS_2