Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Ulah Lasmi


__ADS_3

“Bu, odolnya habis.” Seruni keluar dari kamar mandi sambil menggenggam odol yang kemasannya sudah pipih. Memandang Lasmi, lalu Wisely dengan malu hati. “Aa, aku ke warung dulu.”


“Ish! Sini!” Lasmi yang tengah duduk di ruang tamu bersama suami dan calon menantu melambaikan tangannya. “Masih ada itu. Bawa ke sini.”


Sudah puluhan tahun hidup susah, Lasmi terbiasa dengan segala problematika kehidupan. Dari lahir hingga setua ini, dia sudah kenyang dengan segala kesulitan. Yang awalnya tak terima, kini berdamai dengan takdir Yang Kuasa.


“Digulung dari bawah, Ni,” titahnya pada si bungsu yang sebentar lagi akan menikah dengan pengusaha dari kota. Jadi wanita itu harus pintar. Hidup itu seperti roda, kadang di atas, sering kali di bawah. Kalau lagi di bawah, mesti pintar-pintar membaca situasi.” Melirik ke arah Wisely, dia berharap sang menantu bisa menilai kebijakannya sebagai seorang ibu.


“Ini sudah habis, Bu. Aku mengambilnya sudah digulung setengah.” Seruni protes.


“Gulung sampai lehernya, Ni. Masih ada itu. Jangankan tangan Wise, untuk tangan orang sekampung pun masih bisa.” Lasmi tampak berdiri dan berjalan menuju ke dapur. Tak lama, wanita itu sudah kembali dengan sebuah gunting yang gagangnya sudah patah sebelah. “Mana.” Mengulurkan tangan, wanita tua itu semringah. Hatinya tengah berbunga-bunga, terus memandang panci dan kuali baru yang diletakkan di atas meja ruang tamu.


“Memang masih ada, Bu?” Sandi mendongak dari tempatnya duduk. “Beli baru saja, lagi pula mau dipakai juga, ‘kan?”


“Masih. Tuh!” Lasmi meletakkan odol yang sudah diguntingnya itu ke atas meja. Dibentangnya hingga menjadi lembaran dengan pasta kental berwarna putih menempel tipis di mana-mana. “Colek dan oleskan di kulit yang luka bakar, Ni.”

__ADS_1


Seruni ragu. “Apa ampuh, Bu?”


“Dijamin. Ini resep turun temurun dari zaman leluhurku. Jangan banyak membantah. Lakukan cepat, sebelum lukanya tambah menjadi.”


Seruni menurut. Duduk bersisian di kursi panjang yang, ragu-ragu menggenggam asal tangan Wisely. Malu bercampur gugup saat jari-jari pria itu bersentuhan dengan jemarinya.


Wisely diam-diam memperhatikan. Diamatinya gadis yang tengah mengoleskan pasta gigi pada tangannya yang menggantung. Jari lentik Seruni tampak lincah menari di atas kulitnya yang memerah.


“Sakit, Aa?” tanya Seruni, tiba-tiba mengangkat kepala. Dia tak enak hati saat mendapati pasiennya diam seribu bahasa.


Dadanya berdesir, detak jantung mendadak tak beraturan. Ingin membuang pandangan sejauh mungkin, tetapi sesuatu memaksanya untuk tetap memperhatikan gadis yang tengah menunduk dan meniup luka bakar di tangannya. Di ujung kegugupan, dia merasakan jari-jarinya dan jemari Seruni nyaris bertaut.


Calon istrinya terlalu serius menghadapi luka bakar yang tak seberapa hingga tak menyadari kalau di ujung sana jemari mereka tengah bertegur sapa mesra.


“Kalau memang masih sakit, Aa ke dokter saja. Takutnya makin parah.” Seruni menurunkan tangan pria itu dengan hati-hati setelah memastikan semua kulit yang memerah telah diolesi pasta gigi.

__ADS_1


“Ya.” Wisely kecewa saat jari-jarinya dan Seruni berpisah. Ingin mencengkeram kembali tangan yang telah menahan tangannya saat aksi pengobatan tadi. “Aku traktir sarapan, ya. Baru setelah itu balik ke Jakarta.”


Seruni tercengang. Tak memberi jawaban, wanita tua yang sejak tadi diam menyimak sudah berseru penuh semangat.


“Boleh, Wise.” Terbayang restoran mewah yang selama ini hanya dilewatinya. Kesempatan menikmati sajian yang sebelumnya hanya hadir dalam bayangan.


“Kita sarapan bubur ayam di dekat rumah saja,” ujar Sandi, memberi ide.


“Aduh, Pak, kenapa bubur ayam lagi. Kita sudah biasa makan bubur ayam gerobak Mang Dadang. Tidak enak dengan calon mantu. Tempatnya sempit, desak-desakan dan berebutan lagi. Sebaiknya, kita ke kota. Dekat pasar itu ada restoran baru. Kita sarapan di sana saja.”


Sandi tercengang, matanya berkedip-kedip berulang.


“Ni, ayo siap-siap. Ganti baju dengan yang agak rapi sedikit. Kita sarapan di restoran saja, jangan di bubur ayam. Tidak enak dengan Wisely. Dia mana pernah makan bubur ayam kampung. Mana murah lagi, semangkuk lima ribu kerupuk berlimpah. Apa yakin dengan kebersihannya?” Lasmi berkilah.


Lagi-lagi Sandi melongo. “Selama ini perutku baik-baik saja menerima bubur ayam Mang Dadang. Tidak ada keluhan sakit perut dan sebagainya. Bahkan, Ibu yang langganan di sana.”

__ADS_1


“Itu Bapak, yang tampang dan perutnya sudah terbiasa. Ini ‘kan beda. Wise dari kota. Makanan di rumahnya saja tidak sama dengan kita, Pak. Kalau sampai Nak Menantu diare, bagaimana? Apa Bapak mau tanggung jawab?”


__ADS_2