Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Kelakuan Ibu Lasmi


__ADS_3

“Aa, jangan.” Seruni menahan langkah Wisely yang hendak maju dan memadamkan kompor.


Semua orang panik dengan cara masing-masing dan dia tak mungkin berdiam diri. Apalagi kobaran api sudah semakin besar dan menyambar botol minyak sayur di dekat kompor.


“Kalau tidak dimatikan nanti apinya ke mana-mana.” Wisely menenangkan sembari mengarahkan tangannya ke arah kompor. Lidah-lidah api tampak menyapa semua benda yang ada di dekatnya. Setelah berhasil melalap botol minyak sayur, tampak kain lap dan stoples bumbu ikut menjadi sasaran. Area terbakar kian lebar, tak lagi mengerubungi kuali yang kini tak terlihat bentuknya, terkurung lidah-lidah jingga membara.


Sandi tampak berlari di tengah perdebatan Seruni dan Wisely. Pria tua itu tak lama kembali dengan seember air dari kamar mandi. Disiramnya dari jarak dua meter. Bukan mereda, kobaran semakin menggelora dan memercik tinggi.


“Aaah!” Seruni menjerit ketakutan bersamaan dengan Lasmi yang ikut tersentak dari lamunan.


Wisely menarik mundur gadis itu dan menyembunyikan tubuh Seruni di balik punggung.

__ADS_1


“Ajak Ibu keluar dan minta bantuan. Takutnya api semakin besar.” Wisely mulai panik saat api menjalar semakin lebar. Dapur sederhana dengan banyak material kayu dan plastik itu bisa saja tak mampu diselamatkan andai mereka tidak bergerak cepat.


“Aa, hati-hati.” Seruni panik.


“Ya.” Wisely masih sempat mengusap pelan pundak Seruni sebelum melepaskan baju dari tubuh gagahnya. Dicelupkan ke dalam ember berisi air yang dibawa Sandi lalu digunakan untuk mematikan api yang semakin berkobar ke mana-mana. Tak dipedulikan beberapa jilatan mengenai tangan, panik membuat rasa panas itu tak berarti lagi.


Tak butuh waktu lama, kerja sama Wisely dan Sandi berhasil menjinakkan api. Bulir-bulir peluh bercucuran di tubuh keduanya bersama dengan napas yang masih naik turun.


“Santai saja, Pak.” Pria tak mengenakan atasan itu berjalan keluar. Hawa panas ditambah kepanikan membuat tubuh gagahnya mengkilap oleh keringat.


Menyapu seisi ruangan, tak terlihat Seruni dan Lasmi di ruang tamu. Akan tetapi, samar-samar terdengar suara obrolan dari teras rumah.

__ADS_1


“Ada apa?” Wisely bermonolog. Berjalan keluar untuk memastikan, dia bisa menangkap suara Seruni.


Baru saja menginjakkan kaki di teras rumah, Wisely dibuat ternganga saat mendapati Lasmi tengah berjongkok di halaman rumah. Di depannya tampak berbagai macam panci dan kuali yang masih digantung di atas kayu pikul berukuran satu meter lebih.


“Ni, ada apa ini?”


Wisely menyapa Seruni yang sejak tadi memanggil Lasmi agar segera menyudahi. Terlihat gadis itu tidak nyaman dengan apa yang dilakukan ibunya.


“Ah, Aa.” Gadis cantik dengan dandanan sederhana itu berbalik. Mendadak malu dengan sikap ibunya, dia terdiam kaku.


“Ibu kenapa?” tanya Wisely penasaran.

__ADS_1


“Ah, ada Wise di sini. Kuali Ibu sudah hancur tak berbentuk. Ini mau ambil yang baru lagi.” Lasmi menjawab dengan tidak tahu malunya. Beralih pada pria paruh baya yang berdiri di dekat perabotan, dia kembali berkata. “Akang ini perhitungan sekali. Aku sudah katakan cicilan dua belas bulan. Jangan khawatir, aku tidak akan menunggak. Menantuku orang kaya di kota. Mobilnya saja bisa membeli pabrik kuali.” Lasmi menyambar kuali berukuran sedang dari keranjang dan memeluknya lancang.


__ADS_2