Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Tragedi di Pelaminan


__ADS_3

“Bapak? Ibu?”


Seruni melompat turun dari mobil mewah Wisely tanpa basa-basi, sontak memancing heran pria tampan di balik kemudi. Dia harus memastikan sendiri kalau penglihatannya tidak salah di tengah keremangan malam dan hiruk pikuk para tamu undangan.


“Ni, mau ke mana?” Wisely melongo. Tatapannya terus mengekor pergerakan Seruni yang menerobos keramaian. Dentuman musik bercampur dengan suara orang-orang yang ikut berdendang membuat tanya tenggelam. “Ada apa, ya?” tanyanya. Pandangan terkunci pada wanita muda yang tengah menemui pasangan tua di sela-sela keramaian pesta.


Baru akan menebak kisah di depan mata, Wisely yang belum sempat mematikan mesin mobil dibuat terkejut dengan kehadiran Seruni yang sudah kembali dengan kedua orang tuanya. Pasangan tua itu tampak berantakan dan basah. Tubuh menggigil, wajah pun kusut masai.


“Ada apa, Ni?” Wisely menoleh ke belakang bersamaan dengan Seruni yang membuka pintu bagian penumpang.


“Masuk, Pak, Bu. Kenapa sampai basah kuyup seperti ini?” tanya Seruni, tak menggubris pertanyaan Wisely yang ditujukan untuknya. Dengan lancang dia mempersilakan kedua orang tuanya menumpang di mobil mewah sang calon suami.


“Ni, ini kenapa sampai basah kuyup?” tanyanya, penasaran.


“Aku juga tidak tahu, Aa.” Seruni menjawab sembari membantu Lasmi yang masih berkebaya itu duduk. Lalu, gadis itu menutup pintu mobil dan bergerak ke kursi depan.

__ADS_1


“Memangnya ada apa? Di mana Anga? Sampai basah kuyup begitu, apa yang terjadi?” tanya Wisely, masih saja penasaran.


Duduk manis sembari memasang sabuk pengaman di tubuh, kedua bahu Seruni naik turun pertanda tak mengerti. Setelah memastikan tali pengaman itu melintang rapi di dadanya, dia pun menoleh ke belakang.


“Pak, kenapa sampai basah kuyup begini?”


“Itu, pelaminannya roboh. Sampai ke tenda-tendanya ikut rebah. Mana lagi hujan lebat.” Sandi bercerita sembari melipat tangan di dada menghalau dingin yang sudah mencabik sampai ke tulang.


“Bagaimana bisa?” Seruni melirik ke arah Wisely yang tengah mengeryit. Jelas sekali pria itu menyimpan rasa ingin tahu yang sama.


“Tadi tiba-tiba hujan lebat, bersama kilat dan petir. Mana di jam-jam tamu berdatangan. Jadi, semuanya berebutan mencari tempat berteduh.” Sandi menjelaskan.


“Bagaimana bisa?” Seruni kembali melontarkan tanya yang sama berulang-ulang. Otak gadis cantik itu belum bisa menerima musibah yang menimpa kedua orang tuanya.


“Bisalah. Buktinya ini ….” Lasmi memamerkan sepatunya yang berjejak lumpur dan tinggal sebelah. “Mana … aku berhutang dengan ibu warung. Rasanya tidak adil. Aku masih harus membayar cicilannya, sedangkan sepatunya sudah hilang sebelah.”

__ADS_1


“Ya Tuhan, Bu. Kenapa sampai berhutang? Lagi pula, sepatu lama ‘kan masih ada?” Sandi menggeleng.


“Mana ada. Itu sudah kelupas kulitnya, seperti orang kudisan.” Ibu Lasmi merengut.


“Sudah-sudah.” Seruni tak enak hati. Di saat terkurung di dalam mobil, perdebatan orang tuanya jadi tontonan gratis untuk Wisely. Jujur, dia malu hati saat calon suami melihat bagaimana miskinnya mereka sampai untuk sebuah sepatu pun harus berhutang sana sini. “Kita pulang. Nanti baru lanjutkan di rumah.”


“Anga juga!” Lasmi masih menggerutu. “Di saat kami tertimpa tenda pelaminan, dia malah tertawa terbahak-bahak. Putri tak tahu diri. Bukannya membantu, malah ikut menertawai. Dia malah sibuk masuk ke rumah mertuanya, tak peduli dengan kami.”


Seruni menggigit bibir. Melirik ke arah Wisely yang tertegun, gadis itu mengulum senyuman malu-malu. Rasanya ingin bersembunyi dari dunia saat pria tampan itu menguliti sebagian kisahnya yang menyedihkan.


“Aa, kita jalan sekarang.” Tak mau berlama-lama, dia benar-benar tak enak hati.


***


Malam menuntaskan tugasnya, pagi merangkak datang. Gelap perlahan berganti terang, kokok ayam menyambut hari baru. Di ruang tamu sederhana kediaman Kang Sandi tampak Wisely tengah duduk sembari menyeruput kopi buatan Seruni ditemani sepiring pisang goreng.

__ADS_1


“Ni, untuk pernikahan kita … sebaiknya disiapkan di Jakarta.” Wisely membuka suara. Apa yang didengar semalam membuatnya waswas dan berpikir keras. “Masih cukup waktu untuk menyiapkan segala sesuatu. Akhir bulan ini … aku akan menjemputmu, kita ke Jakarta.”


Seruni ternganga, tak mampu berkata-kata.


__ADS_2