Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
31. Kebahagiaan Lasmi


__ADS_3

Cakrawala menangis sejak pagi, mengiringi pernikahan Caraka dan Kenanga. Awan gelap bergelayut, terbang rendah di langit kota Bandung. Harusnya, hari bahagia disambut gembira semua orang. Kenyataan, hal itu tidak terjadi. Sang pengantin wanita merengut sepanjang sejak membuka mata, sedangkan anggota keluarga yang lain mengumbar senyuman datar. Satu-satunya yang terlihat normal hanya Wisely, orang luar yang sebentar lagi akan masuk dalam daftar keluarga Sandi.


Tak hanya dari pihak pengantin wanita, Caraka pun menunjukkan raut serupa. Sejak bertatap muka dengan Seruni di kediaman Sandi, pria muda itu terus memasang wajah ditekuk. Semakin menjadi ketika melihat mantan kekasih tak sendiri. Ada Wisely yang terus menemani di sisi gadis muda yang hari itu tampak cantik sempurna melebihi ratu sehari, Kenanga.


Kalau Kenanga bersama Caraka menumpang mobil pengantin, Seruni dan pasangan suami istri Sandi menuju ke tempat acara bersama Wisely. Bagaimana hebohnya Lasmi saat duduk di kursi penumpang, mengagumi mobil mewah yang seumur hidup baru dicobanya sekali ini.


“Harum, ya, Pak.” Menyenggol lengan Sandi yang terdiam di sampingnya.


“Hmm.” Sandi memandang Seruni yang sedang duduk manis menemani Wisely di belakang kemudi. Betapa bahagianya melihat interaksi pasangan muda-mudi yang baru saja berkenalan dan dijodohkan, tetapi mulai beradaptasi.


“Ini ... ini kalau hujan sudah reda, pesta sudah selesai, bisa ajak Nak Wisely keliling kota Bandung. Ya, ‘kan, Ni?” Lasmi kembali bersuara. Terbayang bisa menumpang mobil mewah tersebut lebih lama.

__ADS_1


Seruni melirik pria tampan di sebelahnya. Sesaat, dia terpana akan pesona pria ibu kota dengan jas mahal dan beberapa barang branded yang melekat di tubuh.


“Buat apa? Selesai acara masih lama. Ini saja belum dimulai. Lagipula, Nak Wisely juga akan segera kembali ke Jakarta. Tidak ada waktu untuk jalan-jalan.


Ya Tuhan, pria tua ini benar-benar, ya. Sekian lama menikah, dia belum paham juga otak istrinya.


Berbisik pelan, Lasmi mendekatkan bibirnya di depan telinga Sandi.


“Aku ingin menikmati jadi orang kaya, walau hanya sesaat. Setidaknya, ke depan tidak tersesat. Lagi pula, kapan lagi, Pak?” Lasmi menjelaskan.


“Kalau begitu, keliling kampung satu putaran juga tak masalah. Setidaknya orang-orang tahu kalau menantu kita ini bukan kaleng-kaleng. Dari Caraka yang anak juragan sapi, sampai Wisely yang anak juragan semen. Orang-orang tak lagi meremehkanku, Pak.” Berbisik kembali, ucapan Lasmi sanggup memaksa sepasang mata Sandi membulat sempurna.

__ADS_1


“BU!” tegasnya.


“Itu faktanya, Pak.”


Lasmi melipat tangan di dada. Sejak awal masuk ke dalam mobil, dia meminta Wisely menyalakan pendingin mobil hingga maksimal. Tak sampai di situ, diarahkan semburan itu mengarah padanya hingga kini terkena batunya.


“Jangan macam-macam.”


“Bukan begitu, Pak. Kalau ibu warung tahu menantuku berkelas semua, mereka tidak akan segan-segan memberi pinjaman. Jangan-jangan limitnya pun naik. Biasa hutang sambal terasi dan ikan teri, ini bisa hutang daging ayam apa sapi.” Lasmi tergelak pelan.


“Jangan macam-macam. Hutang dibawa mati. Kalau tidak perlu-perlu sekali, ya jangan.” Mengirim tatapan tajam, Sandi berharap istrinya berhenti mengoceh.

__ADS_1


“Payah. Pantas saja sejak dulu hidup kita susah. Bapak itu tidak berbakat jadi orang kaya.” Lasmi mendengkus kesal. Kembali bergidik terkena semburan AC, hawa dingin itu menembus kebaya dan menyerang kulit. “Hih, pantas saja. Mobil orang kaya, pendinginnya saja menyesuaikan suhu Eropa. Kalau mobil Caraka tidak sedingin ini. Menyesuaikan cuaca Indonesia. Apalagi mobil pick up yang dibawanya minggu lalu. Meriang ibu terkena angin malam. Kaca jendelanya macet, aroma BAB sapi masih melekat.”


“Ibu sih manja. Aturannya naik angkot saja. Ini memaksa Raka bawa mobil. Yang ada mobil itu, ya terima nasib sajalah. Itu masih lebih baik dibandingkan motor bututku. Setidaknya kalau hujan tidak kebasahan.” Sandi menegaskan.


__ADS_2