Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Mirip Mama


__ADS_3

“Bu, belum bisa. Biasa dengan orang lain aku hanya enam bulan.” Pria yang berprofesi sebagai tukang kredit perabotan keliling itu menolak.


“Ah, jangan perhitungan. Anggap saja pelaris. Pagi-pagi begini, mana mungkin dapat pelanggan. Aku juga kebetulan. Kalau kualiku tidak dilalap api, mana mungkin mengambil kreditan denganmu.” Ibu Lasmi mengibaskan tangannya pada perabotan-perabotan memasak yang menggunung di dalam keranjang sambil berseru. “Laris manis tanjung kimpul. Dagangan laris, duit mengumpul.”


Seruni menggeleng. Wajahnya tertunduk menahan malu. Dia tak sanggup berkata-kata saat kelakuan ibunya jadi tontonan sang calon suami.


“Kualinya berapa, Pak?” Wisely tampak merogoh saku celana dan mencari keberadaan dompetnya. “Aku bayar cash saja.”


“Enam puluh ribu, Pak.” Pria paruh baya itu menjawab dengan setengah membungkuk.


“Hah! Kamu mau menipuku?” Lasmi menjerit kencang saat mendengar harga yang disebut. “Tadi, kamu menghitung seratus ribu. Sekarang enam puluh ribu. Benar-benar kelewatan mengambil untung!” Tak terima, dia berbalik dan hendak memarahi pria tua tersebut.


“Sudah-sudah, Bu. Tidak apa-apa. Wisely menengahi sembari menyodorkan uang seratus ribu. “Ambil saja kembaliannya, Pak,” lanjutnya santai.

__ADS_1


Lasmi tercengang. Tak terima dengan kenyataan di depan mata, dia buru-buru menghampiri penjaja perabotan keliling dan meminta kembalian.


“Mana kembaliannya? Uang menantuku itu seratus ribu. Masih ada empat puluh ribu. Jangan coba-coba berkelit. Itu bukan hakmu, itu hak menantuku. Aku mewakili untuk mengambil kembali haknya yang masih tertinggal padamu.” Lasmi menyodorkan tangan. Sembari menunggu, wanita tua itu melirik perabotan lain yang menarik perhatiannya sejak lama.


Tahu begini, aku ambil banyakan. Bisa saja semuanya ditraktir Wise. Bodoh sekali. Lasmi merutuki diri sendiri. Kesempatan emas terlepas, dia gagal membeli perabotan memasak yang diidamkannya.


Seruni kian tertunduk. Rasanya ingin bersembunyi dan tak berani menatap Wisely yang kini sudah berdiri di sampingnya. Andai bisa, dia ingin berlari dan masuk ke kamar. Tidak mau jadi saksi kekonyolan ibunya.


“Ni, apa aku bisa pinjam baju Bapak. Bajuku terbakar.” Wisely membuka pembicaraan.


“Sudah, tapi bajuku terbakar.”


“Aa, baik-baik saja, ‘kan?” Seruni panik. Mengamati penampakan Wisely yang tak mengenakan baju, dia menelan ludah. Malu tiba-tiba menggerogotinya.

__ADS_1


“Pakaianku terbakar. Soalnya tadi aku gunakan untuk memadamkan api.” Mengarahkan telunjuk ke dalam rumah, Wisely tak menyadari lengannya terluka.


“Aa, tanganmu terbakar?” Seruni terkejut. Lengan kanan Wisely tampak memerah. Direngkuhnya tangan pria itu dengan lancang untuk memastikan. Mengernyit seakan ikut merasakan, gadis muda itu mendekat. “Ini sakit, Aa?” tanyanya, mendesis.


Cukup melihat saja, dia bisa merasakan nyeri yang tengah dirasakan Wisely. Ditiupnya pelan untuk meredakan denyut yang mungkin sedang menguasai lengan kekar itu.


Wisely tak menjawab. Sebagai gantinya, pria rupawan itu tersenyum dalam diamnya. Menikmati perhatian kecil yang selama ini jarang dirasakan.


Dia mirip Mama. Hanya Mama yang selalu peduli dengan hal-hal kecil seperti ini.


Mematung, dipandanginya gadis yang tengah sibuk meniup dengan pelan jejak terbakar di lengannya. Jiwa menghangat, Wisely terjerat dalam belit rasa yang sulit dijelaskan. Dia terkesiap saat kepala Seruni terangkat dan pandangan mereka tak sengaja bertabrakan.


“Apa kita ke dokter saja, Aa? Takutnya nanti bertambah parah.” Kilat di mata Seruni menyiratkan kekhawatiran.

__ADS_1


“Dokter apanya? Ke kamar mandi. Olesi dengan odol, selesai.” Ibu Lasmi tiba-tiba menyela. Wajah semringah, wanita tua itu memeluk kuali dan panci aluminium sebagai pengganti uang kembalian yang tidak jadi diambilnya.


__ADS_2