
Lasmi mengoceh dan mendekati suaminya. Berbisik pelan, dia kembali memberi peringatan.
“Jangan sampai sikap gegabahmu membuat pernikahan Uni batal, Pak. Kita sudah gagal menangkap kakap karena Anga menikah dengan begundal kampung itu. Jangan sampai ikan paus yang ini terlepas.”
Menjeda ucapan pelannya, Lasmi memastikan Wisely dan Seruni tak mendengar.
“Lagi pula, kapan lagi kita masuk restoran. Ini kesempatan, Wise yang membayar. Kamu takut apa? Kita cukup dandan rapi, senyum manis. Naik turun mobil mewah yang AC-nya sampai menggigit tulang. Tolong mulai membiasakan diri, Pak. Kita ini besan orang kaya dari kota. Jangan mempermalukan diri sendiri.” Lasmi menyudahi petuahnya pada sang suami sembari melontarkan senyuman sungkan pada Wisely.
“Ayo, Ni.”
Tangan Wisely mendadak bergerak dan mengusap punggung Seruni yang duduk di sisinya. Sikap spontan dan membuat pria itu tak enak hati. Otak tak mampu mengontrol pergerakannya dikarenakan perasaan yang mendadak berantakan. Sentuhan sang calon istri beberapa menit lalu mampu membuat pertahanan dirinya porak-poranda.
***
Restoran pilihan Lasmi seakan jadi bola api yang membakar wanita tua itu sendiri. Perdebatan pagi memang berakhir, tetapi bukan berarti masalah terselesaikan.
__ADS_1
“Makanan apa ini?” Lasmi memandang potongan daging berukuran besar ditemani kentang goreng, wortel rebus dan asparagus.
“Steik, Bu.” Seruni menjawab pelan.
“Mana kenyang kalau tidak ada nasi? Kenapa pesan lauknya saja, tidak sekalian nasi?” tanya Lasmi, kesal. Pandangan mengedar ke sekeliling dan mendapati suaminya tengah serius memotong daging dengan pisau.
“Ini ganti nasi, Bu.” Wisely menunjuk kentang goreng yang menggunung di sudut piring.
“Ini sayur. Bukan nasi.” Lasmi cemberut.
“Hah!” Mata Lasmi membola. “Restoran semewah ini tidak menyediakan nasi? Yang benar saja? Warung tenda di pinggir jalan saja masih ada nasi. Ini lagi, sambalnya mana?” Wanita tua itu mengoceh saat melihat suaminya menuang saus ke atas potongan daging.
“Ini steik, Bu.” Seruni berusaha menahan sabar.
“Aku tidak tahu apa itu steik. Aku dari kampung, tahunya nasi uduk sambal lalapan. Ini daging ada, lalapan ada walau bukan petai dan jengkol muda.” Lasmi menunjuk potongan wortel rebus. “Kenapa sambalnya tidak ada? Apa mesti pesan terpisah? Mana nikmat makan seperti ini? Ya ‘kan, Pak?”
__ADS_1
“Makan saja, Bu. Ini menu luar negeri. Ibu belum pernah, ‘kan?” Sandi menenangkan. “Lagi pula, bukannya Ibu yang sudah memilih tempat ini. Lalu, kenapa protes?”
Lasmi merengut. Masih tak terima dengan sajian di atas meja. Dia berharap bisa makan besar dan kenyang sampai sore. Ternyata, semua di luar dugaannya. Tidak ada menu ayam panggang, ikan bakar, dan cah kangkung kesukaannya. Apalagi menu cumi goreng tepung yang pernah dicobanya saat di hajatan tetangga tahun lalu.
“Sudah. Aku ke depan. Di sana ada warung makan. Aku beli nasi putih.” Seruni mengalah. Tak enak hati dengan Wisely yang sejak tadi diam-diam memperhatikan.
“Ya, sekalian belikan Ibu sambal terasi. Bapak mau?” tawar Lasmi, melunak.
Sandi mengibaskan tangan, terus menunduk menahan malu.
Baru saja berdiri setelah mengeluarkan dompet dari tas tangan sederhananya, langkah Seruni tertahan oleh Wisely yang tiba-tiba ikut melakukan hal yang sama.
“Aku ikut, Ni.” Wisely tersenyum.
***
__ADS_1
Masih ada satu bab lagi