Seuntai Impian Seruni

Seuntai Impian Seruni
Ke Kota


__ADS_3

“Ibu mau ikut?” Wisely melontarkan tanya yang membuat wajah Lasmi berubah cerah.


Awan mendung yang sempat menyelimuti perasaan wanita tua itu lenyap tak berbekas. Lasmi mengangguk cepat.


“Bapak juga boleh ikut.” Wisely menambahi.


Sepasang mata berhias keriput di kedua sudut itu tampak berkilat bahagia. Ungkapan jiwa yang terpenjara sejak muda. Terkungkung kesulitan ekonomi, terpasung takdir yang digariskan untuknya.


“Ser ... ser ... serius?” Tubuh Lasmi terasa lemas. Seumur-umur baru kali ini mendapat kejutan istimewa. Tak mampu diungkapkan dengan kata, kebahagiaan yang menghantamnya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.


Lahir dari keluarga kurang berada, Lasmi bertarung dengan kehidupan susah ini sejak masih belia. Nestapa begitu setia menemani hingga menikah dan harus kehilangan suami saat Kenanga masih bocah. Sedikit beruntung bisa bertemu dengan Sandi yang kehilangan arah karena ditinggal sang istri yang kala itu harus pergi setelah melahirkan Seruni. Hingga di titik inilah dia kini, menua bersama keluarga sederhana.


“Ya, Bu.” Wisely tersenyum.


Ternganga sejenak sebelum akhirnya bergegas ke dalam untuk menemui Sandi. Lasmi yang tengah berbahagia sampai lupa mengundang calon menantunya masuk ke dalam rumah hingga memaksa Wisely melangkah lancang tanpa permisi.


Senyum terukir samar di wajah tampan Wisely ketika pandangan mengedar. Rumah sederhana dengan kehangatannya, acap kali dirindukan akhir-akhir ini selain sosok Seruni yang mampu menghipnotis dengan kelembutan dan kepolosan.

__ADS_1


“Aku terpikat karena dia berbeda.”Wisely berkata pelan, berdiri di tengah ruangan dengan satu tangan menyelip di kantung celana.


***


Melajukan mobil menjelajah jalan Bandung Jakarta, perjalanan kali ini lebih lambat dibandingkan tadi pagi. Macet di beberapa titik dan perbaikan jalan membuat tersendat. Kendaraan yang dikemudikan Wisely dengan tiga penumpang baru terparkir di halaman rumah orang tuanya saat jam makan siang.


Sambutan ramah Erlang dan Kana menyambut calon besan sudah terlihat dari senyuman keduanya sembari membantu membuka pintu mobil untuk tamu jauh dari kota Bandung. Seruni terpana, bukan hanya karena bangunan megah nan mewah yang terpampang nyata di depan mata, tetapi juga pasangan pemilik rumah yang menyambut kedatangan mereka bak tamu istimewa.


“Bagaimana bisa?” Tanya itu terlontar spontan dengan pandangan tertuju pada kedua orang tuanya yang diperlakukan bak raja dan ratu.


“Mereka benar-benar luar biasa.” Seruni sedikit lega. Tadinya, dia sudah membayangkan akan mendapatkan mertua-mertua yang seperti di drama televisi. Nyatanya, ketakutan itu hanya sebatas asumsi tanpa bukti.


“Ni.”


Di tengah kekaguman pada keluarga pengusaha semen itu, sapaan pelan menyentak Seruni. Tercengang saat sebuah kartu disodorkan di depannya.


“Ini apa?” Seruni ragu.

__ADS_1


“Ambillah. Ini untukmu, Ni.”


“Untuk apa?” Seruni bingung.


“Untukmu.” Wisely tersenyum.


“Untuk apa, Aa. Aku masih ada uang.” Seruni menolak sembari mendorong tangan Wisely menjauh.


“Bukan hanya untukmu, Ni. Ini untuk pegangan selama di sini. Pasti Bapak dan Ibu butuh sesuatu, jadi kamu bisa menggunakan ini.” Wisely menerangkan. “Belikan apa yang mereka mau mumpung sudah di sini. Kalau aku yang melakukannya, mereka akan sungkan. Apalagi Bapak. Jadi, kamu saja.” Senyum Wisely mengembang.


Terpaku, Seruni memberanikan diri menatap laki-laki tampan yang tak pernah hadir dalam mimpinya selama ini. Begitu hebat kuasa-Nya, bahkan dua orang yang selama ini tak pernah saling jumpa dan mengenal bisa merajut ikatan dalam waktu singkat. Dua keluarga dengan perbedaan begitu jauh bisa bertemu dan menyatu.


“Terima kasih, Aa.” Seruni ragu.


Akan tetapi, dari apa yang selama ini diketahuinya, ada cara berterima kasih yang mungkin akan membuat segala sesuatu jadi istimewa. Menimbang banyak hal, gadis yang tengah dilanda bimbang itu menerjang keraguan dan rasa malu. Dikecupnya pipi Wisely, lantas tertunduk malu. Ingin menenggelamkan dirinya ke dalam lautan terdalam. Kelancangan yang membuat Seruni merutuki diri sendiri.


Kemungkinan tinggal 1 bab lagi. Sampai jumpa di lain waktu. Aku mohon maaf kalau selama ini sudah terlalu lama menggantung teman-teman semua. Love you all, Casanova.

__ADS_1


__ADS_2