
Berada dalam situasi yang cukup menyenangkan adalah kenangan yang sangat membahagiakan bagi seorang nenek Franda.
Dia merasa akan ditinggalkan oleh tiga orang yang selama ini memenuhi isi rumahnya dengan perdebatan, segala hal yang berbau hal aneh, semuanya akan menjadi sebuah kenangan yang tidak terpisahkan.
Hingga waktu perpisahan tiba, semuanya terasa sangat aneh dan tidak nyaman sama sekali.
"Nek, kami berangkat dulu ya," ucap ayah mertua Franda yang sangat betah tinggal di sana.
Dia bahkan akan kembali setelah selesai bekerja di luar negeri.
Sebuah desa yang memberikan magnet tersendiri bagi mereka, terutama bagi ayah Hang.
Dia adalah pria blasteran yang sangat menyukai kehidupan senyap dengan suara jangkrik di malam hari.
Keadaan yang tidak bisa dibandingkan ketika berada di kota besar, atau luar negeri.
Suasana desa leboh kompleks serta banyak sekali hal baru yang tidak diketahui oleh ayah Hang.
Ayah Hang sangat ingin membawa desa nenek ke luar negeri.
Oleh karena itu, dia akan membuat replika tempat wisata di tempat yang cukup luas.
Sebuah tanah keluarga yang ada di tengah kota.
Ayah Hang ingin memperkenalkan segala hal mengenai kedamaian di desa.
__ADS_1
Nenek sangat berat melepaskan Hang, Franda dan ayah Hang.
Ini pertama kalinya ayah Hang berada di sana karena ayah Hang terlalu sibuk.
"Aku sebenarnya sangat kesal karena kepergiaan kalian sangat mendadak, aku tidak suka. Namun, pada akhirnya kita akan berpisah. Kita menjadi satu setelah beberapa hari. Akan tetapi begitu mudah berpisah, rasanya sangat tidak mungkin. Aku merasa ini semua adalah mimpi buruk," ucap nenek Franda sambil meneteskan air matanya yang memang sangat sering menetes.
"Nek, maafkan kami jika selalu merepotkan ketika berada di tempat ini," jelas Hang.
"Iya nek, apalagi aku, aku selalu berada dalam situasi yang sangat sulit sebab menjadi orang yang jahil setiap hari. Bahkan sejak kecil aku melakukan itu."
Franda memang menyadari siapa dirinya.
Dia tidak bisa diam jika sudah bersama dengan neneknya.
"Aku sudah memaafkan semua salah kalian, selamat tinggal. Jangan lupa untuk kembali lagi."
Hanya saja nenek tidak ingin terlalu memperlihatkan rasa sedihnya.
Setelah berpelukan, ketiga orang itu berjalan menuju depan rumah dengan barang-barang mereka.
.
.
.
__ADS_1
"Nek, kami pulang dulu, aku tidak akan melupakan semua kasih sayang nenek."
Nenek mengangguk, dia sudah mempersiapkan tiga kuda untuk tiga orang anggota keluarganya agar bisa keluar dari desanya menuju stasiun. Nenek merasa sangat sedih jika ikut mengantar sampai stasiun, jadi di tidak mau bersama mereka untuk yang terakhir kali.
"Berhati-hatilah. Banyak orang menjadi aneh ketika sudah pergi dari desa ini. Mereka pasti akan merindukan aku," ucap nenek sangat bangga.
"Haha, ya nenek benar. Apa yang nenek katakan sangatlah menyenangkan, sehingga aku begitu terkesan."
Ayah mertua Franda selalu bercanda dengan nenek, tapi masih sopan, tidak seperti Franda yang tidak pernah menjaga kata-katanya.
Semua orang sudah naik kuda.
Barang-barang juga sudah dikemas dengan baik. Sehingga semuanya tidak ada yang ketinggalan.
Nenek melepaskan semua penat dan menjadi satu dengan kesedihannya lagi.
Bayang-bayang anak dan cucu masih tergiang di dalam sebuah perasaan yang tidak menentu.
Hingga ketiga orang itu sudah tidak ada di sana lagi.
Nenek mencoba bersemangat.
"Aku akan hidup lebih lama sampai si Franda punya anak," batin nenek.
Dia mengusap air matanya dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Rumah itu sepi lagi.
*****