
#NadyaPOV
Namaku Nadya safira, orang banyak memanggilku dengan sebutan Nadya saja sesuai nama depanku. Usiaku 23 tahun. Aku baru saja mendapatkan panggilan wawancara kerja di sebuah perusahaan swasta setelah beberapa minggu terakhir sibuk mencari pekerjaan.
Kriiing...Kriiing..
Jam bekerku berbunyi entah yang keberapa kali, hanya kumatikan secara berkala. Aku terkejut saat membuka mata. jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Sinar matahari mulai malu-malu menembus korden tipis di jendela kamarku. seketika aku bangkit dari tempat tidurku dan berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Gawat! jam delapan ada interview. duh, enggak keburu nih kalau harus mandi," Gerutuku segera melompat dari tempat tidur. aku segera mencuci muka dan gosok gigi. Berlanjut ganti pakaian yang sudah aku siapkan semalam.
Tuk..tuk..tuk...
Suara sepatuku terdengar berisik menuruni tangga. papa dan mamaku sedang sarapan. Mereka berdua secara otomatis menatapku berbarengan, kejadian ini sudah berulang beberapa kali. Setiap akan interview, aku pasti telat bangun dan mereka tidak heran lagi.
"Pa, ma, aku langsung berangkat ya, udah telat nih, "Aku langsung kabur setelah mencium tangan mereka. Sudah bisa di pastikan, aku akan sangat terlambat sampai ke lokasi kerja. tidak ada lagi waktu untuk sarapan, meskipun sebenarnya aku merasa sangat lapar
"Nggak bareng papa aja?" tawar papaku. Beliau sebenarnya satu arah denganku, tapi papa masih sarapan, menunggunya tentu akan membuat aku semakin telat dan mau tidak mau aku harus menolaknya.
"Aku naik angkot aja, pah" sahutku sambil setengah berlari. Sama sekali tidak bisa santai di saat begini, yang terpikirkan olehku adalah bagaimana cara tercepat sampai ke kantor.
__ADS_1
Sesampainya di perusahaan yang memanggilku untuk wawancara, aku buru-buru menuju ruang interview. Sialnya, tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang seketika membuat perasaanku memburuk. tentu saja aku akan semakin kehabisan waktu karena hal ini.
"Aduuh mas, kalau jalan fokus dong! berkas saya jadi berantakan kan?!" ucapku ketus sambil merapikan berkasku yang berserakan tanpa menatap ke wajah orang yang ku tabrak. Sepertinya memang salahku, tapi aku ingin mempertahankan harga diri. Toh, kami saling menabrak. Aku tida mau mengalah begitu saja.
"Mbak yang salah, kok jadi nyalahin saya sih," Suara cowok. Aku menabrak seorang laki-laki dan menanggapiku dengan santai dan tegas. Tapi aku tidak perduli, dia seorang laki-laki ataupun perempuan, itu tidak penting bagiku.
Aku masih mencoba acuh, tidak memperdulikannya dan fokus membereskan semua berkasku yang berantakan karena kejadian itu. bisa kalian bayangkan, kan? di saat kalian sedang buru-buru, lalu tiba-tiba ada seseorang yang menabrak kalian tanpa sengaja?
Akhirnya aku berhasil mengumpulkan kembali berkasku yang berserakan tadi dan di saat aku tegak hampir bersamaan dengan dia, aku terpesona.Pria yang baru saja ku tabrak ternyata memiliki wajah nyaris sempurna. Kulit wajahnya juga mulus tanpa setitik noda pun. Aku benar-benar terpikat dengan ketampanannya yang belum pernah ku lihat dari pria lain yang ku temui selama ini. Dari tanda pengenalnya aku tahu namanya, Bintang.
Ada ya nama cowok sesederhana itu. Muncul tanya di pikirku, kenapa harus Bintang? Seperti nama cewek saja.
"Mbak.. mbak.. Hallo!" Pria itu melambaikan tangannya untuk menyadarkan lamunanku. Astaga! Aku sangat salah tingkah saat itu. Dengan semena-mena aku menegurnya, sekarang aku malah terpesona dan dia menyadari itu, rasanya aku mau menenggelamkan diriku saja. Malu sekali dan pasti wajahku memerah saat ini.
Aku sempat membaca nama yang tertera di atas saku bajunya tadi, Bintang. Sebuah nama yang cukup aneh untuk seorang cowok menurutku, tetapi biarlah, terserah dia mau pakai nama apa, bulan, matahari, ataupun hujan, yang pasti aku harus segera melakukan interview sekarang juga.
Kabar baiknya, meskipun telat, ternyata peserta interviewnya lumayan banyak, jadi aku selamat. Satu lagi, aku di terima kerja di perusahaan itu.
Dari situlah awal mula pertualangan cintaku dan juga Bintang di mulai. Kisah awalnya memalukan sekali. Aku bahkan sampai sekarang masih ingat semua itu. Bintang sendiri? Entahlah.
__ADS_1
#BintangPOV
Seperti biasa, aku berangkat ke kantor pagi-pagi, tidak, hari ini aku agak kesiangan. padahal, hari ini ada interview karyawan baru di kantor. Memang salahku, seharusnya aku semalam tidak bermain konsol game sampai larut malam.
Tidak ada yang spesial, semuanya seperti hari biasa, beberapa karyawan menyapaku dengan ucapan selamat pagi tetapi itu sebelum akhirnya aku menabrak seorang wanita yang mungkin salah satu peserta interview. Parahnya, bukannya minta maaf, wanita itu malah memarahiku. Jangan sampai dia di terima, karena kalau itu terjadi, aku ka membuat perhitungan dengannya.
Aku mengabaikannya setelah itu, langsung menuju pantry. niatku untuk menimbrung ke acara seleksi buyar begitu saja. Aku segera minta di seduhkan kopi, duduk sejenak untuk menghilangkan perasaan kesal yang mendera perasaanku.
"Bintang, tumben, kamu ngopi di pantry, biasanya tidak pernah." suara Davin, kakak sepupuku memecah kesunyian, karena setehah di buatkan kopi, aku di tinggal seorang diri di pantry.
"Aku kesiangan, tidak sempat ngopi, di tambah lagi, moodku sedang tidak baik." jawabku jujur, aku memang tidak pernah minum kopi di kantor saat pagi hari.
"Apa yang bisa membuat seorang Bintang kesal? Biasanya kamu selalu cuek di setiap kesempatan. Bahkan, apabila ada gajah yang melintas di hadapanmu, kamu juga akan tetap cuek." ledekan Davin sudah sering aku dengarkan, aku tidak merasa heran lagi kalau dia selalu mengejekku karena sikapku yang sedikit tidak ramah.
"Baru saja, ada seorang wanita yang menabrakku dan dia tidak merasa bersalah, lalu pergi begitu saja. bukankah itu sedikit mengesalkan?" keluhku, yah, jelas itu sangat mengesalkan bagiku. Setiap karyawan sangat menghormatiku, sedangkan dia? menabrakku begitu saja lalu mengomel.
"Mungkin dia jodohmu." celetuk sepupuku itu sembarangan.
"Hei, apa yang kamu katakan? Yang seperti itu apa bisa di sebut sebagai tanda-tanda jodoh? Aku bahkan sudah di jodohkan." aku memang sudah di jodohkan dengan anak dari teman papaku, meskipun aku tidak menyukainya, aku berusaha untuk menerimanya dengan baik.
__ADS_1
"Di jodohkan juga belum tentu jodoh. Tinggal lihat saja, jika nanti kamu masih bertemu lagi dengannya, bisa jadi kalian berjodoh. Sudahlah, aku harus kembali bekerja." Davin pergi meninggalkanku, aku masih santai dan menikmati kopi yang ada di gelasku, agak pahit, sepertinya aku tidak menambahkan cukup gula.
Apakah aku akan bertemu dengan wanita itu lagi? Entahlah, yang jelas aku tidak mengharapkannya.