Si Tampan Pemikat

Si Tampan Pemikat
19. Reuni Sekolah


__ADS_3

GRUP ALUMNI SMA XXX


*Diberitahukan kepada seluruh alumni SMA XXX angkatan ke-8 untuk hadir di acara reuni yang akan di adakan di gedung aula sekolah kita akhir minggu ini --Pak Cokro


Wah, asik ada acara reuni. Makasih pak. Absen, siapa aja nih yang bakalan hadir?--WindaXIIA


Ikut dong pastinya--RamaXIIA


Di usahakan hadir--AyuXIIA


Pembaruan pesan 81*


--------------------------------------


Setelah meminta izin pada Bintang, Nadya menghadiri acara reuni yang di adakan di sekolahnya. Di sela kesibukan mereka mengurus pernikahan, Bintang memberi kesempatan untuk Nadya bertemu dengan teman-temannya.


Suasana sekolah masih seperti dulu, tidak banyak berubah. Saat memandang semuanya, Nadya bisa mengenang masa-masa indah itu. Saat ia dan teman-temannya masih mengenakan seragam putih abu.


Sekarang, sudah seperti apa mereka? Apakah mereka sudah banyak berubah? Sudah bekerja? atau malah sudah menikah dan punya anak? Nadya hanyq tersenyum tipis sambil mengira-ngira semuanya.


"Nadya, Kan?" seorang wanita bertubuh gemuk dengan tinggi badan sedikit lebih pendek dari Nadya dan berambut ikal mengajak Nadya berbicara dan berjalan seiringan.


Nadya mencoba mengingat siapa gadis yang ada di sampingnya itu. Setelah beberapa tahun, meskipun sedikit, wajah-wajah temannya sepertinya agak berubah meskipun hanya sedikit.


"Tere, ya? Maaf kalau salah. Soalnya agak-agak lupa." tebak Nadys. Seingatnya gadis di sampingnya memang bernama Tere, hanya saja badannya tidak segemuk sekarang.

__ADS_1


"Untung saja benar. Kalau Niko, kira-kira masih ingat nggak?" nama itu familiar di telinga Nadya. Niko, cowok yang pernah Nadya taksir, tapi sayangnya bertepuk sebelah tangan.


"Niko datang juga?" Nadya justru balik bertanya pada Tere. Gadis itu mengambil punselnya dan nampak mencari sesuatu.


"Tuh, dia bilang, aku pasti datang. Itu artinya dia akan datang. Wah, kamu sekarang jauh lebih cantik. Aku hampir saja tidak mengenalimu, Nad." puji Tere, Nadya hanya tersenyum.


"Aku tetap sama dari dulu sampai sekarang, Re. Tidak ada yang berubah." sahut Nadya santai.


Mereka berdua telah sampai di aula. Suasana tampak sedikit ramai.Sudah beberapa orang yang datang.


"Nadya, Tere, hai! Apa kabar kalian..." Desi heboh menyambut kedatangan Nadya dan Tere.


"Baik Des, Kamu sendiri?" tanya Nadya sambil memeluk teman sekelasnya itu.


"Aku juga baik. Nad, tuh Niko, kayaknya dia nggak sadar deh, kamu datang." pemberihahuan Desi membuat Nadya memandang ke arah dimana temannya menunjukkan keberadaan Niko.


"Niko, Nadya tuh!" Ryan yang menyadari kehadiran Nadya segera menyadarkan Niko, dan ya, mata mereka bertemu. Niko tidak berkedip beberapa saat dan parahnya, pria itu berjalan perlahan ke arah Nadya.


"Cie... cie... Niko. Jangan sampai kehilangan lagi, Nik." Budi tampak menyemangati Niko.


"Nad, apa kabar?"Setelah sekian lama berpisah, Nadya baru tahu, Niko bukan seperti Niko biasanya.


"Kabarku baik. Kamu sendiri?" Nadya balik bertanya.


"Aku juga baik, ayo kita bicara sambil duduk." ajak Niko, Nadya mengikuti apa mau cowok itu.

__ADS_1


"Sudah lama ya, kita tidak bertemu. Maafin aku, dulu aku terkesan mengabaikanmu. Padahal, sebenarnya aku malu saat itu untuk mendekatimu, sehingga aku pura-pura sibuk sendiri." Niko menjelaskan apa yang terjadi di masalalu mereka.


"Haha. Tak apa Niko. Semuanya juga sudah berlalu. Sekarang kamu kerja dimana?" Nadya mencoba mencari obrolan santai dengan Niko.


"Aku kerja sebagai gamer. Sama seperti hobi dan cita-citaku dulu. Kamu sendiri?" Niko balik bertanya tentang pekerjaan Nadya.


"Aku bekerja di sebuah perusahaan, sebagai sekertaris. Selamat ya, akhirnya apa yang kamu cita-cita kan tercapai juga. Aku turut bahagia untuk itu." Nadya sangat paham kebiasaan dan hobi Niko, pria itu memang ingin sekali menjadi seorang gamer.


"Terima kasih, Nad. Sudah lama kamu kerja di sana?" Niko dalam mode serius, sebenarnya ia hanga tampak serius, sikapnya yang sedikit dingin terkadang membuat orang jadi salah paham.


"Belum, Nik. Baru beberapa bulan. Masih tahap belajar. Kamu masih suka pergi ke pameran lukisan?" Nadya masih ingat, tempat favorit yang biasa di kunjungi oleh Niko adalah tempat pameran lukisan.


"Tentu saja, Nadya. Aku nggak ada bosennya buat datang ke pameran lukisan, padahal tidak ada hubungannya dengan profesiku." celoteh Niko. Cowok yang dulunya pendiam itu sudah berubah lebih renyah sekarang. Nadya hampir tidak percaya Niko bisa seramah sekarang.


"Namanya hobi, pasti akan terus di lakukan. Aku yang sudah meninggalkan hobi karena tidak ada waktu. Di rumah hanya akhir minggu, itu juga rasanya udah mager mau kemana-mana." cerocos Nadya lumayan panjang. Dulu saat sekolah, ia berharap bisa bicara dengan Niko selama ini, tapi boro-boro ngobrol, ketemu saja jarang. Karena Niko lebih banyak menghindar.


"Kapan-kapan, kita bisa keluar bareng nggak? Aku pengen pergi ke pameran sesekali berdua sama kamu. Aku sudah simpan nomormu, hanya saja, aku ragu untuk menghubungimu." ungkap Niko jujur. Ia senang, setelah sekian lama, akhirnya ia bisa bicara berdua dengan Nadya. Menyadari ini, Nadya memutuskan untuk tidak memberitahukan hubungannya dengan Bintang.


Tidak ada niat lain, hanya saja, ia tidak ingin membuat Niko patah hati. Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Ini juga bukan berarti perasaannya pada cowok itu masih sama seperti yanv dulu.


"Kalau ada waktu luang, aku bersedia, Niko. Hitung-hitung sebagai hadiah pertemuan kita lagi. Aku sendiri memang jarang bertemu dengan teman-teman, baru ini." tanpa sadar, Nadya memang lebih sering menghabiskan hari-harinya dengan Bintang. Semenjak ia kerja, tidak ada waktu yang ia lalui sendiri, hari liburnya pun di isi dengan acara-acara kecilnya dengan Bintang.


"Terima kasih, Nad. Kapan nanti aku kabarin kamu. Kamu berarti tidak dapat undangan dari jesika? Dia nikah belum lama ini dengan seorang pria bule." Niko mengalihkan pembicaraan mereka pada Jesika, teman sebangku Nadya dulu.


"Aku malah nggal tahi si jesika nikah. Wah, bagus juga dia mendapatkan seorang bule. Kamu kapan Niko? Apa masih betah sendiri?" ledek Nadya, Niko tersenyum tipis menanggapi ledekan Nadya.

__ADS_1


"Aku santai, mengikuti kemana air akan mengalir, Nad. Aku pernah pacaran beberapa minggu terakhir, tetapi kandas begitu saja karena aku dan dia selalu selisih paham. Aku seorang pemain game, tidak bisa selalu ada, apalagi kalau sedang pertandingan sengit. Awalnya aku sudah menjelaskan, tetapi sepertinya dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menuduhku ini dan itu. Aku butuh seaeorang yang bisa memahamiku." tanpa sengaja, Niko justru mencurahkan beban perasaan yang saat ini sedang ia rasakan.


__ADS_2