
#NadyaPOV
Sesuai kesepakatan, akhir minggu aku di jemput oleh Bintang untuk bertemu orangtuanya. Detak jantungku tak menentu. Paling utama, tentu saja ketakutanku akan reaksi dari orangtuanya yang kemungkinan besar tidak akan menerima kehadiranku.
Benar saja. saat kami tiba di rumah super mewah milik orangtua Bintang, ibunya sedikitpun tidak bersikap manis padaku. Ia menampakkan ketidaksukaannya padaku dengan sangat jelas. Ia menatapku dengan pandangan menghina dari atas ke bawah. Ya, aku sadar, penampilanku sama sekali tidak elegan. Berbeda dengan penampilannya yang glamour sampai tidak sesuai dengan usianya. Aku memilih diam dan tidak berkata apa-apa.
Kami berempat duduk di satu ruangan, tapi rasanya aku tinggal di ruangan yang berbeda diantara mereka. Aku merasa sangat kecil di sini. Aura yang di tampilkan oleh ibu Bintang membuat suasana terasa mencekam. Aku merasa sangat tersudut sekarang. Aku hanya bisa merasakan kehangatan tangan Bintang yang terus memegang tanganku erat.
"Bintang, kamu tahu kalau keputusanmu membawa gadis rendahan ini kehadapanku hanya akan membuatku muak! Aku menyuruhmu menikahi Ruby, gadis yang sudah pasti setara dengan keluarga kita, tapi mengapa kau malah memutuskannya dan memilih dia?!" Ibu Bintang berkata dengan nada tinggi. Wajahnya memerah. ototnya lehernya tampak menegang karena emosi.
"Mi, tolong, hargai keputusanku. Aku ingin menjalani pernikahan yang ada cinta di dalamnya. Ruby tidak pernah mencintaiku, dan kami sudah sepakat untuk berpisah," Andra berusaha untuk tampak tenang. Meskipun aku tahu, saat itu perasaannya pasti sangat kalut.
"Mami tidak akan memberimu restu untuk menikahinya! Jadi lebih baik kamu batalkan niatmu menikahi gadis itu!" Ibu Bintang menunjuk wajahku. Saat itu rasanya aku merasa terhina. Aku mencintai Bintang, tapi respon keluarganya seburuk ini padaku.
"Dengan atau restu mami, aku akan menikahinya! bahkan bila perlu, aku akan meninggalkan rumah ini, jika mami dan papi menolak kehadirannya,"Bintang berkata dengan tenang, namum tegas.
"Jangan, jangan pergi Bintang. Biar nanti papi dan mami mempertimbangkan keinginanmu. Kamu adalah anak kami satu-satunya Bintang. Harapan yang papi punya hanya kamu. Bagi papi, kamu menikah dengan siapapun itu tidak masalah, yang penting kamu bahagia," Ayah Bintang menengahi. Aku bisa melihat kata-katanya tulus. Tapi wajah ibunya sama sekali tidak berubah. Justru makin masam dan menyeramkan.
__ADS_1
"Apa yang perlu di bicarakan! aku tetap akan menolak pernikahanmu dengan dia. Hanya Ruby, yang pantas menjadi menantuku! jadi kau, tinggalkan anakku sekarang juga!" Wanita itu membentakku dan sekali lagi menunjuk wajahku. Benci rasanya di perlakukan seperti ini. Apa karena dia orang kaya, bisa memperlakukanku seenaknya?
"Tante,Saya tidak akan meninggalkan Bintang, kecuali dia yang meninggalkanku. Aku mencintai anak tante, sebaliknya, Bintang juga mencintaiku, apa tante tidak bisa mempertimbangkan perasaan kami?" Aku memprotes sikap Ibu Bintang yang menurutku keterlaluan.
"cih! Siapa kamu?! Beraninya memprotesku dengan berani! Apa orangtuamu tidak mengajarimu bagaimana menghormati orang bermartabat sepertiku?!" Wanita itu benar-benar meludah di lantai. Aku mengepalkan tanganku. Jika dia bukan orangtua Bintang, aku mungkin sudah menampar wajahnya yang mulai keriput dan berbedak tebal itu.
"Saya bukan siapa-siapa tante, tapi saya pacar anak tante! saya memang bukan orang yang selevel dengan keluarga tante, tapi saya punya perasaan yang tulus untuk Anak tante," Aku berusaha membela diri, Bintang juga memberiku kesempatan untuk bicara.
"Jangan bicara ketulusan di hadapanku! ketulusanmu itu tidak bisa untuk membeli secuil berlianpun! Enyahlah! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" Ibu Bintang menyiramku dengan minuman yang ada di hadapanku. Kali ini aku tak tahan lagi aku melepaskan tanganku dari genggaman Bintang dan melangkahkan kakiku dengan langkah panjang keluar dari rumah mewah itu.
"Mama keterlaluan!" Ujar Bintang sambil beranjak mengejarku. Aku mempercepat langkahku.Airmata yang mati-matian ku tahan, akhirnya tumpah sekarang. Hatiku sangat sakit dengan penghinaan ini.
"Nad, tunggu.. Nadya! tunggu aku..." Bintang berusaha terus mengejarku dan aku semakin menjauh darinya. Tapi akhirnya aku berhenti dan menumpahkan airmataku seadanya. Bintang memelukku dari belakang.
"Maafkan mamiku, Nadya. Aku akui dia memang keterlaluan. Tapi aku akan tetap menikahimu, meskipun dia tidak merestui hubungan kita. Aku sangat mencintaimu, Nadya." Bintang mencoba untuk tetap meyakinkanku dan menenangkanku. Tapi apa aku bisa menikahi orang yang ibunya saja tak suka padaku?
"Mas, lupakan saja rencana pernikahan kita, bagaimana mungkin kita menikah sedangkan ibumu tidak mau menerima aku. Lalu apa jadinya jika setiap hari aku harus satu atap dengannya?" Aku mungkin sudah berputus asa. Aku membayangkan saja sudah tidak nyaman.
__ADS_1
"Tolong Nad, ayolah, berjuanglah bersamaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, Aku sangat mencintai kamu Nadya, jangan meninggalkanku," Bintang memelas. Aku sebenarnya juga sama dengannya, aku mencintainya. Tapi, aku merasa tidak berharga di depan ibunya sedikitpun.
"Mas, sepertinya kita putus saja. Hubungan kita tidak ada harapan, untuk apa di teruskan? Keluargaku tidak sepadan dengan keluargamu, mas." Sakit harus mengatakan ini. Hubungan kami baru saja di mulai, tapi aku tidak bisa terima dengan penghinaan yang harus aku terima dari ibunya yang tidak berperasaan itu.
"Nadya, kamu tidak boleh memutuskan hubungan kita begitu saja! ayolah! kita berjuang sama-sama! kamu mau membiarkan aku mberjuang sendirian?!" Protesnya dengan nada tinggi. Ah, dia tidak mengerti rasanya jadi aku. Kesakitanku karena penghinaan ini membuat hatiku terluka.
"Kamu fikir aku tidak sakit memutuskan ini? Aku juga sakit, mas. Aku tidak biaa meneruskan hubungan yang tidak di restui. Aku lebih baik patah hati sekarang, mas." Aku meninggalkan Bintang dengan menyetop taksi dan menyuruh supirnya segera jalan.
"Nadya! Tunggu..." Bintang menggedor kaca jendela mobil, tapi aku tidak perduli. Bahkan ia sampai mengejar mobil yang aku tumpangi sekarang.
Aku memejamkan mata, sengaja agar airmataku tidak jatuh, tapi tetap saja merembes. Aku sudah jatuh hati pada Bintang, aku juga ingin menikah dengan dia. Tapi kenyataan ini tidak membuatku baik-baik saja.
"Maafkan aku, Bintang. Mungkin saat ini, hanya ini jalan yang terbaik untuk kita berdua. Cinta kita mungkin tidak akan berarti apa-apa. Kalau saja aku bergelimang harta, tentu saja orangtuamu dengan mudah akan menerimaku." Aku berbicara seorang diri, pelan. perasaan ini menyesakkan. kenapa harus mengalami penolakan ini?
Sesampainya di rumah, aku masuk ke kamar dan mengunci diriku di sana. Panggilan masuk dari Bintang aku abaikan. Aku butuh waktu untuk sendiri. Ku ambil ponselku dan ku nonaktifkan. Maaf Bintang.
Aku pikir, aku akan tenang setelah menyendiri. Nyatanya, bayangan Bintang tetap menghantuiku. Ketika kita telah nyaman dan jatuh hati pada seseorang, butuh waktu yang tidak sedikit untyk melupakannya.
__ADS_1