
#BintangPOV
Sejak kejadian di rumahku, Nadya jadi sulit di hubungi. Handphonenya mati,tidak masuk kantor beberapa hari. Rencananya aku mau ke rumahnya hari ini. Semoga dia ada di rumah.
Baru beberapa hari tidak bertemu, aku sangat merindukannya. Gadis yang sangat sederhana itu ternyata mampu menyedot perhatianku.
Setelah jam pulang kantor, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Nadya. Meskipun aku tahu hanya akan di tolak olehnya, tapi aku siap. Setidaknya aku sudah berusaha untuk menemuinya.
Perlakuan mama memang keterlaluan padanya. Wajar saja jika gadis itu tersinggung dan memutuskan hubungannya denganku. Akupun mungkin akan melakukan hal yang sama.
Hariku yang mulai berwarna karena kehadiran Nadya, kini menjadi suram. Harapanku sangat tipis untuk dapat meyakinkannya bertahan dalam hubungan ini. Sejak awal dia berharap mempunyai mertua yang penyayang, tentu saja sikap mama menjadi tamparan untuknya.
Ku pelankan mobilku saat mendekati rumah Nadya, saat memasuki halamannya aku merasa sedikit gugup. Bagaimana nanti kalau mamanya mengusirku? Menghujatku sebagai balasan anaknya yang di hina oleh mama. Tidak, aku siap mendapatkan semuanya. Cinta butuh pengorbanan bukan?
"Tok..tok...tok.." Aku mengetuk pintu rumah Nadya. Aku berharap Nadya yang muncul di hadapanku. Aku sangat rindu senyumnya, segalanya tentangnya.
"Eh, nak Bintang. Silahkan masuk, Nak." Mama Nadya menyambutku ramah. Setidaknya, mungkin beliau belum tahu masalahku sengan Nadya.
"Nadyanya ada tante?" Tanyaku pada mama Nadya yang sibuk menyiapkan minuman untukku.
"Ada nak, Sebentar ya ibu panggilkan Dia,"mama Nadya bergegas ke kamar anaknya. Semoga masalah ini akan mendapatkan titik terang hari ini. Aku gelisah karena merasa membiarkan Nadya merasakan lukanya sendirian. Beberapa saat kemudian Mama Nadya kembali dengan wajah panik.
__ADS_1
"Nak, tolong bawa Nadya ke rumah sakit, badannya sangat panas, dia demam tinggi," Aku kaget mendengar penuturan mamanya dan refleks berdiri mengikuti mamanya yang berjalan menuju ke kamar.
Keadaan Nadya jauh dari yang biasanya ku lihat Wajahnya polos tanpa make up. Keringatnya bercucuran, rambutnya yang biasa rapi tampak sangat acak-acakan, dengan bibir yang pucat. Matanya terpejam, tapi ia seperti merintih. Mungkin Nadya menahan rasa sakitnya.
Aku segera menggendongnya dan membawanya ke dalam mobilku, mamanya ikut serta untuk memangkunya di jok belakang. Nadya tidak sadarkan diri. ini semua mungkin kesalahanku. Seharusnya aku tidak mengajaknya bertemu mama.
sesekali aku melirik Nadya yang lemah. Mama Nadya mengingatkan aku untuk tetap tenang, karena aku tidak membawa supir hari ini. Demi kebaikan semua, aku berusaha untuk fokus, meskipun itu sulit.
Aku segera berbelok memasuki rumah sakit terdekat dari rumah Nadya. Aku menggendongnya kembali sampai bertemu beberapa suster yang membantu menyiapkan tempat khusus untuk Nadya, aku dan mamanya mengantar Nadya sampai ruang rawat. Setelahnya, aku tidak di perbolehkan lagi untuk melihatnya sementara waktu. Hanya tertinggal di luar bersama kepanikan yang menjalar di hati dan pikiranku.
"Nak, sebenarnya ada apa antara kamu dengan Nadya? Sejak ia pulang sendiri hari itu, wajahnya murung dan jarang makan. Ia sering menyendiri dan mengunci diri di dalam kamar," Cerita sang mama. Separah itukah akibat penolakan dari mamaku? Aku bahkan sangat bodoh beberapa hari tidak berusaha untuk menengoknya. Kekasih macam apa aku?
"Wajar saja jika orangtuamu menolak, kita memang beda level nak Bintang, apa sebaiknya nak bintang cari gadis lain saja dan melupakan Nadya?" Mamanya menyarankanku untuk meninggalkan Nadya, tentu saja aku tidak akan melakukan itu. Aku sudah jatuh cinta padanya, aku tidak ingin melepaskannya begitu saja.
"Tidak, ma. Aku tetap ada pada keputusanku. Dengan atau tanpa restu mama, aku akan menikahi Nadya," Aku berkata tegas. Aku ingin mama Nadya melihat keseriusanku pada anaknya.
"Mama hanya khawatir, nantinya restu mamamu hanya akan mempersulit Nadya di masa depan. Dia anak manja, dia butuh keluarga yang hangat, mama tidak bisa membiarkan dia menderita," Mamanya meneteskan airmata. Seandainya mamaku seperti mama Nadya, mungkin hubungan kami tidak akan seburuk ini.
"Ma, percayalah padaku, aku akan menjaga Nadya baik-baik. Aku yang akan menjamin kebahagiaannya. Aku juga tidak akan membiarkannya menderita sedikitpun. Aku janji ma," Aku menatap mata mamanya. Aku menemukan kelembutan di sana. Aku yakin mama akan merestui kami.
"Baiklah, jika niatmu seperti itu, tapi mama minta tolong, kamu harus benar-benar menepati janjimu, nak," Mamanya menggenggam tanganku erat. Ini adalah tanggung jawab baru untukku. Mama Nadya sudah merestuiku, saatnya aku mendapatkan ruang lagi di hari Nadya. Aku sungguh tidak ingin kehilangan dia.
__ADS_1
Dokter menemui kami, dan mengajak kami ke ruangannya. Beliau memberitahukan bahwa Nadya menderita Generalized anxiety disorder atau jenis penyakit kecemasan yang parah, selain itu ia juga mengidap tifus dan juga magh. Maka dari itu, kondisi Nadya saat ini kritis dan harus rawat inap. Seharusnya penanganannya akan lebih cepat jika Nadya di bawa ke rumah sakit lebih cepat.
Aku meremas rambutku sendiri. Aku menyesal membiarkan Nadya seorang diri dalam kecemasan berhari-hari. Aku sangat merasa bersalah dengan apa yang dia alami sekarang. Bagaimana bisa aku berjanji untuk menjaganya, sementara saat ini saja aku sudah membuatnya seperti ini. Nadya, maafkan aku.
Beberapa saat kemudian, kami boleh melihat kondisi Nadya. Ia masih sama sepertibtadi, terkulai lemas, bedanya tidak ada lagi keringat yang bercucuran. Aku tidak berani menyentuhnya, hanya ku amati saja wajahnya yang masih terlihat manis meski tanpa apapun.
"Nak, jika kamu ingin pulang, pulanglah. Nanti papa Nadya akan datang menemani mama, siapa tahu kamu lelah dan butuh istirahat," Mamanya berkata lembut padaku. Bagaimana mungkin aku tega membiarkan dia dalam keadaan seperti ini. setidaknya aku ingin menunggunya sampai ia siuman nanti.
"Ma, tolong izinkan aku tetap disini, paling tidak sampai Nadya siuman," Aku setengah memohon pada mamanya, setelah mempertimbangkannya akhirnya mamanya mengangguk setuju.
Aku duduk di sebuah kursi dengan jarak yang sangat dekat. Nafas gadis itu teratur, cahaya wajahnya tidak sepucat pertama aku menemukannya. Cukup sekali ini, aku tidak akan membuatnya seperti ini kedua kali.
Perlahan, aku melihat jari-jari Nadya bergerak. Sepertinya ia akan segera bangun dari pingsannya. Aku sangat senang, semoga ia tidak mengusirku saat ia tahu aku ada disini.
Perlahan matanya terbuka. Aku dengan sabar menantinya sadar. Aku lega akhirnya kondisinya mulai membaik.
"Mas Bintang..." Ia menatapku sambil menangis. Ia mungkin masih teringat tentang kejadian waktu itu.
"Maafkan aku, Nadya," Kataku pelan.
"Aku yang harusnya minta maaf, mas. Aku ingin kita mulai dari awal lagi," Katanya pelan. Aku lega mendengarnya. Aku juga tidak ingin berpisah darimu, Nadya.
__ADS_1