Si Tampan Pemikat

Si Tampan Pemikat
18. Berita Bahagia


__ADS_3

Bintang segera melajukan mobilnya


menuju ke rumah Nadya. Ia ingin segera mengabarkan kabar bahagia ini kepada


kekasihnya itu. Meskipun ia sendiri tidak yakin dengan ketulusan mamanya


menerima permintaannya untuk menerima Nadya  sebagai menantunya.  Tetapi


terlepas dari itu, yang terpenting sekarang adalah persetujuan mamanya.


Bintang telah cukup yakin untuk


mempersunting Nadya sebagai pendamping hidupnya. Sejak awal pertemuan yang


tidak di sengaja itu, Bintang mulai tertarik pada kehidupan gadis itu. Saat dia


dan ruby di jodohkan karena bisnis, sebenarnya Bintang berusaha untuk


menerimanya, karena di saat itu dirinya tidak memiliki pasangan. Namun hasilnya


cukup membuat ia kecewa.  Ruby hanya


menginginkan hartanya.


Sesampainya di rumah Nadya,


Bintang segera turun dari mobilnya. Ia berharap Nadya ada di rumah agar ia bisa


langsung membicarakan semuanya hari ini. Perlahan Bintang mengetuk pintu rumah


pujaan hatinya itu. Hatinya sedikit berdebar dan harap-harap  cemas, ia sudah tidak sabar untuk mengabarkan


berita gembira ini.


Tok..tok..


Bintang mengetuk pintu rumah


Nadya perlahan.  Ia menggosok-gosokkan


kedua telapak tangannya sebagai tanda ia tidak sabar.


“Eh, ada Nak Bintang, pasti lagi


cari Nadya, ya? Ayo masuk,  Nak.”


Ternyata mama Nadya yang membukakan pintu untuknya.


“Iya, Tante,  Nadyanya ada?” tanya Bintang sambil mengekori


mama Nadya masuk ke dalam rumahnya.


“Ada, sebentar, tante panggilkan


dia di kamarnya.” Mama  Nadya


melangkahkan kakinya menuju kamar Nadya, sementara Bintang duduk di ruang tamu


menanti kedatangan Bintang.


“Mas Bintang,  kesini pasti karena kangen sama aku, iya


kan?” tebak Nadya saat ia gabung duduk di dekat Bintang.


“Itu benar,  tentu saja aku selalu merindukanmu. Tapi, ada


hal yang penting untuk aku sampaikan padamu.” Ujar Bintang serius.


“Oh, ya? Apa itu, mas?” Nadya


sangat penasaran dengan berita yang akan Bintang sampaikan padanya.


“Mama, mama sudah menerimamu


sebagai calon istriku, kita bisa segera menikah, Nad.  Aku bahagia dengan ini, tidak ada yang lebh


membahagiakan selain mengesahkanmu menjadi milikku.” Ungkap Bintang dengan


bahagia. Senyumnya sangat lebar saat menyampaikan ini pada Nadya, ia tidak bisa


menyembunyikan rasa bahagianya.


“Tapi, apa semuanya tidak

__ADS_1


mencurigakan, Mas? Bukannya aku tidak percya pada mama, tapi tidak mungkin kan,


orang berubah begitu saja dalam waktu yang begitu cepat?” Nadya mengemukakan


pendapatnya dan berharap Bintang juga satu pemikiran dengannya.


“Aku juga satu pemikiran


denganmu, Sayang. Tetapi yang terpenting saat ini adalah, kita memanfaatkan restu


mama terlebih dahulu. Lagipula setelah ini, aku akan membawamu keluar dari


rumah orangtuaku, kita akan bahagia berdua. Kamu mau, kan?”  tentu saa, Bintang juga berpikir kalau


mamanya mau sepakat dengannya karena ancamannya yang akan pergi keluar dari


rumah apabila tidak di restui menikah dengan Nadya.


“Ide Mas boleh juga,  kita memang harus memanfaatkan momen ini


untuk meresmikan hubungan kita, Mas. Tentu saja aku mau menikah dan hidup


bahagia denganmu. Terus, apa rencana kamu, Mas?” Nadya segera menanyakan apa


langkah selanjutnya yang akan di ambil oleh Bintang.


“Kita harus segera melakukan


persiapan pernikahan, seperti fitting baju dan lain-lain. Bagaimana kalau menurut kamu, Sayang?” Bintang mengemukakan


idenya  untuk segera mempersiapkan


persiapan pernikahan.


“Boleh juga, Mas. Aku setuju.


Jadi kapan kita akan memulainya?” Nadya antusias untuk melaksanakan ide


Bintang.


“Mulai besok saja, sepulang dari


kantor kita ke butik. Pilih gaun yang kamu inginkan, kalau perlu yang paling


sangat bersemangat seperti ini.


“Gaun tidak perlu terlalu mewah,


Mas. Ke depan, kita akan menghadapi kebutuhan yang banyak. Mending uangnya di


tabung buat masa depan, iya kan?”  Nadya


tidak setuju dengan usulan Bintang yang terkesan terlalu berlebihan ntuk


sekedar pesta pernikahan. Ia sangat paham kalau Bintang orang kaya, tetapi itu


bukan berarti mereka bisa menghamburkan uang begitu saja, apalagi setelah


menikah akan banyak sekali keperluan-keperluan di luar rencana.


“Baiklah, calon istriku yang


pintar. Intinya masalah gaun aku percayakan padamu, kamu bisa memilihya  yang mana saja. Aku juga  akan segera menghubungi temanku untuk


keperluan mencetak undangan.” Itu yang saa ini Bintang pikirkan, semuanya membutuhkan


ketangkasan. Ia tidak ingin sampai mamanya berubah pikiran.


“Baiklah, mas. Aku juga akan


segera membahas hal ini pada orangtuaku. Aku juga ingin mendengar saran mereka


untuk kita.  Semoga ini menjadi awal yang


baik buat hubungan kita,”  Nadya


berencana untuk segera mengabarka berita bahagia ini pada kedua orangtuanya.


“Nad, mau makan di luar, nggak? Aku


pengen jalan berdua denganmu sebagai bentuk perayaan kebahagiaan kita. Sekaligus


aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”  Bintang

__ADS_1


ingin merayakan kebahagiaannya karena mamanya merestui pernikahannya dengan


Nadya.


“Boleh, Mas. Sebentar aku


siap-siap, ya. “ Nadya melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya untuk mengganti


bajunya dan juga mengambil tas kecil yang selalu ia bawa jika bepergian ke luar


rumah.


“Ma, aku mau pergi dulu sama Mas


Bintang. “ Nadya meminta izin dari mamanya terlebih dahulu sebelum pergi


bersama Bintang.


“Ya sudah, hati-hati di jalan,


Nad.” Pesan mamanya sebelum Nadya pergi.


“Baik, Ma.”


Bintang dan Nadya meninggalkan


rumah Nadya.  Mereka pergi tanpa


tujuan,  sekedar merayakan kebahagiaan


yang tengah menyelimuti hati mereka berdua. Perjuangan hubungan mereka akhirnya


membuahkan hasil positif meskipun tidak sepenuhnya.


“Nad, mulai besok, kamu masuk ke


kantor lagi, kan? Sepi rasanya ruanganku tanpa kamu.  Biasanya ada bidadari yang bisa di lihat saat


sedang jenuh bekerja, sekarang hanya kursi kosong yang ada.”  Ia juga tidak menyangka, sekertaris yang


biasanya ia ejek itu akan segera menjadi pendamping hidupnya.


“Dih, gombal. Bidadari apaan? Bilang


aja nggak ada yang di jahilin, iya kan? Mas kan gitu.”  tebak Nadya. Ia  masih ingat bagaimana Bintang memperlakukannya


di awal ia kerja di kantor kekasihnya itu .


“Serius, Nad. Dari awal aku


memang sudah sering memperhatikan kamu, tetapi aku pura-pura cuek.”


Bintang  mengakui dosa masalalunya


membuat Nadya kesal padahal diam-diam ia memperhatikan gadis itu sejak awal


dirinya masuk ke kantornya.


“Eh, iya. Aku lupa menanyakan ini


sama Mas, waktu di awal aku masuk ke kantor, aku ketemu sama cowok,  namanya Davin, dia bilang kakaknya Mas, emang


iya?”  setelah sekian lama, Nadya baru


teringat tentang Davin, orang yang mengaku sebagai kakak Bintang.


“Davin itu kakak sepupu aku,


Sayang.  Anak dari kakaknya papa. Kenapa tiba-tiba  nanyain tentang dia?” selidik Bintang.


“Jangan salah paham dulu, Mas. Aku


cuma sedikit kepo aja, sih. Kalau memang saudara kandung, harusnya kalian


pernah jalan bareng, maksudku seperti pulang bareng dan lain sebagainya.”  Nadya memberikan keterangannya karena takut


membuat Bintang berpikran yang tidak-tidak.


“Tenang aja, Sayang. Aku nggak


akan salah paham, kok. Aku tahu, kamu tidak mungkin ada apa-apa  dengan Davin. Oh, ya, kita mampir ke taman


yang baru di resmikan itu, mau nggak?” ajak Bintang.

__ADS_1


“Boleh, Mas. Yuk..”


__ADS_2