
Bintang segera melajukan mobilnya
menuju ke rumah Nadya. Ia ingin segera mengabarkan kabar bahagia ini kepada
kekasihnya itu. Meskipun ia sendiri tidak yakin dengan ketulusan mamanya
menerima permintaannya untuk menerima Nadya sebagai menantunya. Tetapi
terlepas dari itu, yang terpenting sekarang adalah persetujuan mamanya.
Bintang telah cukup yakin untuk
mempersunting Nadya sebagai pendamping hidupnya. Sejak awal pertemuan yang
tidak di sengaja itu, Bintang mulai tertarik pada kehidupan gadis itu. Saat dia
dan ruby di jodohkan karena bisnis, sebenarnya Bintang berusaha untuk
menerimanya, karena di saat itu dirinya tidak memiliki pasangan. Namun hasilnya
cukup membuat ia kecewa. Ruby hanya
menginginkan hartanya.
Sesampainya di rumah Nadya,
Bintang segera turun dari mobilnya. Ia berharap Nadya ada di rumah agar ia bisa
langsung membicarakan semuanya hari ini. Perlahan Bintang mengetuk pintu rumah
pujaan hatinya itu. Hatinya sedikit berdebar dan harap-harap cemas, ia sudah tidak sabar untuk mengabarkan
berita gembira ini.
Tok..tok..
Bintang mengetuk pintu rumah
Nadya perlahan. Ia menggosok-gosokkan
kedua telapak tangannya sebagai tanda ia tidak sabar.
“Eh, ada Nak Bintang, pasti lagi
cari Nadya, ya? Ayo masuk, Nak.”
Ternyata mama Nadya yang membukakan pintu untuknya.
“Iya, Tante, Nadyanya ada?” tanya Bintang sambil mengekori
mama Nadya masuk ke dalam rumahnya.
“Ada, sebentar, tante panggilkan
dia di kamarnya.” Mama Nadya
melangkahkan kakinya menuju kamar Nadya, sementara Bintang duduk di ruang tamu
menanti kedatangan Bintang.
“Mas Bintang, kesini pasti karena kangen sama aku, iya
kan?” tebak Nadya saat ia gabung duduk di dekat Bintang.
“Itu benar, tentu saja aku selalu merindukanmu. Tapi, ada
hal yang penting untuk aku sampaikan padamu.” Ujar Bintang serius.
“Oh, ya? Apa itu, mas?” Nadya
sangat penasaran dengan berita yang akan Bintang sampaikan padanya.
“Mama, mama sudah menerimamu
sebagai calon istriku, kita bisa segera menikah, Nad. Aku bahagia dengan ini, tidak ada yang lebh
membahagiakan selain mengesahkanmu menjadi milikku.” Ungkap Bintang dengan
bahagia. Senyumnya sangat lebar saat menyampaikan ini pada Nadya, ia tidak bisa
menyembunyikan rasa bahagianya.
“Tapi, apa semuanya tidak
__ADS_1
mencurigakan, Mas? Bukannya aku tidak percya pada mama, tapi tidak mungkin kan,
orang berubah begitu saja dalam waktu yang begitu cepat?” Nadya mengemukakan
pendapatnya dan berharap Bintang juga satu pemikiran dengannya.
“Aku juga satu pemikiran
denganmu, Sayang. Tetapi yang terpenting saat ini adalah, kita memanfaatkan restu
mama terlebih dahulu. Lagipula setelah ini, aku akan membawamu keluar dari
rumah orangtuaku, kita akan bahagia berdua. Kamu mau, kan?” tentu saa, Bintang juga berpikir kalau
mamanya mau sepakat dengannya karena ancamannya yang akan pergi keluar dari
rumah apabila tidak di restui menikah dengan Nadya.
“Ide Mas boleh juga, kita memang harus memanfaatkan momen ini
untuk meresmikan hubungan kita, Mas. Tentu saja aku mau menikah dan hidup
bahagia denganmu. Terus, apa rencana kamu, Mas?” Nadya segera menanyakan apa
langkah selanjutnya yang akan di ambil oleh Bintang.
“Kita harus segera melakukan
persiapan pernikahan, seperti fitting baju dan lain-lain. Bagaimana kalau menurut kamu, Sayang?” Bintang mengemukakan
idenya untuk segera mempersiapkan
persiapan pernikahan.
“Boleh juga, Mas. Aku setuju.
Jadi kapan kita akan memulainya?” Nadya antusias untuk melaksanakan ide
Bintang.
“Mulai besok saja, sepulang dari
kantor kita ke butik. Pilih gaun yang kamu inginkan, kalau perlu yang paling
sangat bersemangat seperti ini.
“Gaun tidak perlu terlalu mewah,
Mas. Ke depan, kita akan menghadapi kebutuhan yang banyak. Mending uangnya di
tabung buat masa depan, iya kan?” Nadya
tidak setuju dengan usulan Bintang yang terkesan terlalu berlebihan ntuk
sekedar pesta pernikahan. Ia sangat paham kalau Bintang orang kaya, tetapi itu
bukan berarti mereka bisa menghamburkan uang begitu saja, apalagi setelah
menikah akan banyak sekali keperluan-keperluan di luar rencana.
“Baiklah, calon istriku yang
pintar. Intinya masalah gaun aku percayakan padamu, kamu bisa memilihya yang mana saja. Aku juga akan segera menghubungi temanku untuk
keperluan mencetak undangan.” Itu yang saa ini Bintang pikirkan, semuanya membutuhkan
ketangkasan. Ia tidak ingin sampai mamanya berubah pikiran.
“Baiklah, mas. Aku juga akan
segera membahas hal ini pada orangtuaku. Aku juga ingin mendengar saran mereka
untuk kita. Semoga ini menjadi awal yang
baik buat hubungan kita,” Nadya
berencana untuk segera mengabarka berita bahagia ini pada kedua orangtuanya.
“Nad, mau makan di luar, nggak? Aku
pengen jalan berdua denganmu sebagai bentuk perayaan kebahagiaan kita. Sekaligus
aku ingin mengajakmu jalan-jalan.” Bintang
__ADS_1
ingin merayakan kebahagiaannya karena mamanya merestui pernikahannya dengan
Nadya.
“Boleh, Mas. Sebentar aku
siap-siap, ya. “ Nadya melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya untuk mengganti
bajunya dan juga mengambil tas kecil yang selalu ia bawa jika bepergian ke luar
rumah.
“Ma, aku mau pergi dulu sama Mas
Bintang. “ Nadya meminta izin dari mamanya terlebih dahulu sebelum pergi
bersama Bintang.
“Ya sudah, hati-hati di jalan,
Nad.” Pesan mamanya sebelum Nadya pergi.
“Baik, Ma.”
Bintang dan Nadya meninggalkan
rumah Nadya. Mereka pergi tanpa
tujuan, sekedar merayakan kebahagiaan
yang tengah menyelimuti hati mereka berdua. Perjuangan hubungan mereka akhirnya
membuahkan hasil positif meskipun tidak sepenuhnya.
“Nad, mulai besok, kamu masuk ke
kantor lagi, kan? Sepi rasanya ruanganku tanpa kamu. Biasanya ada bidadari yang bisa di lihat saat
sedang jenuh bekerja, sekarang hanya kursi kosong yang ada.” Ia juga tidak menyangka, sekertaris yang
biasanya ia ejek itu akan segera menjadi pendamping hidupnya.
“Dih, gombal. Bidadari apaan? Bilang
aja nggak ada yang di jahilin, iya kan? Mas kan gitu.” tebak Nadya. Ia masih ingat bagaimana Bintang memperlakukannya
di awal ia kerja di kantor kekasihnya itu .
“Serius, Nad. Dari awal aku
memang sudah sering memperhatikan kamu, tetapi aku pura-pura cuek.”
Bintang mengakui dosa masalalunya
membuat Nadya kesal padahal diam-diam ia memperhatikan gadis itu sejak awal
dirinya masuk ke kantornya.
“Eh, iya. Aku lupa menanyakan ini
sama Mas, waktu di awal aku masuk ke kantor, aku ketemu sama cowok, namanya Davin, dia bilang kakaknya Mas, emang
iya?” setelah sekian lama, Nadya baru
teringat tentang Davin, orang yang mengaku sebagai kakak Bintang.
“Davin itu kakak sepupu aku,
Sayang. Anak dari kakaknya papa. Kenapa tiba-tiba nanyain tentang dia?” selidik Bintang.
“Jangan salah paham dulu, Mas. Aku
cuma sedikit kepo aja, sih. Kalau memang saudara kandung, harusnya kalian
pernah jalan bareng, maksudku seperti pulang bareng dan lain sebagainya.” Nadya memberikan keterangannya karena takut
membuat Bintang berpikran yang tidak-tidak.
“Tenang aja, Sayang. Aku nggak
akan salah paham, kok. Aku tahu, kamu tidak mungkin ada apa-apa dengan Davin. Oh, ya, kita mampir ke taman
yang baru di resmikan itu, mau nggak?” ajak Bintang.
__ADS_1
“Boleh, Mas. Yuk..”