
#NadyaPOV
Saat aku tersadar dari pingsanku, aku melihat Bintang ada di sampingku. Ia menyesali semua yang telah terjadi di antara kami. Tapi aku merasakan jauh daripada itu. Aku menyesal telah kekanakan, memutuskan Bintang hanya karena ibunya. Padahal, kami bisa mencari banyak jalan lain untuk menyelesaikan masalah ini.
Aku meminta maaf dan mengajaknya kembali memulai semuanya dari awal. Untungnya, dia mau menerimaku kembali. Kali ini aku ingin bisa lebih kuat lagi. Terpaan hubungan kami tentu akan semakin kuat setelah kami melanjutkan semuanya. Aku hanya punya keyakinan bahwa aku akan bisa melalui semuanya jika Bintang tetap bersikap baik padaku.
Bukankah nantinya aku akan menikah dengannya? Kami tidak akan tinggal satu atap dengan mamanya.Bintang tentu saja tidak akan membiarkan aku menderita seorang diri. Aku yakin dia bukan tipe pria yang seperti itu.
"Lain kali jangan seperti ini lagi, jangan menyiksa dirimu sendiri. Jika kamu juga mencintaiku, mari kita perjuangkan perasaan kita sama-sama. Aku akan meyakinkan mama dan papaku untuk menerimamu sebagai menantunya, aku tidak ingin menikah selain denganmu," Bintang bersikeras ingin menikahiku, jujur aku juga sudah jatuh hati padanya. Berpisah untuk saat ini hanya saling menyakiti.
"Baiklah mas, terimakasih. Mas sudah mau memperjuangkan hubungan kita. aku juga tidak ingin sampai berpisah denganmu, mas." Meskipun sulit, aku ingin mencoba berjuang. mencoba memperjuangkan perasaan yang aku miliki. aku tidak ingin menyesal.
"Percaya padaku, kita akan selalu bersama selamanya," Bintang memegang kedua tanganku erat. Aku harus bisa seperti Bintang yang optimis dan penuh keyakinan. Cinta memang butuh pengorbanan.
Cinta berbeda kekayaan adalah hal yang sangat menyakitkan. Ketika cinta tak dapat kita gapai karena kita terlalu kecil untuk meraih sesuatu yang besar, disitulah kita baru akan sadar, bahwa kekayaan dapat menghalangi segala hal termasuk cinta.
"Mas, mamamu sangat tidak menyukaiku, apa tidak masalah kalau kita tetap menikah?" Aku masih ragu dengan ini. mamanya yang sangat membenciku itu pasti akan memperlakukanku dengan sadis.
__ADS_1
"Aku pasti bisa menaklukkan mama. Dia sangat menyayangiku, aku bisa mengancamnya jika dia tidak merestui hubungan kita," Bintang sudah tidak perduli lagi dengan sikap mamanya yang memang sedikit galak jika di bandingkan dengan seorang tukang kredit atau ibu kos yang sedang menagih uang bulanan.
Terkadang ada orang yang bangga ketika akan menikah dengan pria dari keluarga kaya. padahal semuanya tidak akan menjadi bahagia saat mereka hanya memandang kita dengan sebelah mata.
"Mas, tidak perlu memaksa mamamu untuk menerimaku. Aku tahu mama punya kriteria menantunya sendiri. Jika memang harus seperti itu, aku akan melepaskanmu secara baik-baik. Aku pasti bisa belajar melupakan cinta kita, Mas." Aku mencoba untuk memberikan Bintang pengertian. Aku ingin dia memahami bahwa terkadang cinta memang tidak harus memiliki.
"Tidak ada kata berpisah lagi di antara kita. Aku tidak akan melepaskanmu. Mama urusanku, tugasmu hanya bertahan dan terus mencintaiku. Kamu masih ingin jadi istriku, kan?" Ia menanyakan lagi kalimat yang seperti melamar itu. Tentu saja aku tidak akan menolaknya.
"Aku bersedia menikah denganmu, Mas. Semoga hati mamamu dapat terbuka dan menerima aku menjadi menantunya. Jika mungkin tidak, semoga ada jalan yang terbaik untuk kita," Kataku mantap. Aku menatap Bintang dalam-dalam. Aku tidak menyangka, hubungan antara sekertaris dan bos diantara kami berubah mrnjadi kisah cinta yang sangat rumit.
Di rumahku...
"Nadya, apa kamu akan melanjutkan hubunganmu dengan Bintang?" Mama mengintrogasiku. Sebenarnya aku tidak ingin mama ikut campur dulu. Tapi aku paham, mama hanya cemas memikirkanku.
"Masih lanjut, Ma. Bintang tidak ingin berpisah dariku, sebaliknya, aku juga tidak ingin berpisah dari Bintang. Aku sudah terlanjur mencintainya." Aku mencoba jujur pada mama tentang perasaanku ini. Aku memang tidak menyukai sikap mama Bintang, tapi aku juga tidak bisa melepas Bintang begitu saja.
"Bukan mama mau ikut campur, Nadya. Tapi hubungan kalian ini sangat beresiko. Mama takut, nantinya mama Bintang akan memperlakukan kamu dengam tidak baik, jika kalian tetap menikah," Apa yang mama khawatirkan memang benar. Ketika aku melangkah untuk terus memperjuangkan hubunganku dan Bintang, berarti, aku juga harus siap dengan segala resiko yang harus aku dapatkan saat memilih mempertahankan dia.
__ADS_1
"Nadya paham mama. Tidak akan mudah menjalani sebuah hubungan dengan tentangan status diantara kami berdua. Aku yakin, akhirnya kami akan mampu melewatinya." Aku tetap meyakinkan mama, agar mamaku mau merestui hubunganku dengan Bintang.
"Nak, apa kamu tidak akan mempertimbangkan lagi keputusanmu ini? Mama sangat khawatir dengan sikap mama Bintang itu. Dia pasti tidak akan segan menyakitimu suatu saat nanti," Aku rasa, firasat mama memang buruk tentang hubunganku dengan Bintang. Tapi aku ingin berusaha dulu setidaknya. Masalah ke depan, aku pikirkan nanti.
"Aku tahu itu ma, mama Bintang tidak akan memperlakukanku dengan baik. Tapi setelah menikah, kami tidak akan tinggal serumah. Jadi kemungkinan itu bisa di perkecil kan, ma?" Aku tetap berusaha meyakinkan mama. Walaupun mama tidak akan semudah itu menjadi tenang.
"Dia akan mempunyai berbagai cara jahat jika sudah terlanjur tidak suka, Nadya. Mama harap kamu pikirkan lagi, Resikony terlalu besar, Sayang," Ujar mama, tetap setengah hati pada keputusanku.
Aku sudah siap, untuk menanggung semua resikonya, asalkan Bintang tetap bersamaku, aku pasti akan baik-baik saja. Mungkin aku telah di butakan oleh cinta, tapi itulah kenyataannya, aku ingin memperjuangkan perasaanku kali ini.
Aku tidak bisa melepaskan Bintang begitu saja, kami baru saja memulai, mana mungkin bisa berakhir begitu saja. Perjuangan cinta ini keputusanku, aku menerima segala resikonya nanti.
"Ini keputusan Nadya, Ma. Apapun resikonya, Nadya sudah siap menerimanya. Mama jangan khawatir. Aku sudah dewasa ma, aku bisa mengatasi semuanya," Aku mencoba untuk memberi pengertian pada mama, aku bukan lagi anak kecil dan aku berhak menentukan pilihan untuk hidupku.
"Baiklah, mama mengerti. Jika itu sudah jadi keputusan kamu, mama bisa apa. Mama hanya bisa mendukungmu sayang. Kalau ada sesuatu, jangan ragu untuk bicara sama mama. Mama ada di pihakmu, Sayang," Mama akhirnya melunak. Aku sebenarnya tidak ingin berdebat dengan mama. Tapi namanya juga orangtua, pasti mereka ingin yang terbaik untuk anaknya, tidak terkecuali mamaku.
Yang akan terjadi ke depan dengan hubunganku dan Bintang, aku sudah siap melaluinya. Bukankah cinta dengan penuh rintangan itu menjadi lebih menantang? Aku ingin mencobanya, pahit ataupun manis, aku tidak akan pernah mundur sejengkalpun.
__ADS_1