Si Tampan Pemikat

Si Tampan Pemikat
11. Kisah Kita


__ADS_3

#BintangPOV


Malam ini, aku sangat bahagia. Saat di perjalanan ke resto, ku sudah berhasil mengungkapkan perasaanku terhadap Nadya. Awalnya aku kaget dia bilang tidak mau, tapi akhirnya aku merasa berbunga-bunga saat dia bilang dia ingin lebih dari sekedar menjadi pacar, tapi juga istri.


Hal yang paling konyol malam ini adalah, Dia kebingungan saat melihat tempat makan yang kami datangi kosong tanpa pengunjung. Gadisku itu mengira kami salah tempat. Padahal aku memang sengaja membooking semua tempat untuk acara makan kami berdua.


Terpaksa dia bersedia masuk. Sepertinya dia agak kecewa dengan kelakuanku. Ia bilang kalau lain kali tidak perlu sampai seperti ini, boros. Coba kalau Ruby, pasti tidak akan seheboh ini. Malahan kalau di ajak makan di pinggir jalan baru dia heboh. Aku beruntung mendapatkan Nadya.


Kami berdua masuk ke dalam resto. Aku sengaja menyuruh pelayan untuk menyiapkan segala hidangan yang ingin kami makan. Untuk menu utama aku pilih steak.


"Mas, ini makanannya terlalu banyak, kalau nggak abis bisa mubazir, loh." Celotehnya heboh saar melihat banyaknya mkanan yang terhidang.


"ini normal kok, kan lengkap. Dari hidangan pembuka sampai penutup," Kataku, mencoba memberinya pengertian.


"Lain kali, kita makan di tempat biasa aja ya, mas. Tapi untuk malam ini, makasih. Aku suka banget mas. Ini terlalu romantis. Mas sampai harus sewa resto hanya untuk dinner berdua." Nadya kegirangan, dan menunjukkan kalau dia sangat menyukai caraku memanjakannya.


"Baik, tuan putri. Nadya, sepertinya aku harus mengulang pujianku. Kamu benar-benar cantik malam ini. Aku tidak menyangka kamu bisa tampil dengan sangat anggun," Aku memandang kekasih baruku itu dalam-dalam. Malam ini penampilannya sangat memukau dan membuatku terpesona.


"Malam ini penampilan mas juga luar biasa. Sangat tampan dan keren. Bahkan, aku baru kali ini melihat mas tampil istimewa," Pujiannya membuat rasa percaya diriku meningkat.

__ADS_1


"Nad, kamu ingin hubungan yang seperti apa? Pacaran lama dulu baru menikah, atau pacaran sebentar langsung menikah?" Selidikku. Aku ingin tahu apa maunya.


"Kalau sudah saling cocok, aku sih lebih suka cepet-cepet nikah, mas," Jawabnya, tampak sangat jujur. Baiklah Nadya, aku akan mengabulkan keinginanmu.


Sebelum menikahinya, aku terlebih dahulu harus menyiapkan sebuah rumah. Meskipun ayah pasti menghargai, tidak dengan ibu. Dia memiliki tipe menantu yang berasal dari keluarga kaya, setidaknya yang setara dengan keluarga kami. Aku tidak mau kalau sampai Nadya tidak nyaman dan terganggu dengan sikap ibu.


"Mas, kamu kenapa? Tiba-tiba diem, mikirin apa sih?" Tanyanya, jelas sekali ia sangat mengkhawatirkan aku.


"Nggak ada. Ayo makan, atau mau aku bantu potongin dagingnya?" Aku menawarkan diri dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku akan membahas ini dengannya di saat yang tepat.


"Nggak perlu, mas. Aku bisa sendiri. Lain kali kalau ada masalah, apapun itu, ceritalah padaku, mas. Setidaknya aku bisa meringankan bebanmu dengan saran," Katanya dengan lembut dan memandangku penuh arti.


"Mas, kamu tau sendiri kan, orangtuaku bukan pengusaha, rumahku biasa saja, aku juga bukan model dan sebagainya, apa nanti orangtua kamu bisa menerima keadaanku apa adanya?" Ternyata Nadya juga khawatir tidak diterima di keluargaku. Instingnya cukup kuat ternyata.


"Kalau memang itu terjdi, kita hadapi semuanya sama-sama. Jangan takut, sayang... Ada aku yng akan selalu melindungi kamu," Aku mencoba menenangkannya. Semoga kata-kataku dapat membangkitkan keberaniannya untuk mempersiapkan diri melewati segala kesulitan bersama di masa depan.


"Tentu saja aku takut, Mas. Kalau orangtuamu tidak menyukaiku, aku bisa apa? aku jadi kepikiran itu sekarang," Keluhnya. Mungkin kalau aku ada di posisinya aku akan merasakan hal yang sama. Tapi, aku berjanji dalam hatiku, apapun yang terjadi, aku akan melakukan yang terbaik untuknya.


"Aku ini anak manja, Mas. Karena orangtuaku selalu memanjakan aku. Harapanku, aku mempunyai mertua yang juga bisa memanjakan aku," Sambungnya. Walaupun ibuku sudah pasti menolaknya, aku akan mempersiapkan tempat nanti untuknya dan aku, dan kemungkinan ibu memperlakukannya dengan tidak baik akan semakin kecil.

__ADS_1


"Jangan bayangin sesuatu yang belum terjadi, sekarang lanjut makannya, abis ini kita jalan-jalan sebentar, biar kamu baikan, ya..." Ku tatap Nadya yang muram, pasti saat ini dia sangat ketakutan. Harusnya aku memeluknya, untuk menenangkannya, tapi, keberanian untuk melakukan itu tak ada.


"Iya, ayo lanjutkan makan mas, harusnya malam ini spesial kan ya? Aku malah mikirnya kejauhan, maafkan aku," Sekarang gadisku itu jadi merasa bersalah. Ia tampak serius memakan makanan yang ada di hadapannya, imutnya...


"Mas, ayo makan... katanya ngajakin makan, eh, sendirinya malah konsen liatin aku. Memangnya ada yang nempel ya di wajahku?" Nadya sibuk mencari cermin di dalam tasnya. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah lucunya itu.


"Sayang, udah... nggak usah lagi cari cermin, di wajahmu hanya ada cinta, sampai aku terpana," Gombalku, dia tampak malu, pipinya memerah. duh, jadi semakin gemas. Aku seperti anak abege yang baru jatuh cinta. Benar sih, ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Tahan Bintang, tunggu saatnya kamu sah jadi suaminya, baru boleh menyerang.


"Ternyata seorang Bintang bisa gombal juga ya, kirain hanya bisa potong-potong gaji karyawan dengan alasan tidak jelas," Sindirku. Bintang tertawa geli mendengar sindiranku.


"Em... itu. Sebenarnya aku cuma takut kamu mencari-cari alasan untuk tidak pergi makan malam denganku," Deg...deg..deg.. Jantungku berdebar kencang. Aku speechless untuk mengakui perasaanku saat itu yang sebenarnya.


"Sebenarnya awalnya memang aku mau nolak mas, soalnya kan aku takut terbawa perasaan kalau harus selalu berdua sama kamu, tapi ternyata kamu juga punya perasaan yang sama kaya aku. jadi seneng deh, sekarng." ungkapnya. Aku baru tahu, ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama padaku.


"Kenapa kamu nggak bilang aja sama aku, kalau kamu suka aku. Tau gitu aku putusin Ruby dari awal kita ketemu, aja." sengaja aku mengatakan ini, kira-kira apa jawabannya.


"Mana punya aku keberanian untuk itu, mas. Aku tahu diri, hanya karyawan magang. Tiba-tiba menyukai bosnya? Itu lucu. Lagipula, awal-awal itu, aku masih sebel sama kamu," Katanya jujur. Semenyebalkan itu kah aku?


"Maaf..maaf.. Kalau sejak awal aku sudah membuatmu tidak nyaman, yang jelas sekarang aku jatuh cinta sama kamu," Aku beranikan diri menatapnya. Dia juga menatapku, senyumnya merekah. Gadis, aku tidak ingin berlama-lama untuk segera mempersuntingmu.

__ADS_1


__ADS_2