Si Tampan Pemikat

Si Tampan Pemikat
12. Sebuah Rencana


__ADS_3

#NadyaPOV


Jika di tanya apa perasaan yang aku rasakan saat ini? Jawabannya aku sangat gembira. Kenapa? Karena sekarang aku bisa memiliki seseorang yang aku kagumi. Bintang sekarang bukan hanya bosku. Dia, kekasihku.


Sejak dia menyatakan perasaannya di perjalanan sebelum dinner malam itu, hatiku selalu berbunga-bunga. Selalu tersenyum setiap saat mengingatnya. Bersenandung saat melakukan sesuatu. Mamaku sampai menangkap keanehanku.


"Anak mama, lagi bahagia banget nih, kayaknya. Nyanyi terus, senyum terus, kenapa sih? Mama pengen tau," Tanya mama saat aku sedang memasak di dapur.


"Itu, aku... jadian ma, sama mas Bintang. Bosku itu, loh" Kataku jujur. Aku yakin pasti mama ikut bahagia mendengar berita ini. Secara waktu itu mama yang mau tahu segala tentang Bintang.


"Jadi, pas makan malam semalam itu kalian jadian?" Mama ingin tahu lebih jauh lagi. Aku mengangguk pasti.


"Iya, ma. Aku nggak nyangka kalau ternyata diam-diam dia juga naksir sama aku, ma." Kataku dengan hebohnya.


"Mama udah tau, sejak pertama kali dia kesini, si Bintang itu memang punya perasaan sama kamu," Tepat, perasaan seorang mama memang selalu benar.


"Ma, tapi aku takut. Keluarga kita kan beda sama mereka, takutnya nanti mereka nggak mau terima aku dengan baik," Keluhku. Mama memegang pundakku.


"Sayang, berdo'a yang baik-baik aja, ya. Semoga nanti keluarga Bintang bisa menerima kamu apa adanya," Mamaku mencoba untuk memberikanku ketenangan dan motivasi. Apapun, aku akan berjuang bersama Bintang.


"Sudah, sana mandi, siap-siap buat kerja. Jangan mentang-mentang sekarang pacar bos, terus malas-malasan," Ibuku memberiku wejangan. Aku hanya bisa mengangguk patuh.


Aku segera merapikan diriku setelah mandi. Semalam Bintang bilang akan menjemputku berangkat kerja. Aku harus cepat dan menunggunya di depan.

__ADS_1


"Pagi, bidadari. Kamu cantik hari ini, tapi bukan berarti, kemarin kamu tidak cantik. Aku sangat memujamu, seperti seorang ratu," Bintang sok puitis. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.


"Pagi, mas Bintang," Sapaku ramah.


"Cuma gitu aja? Aku fikir aku akan dapat hadiah peluk, atau cium sudah mengucapkan selamat pagi dengan sedikit menggoda," Ujar cowok bermata sipit itu sambil membukakan pintu untukku. Aku segera masuk disusul olehnya.


"Mas, gimana penampilanku? Udah rapi belum? Aku rapi kan hari ini? lipstikku gimana? belepotan, nggak?" Aku heboh sendiri. Seperti di dalam kafe, Andra menatapku lama dan mendalam.


"Sayang, kamu udah cantik,Beneran. Kenapa sih harus merubah penampilan? Aku cuma mau kamu berpakaian rapi, selebihnya aku tidak perduli. Aku sayang kamu apa adanya,"


Ternyata dalam menjalani sebuah hubungan dia tidak seribet yang aku bayangkan. Aku sampai views berbagai utuber kecantikan supaya aku juga bisa berdandan ala bangsawan.


"Aku berlebihan ya, mas? Maaf... aku cuma..."


"Aku tau, kok. Kamu berusaha tampil sesempurna mungkin untuk aku. Ga perlu minta maaf," Bintang melemparkan senyumnya.


Hari ini, pertama kalinya aku berangkat kerja dengannya. Kami berdua banyak bertukar cerita, aku seperti menemukan sisi yang lain dari Bintang. Sifat aslinya jauh lebih lembut dari yang kulihat sehari-hati. Seperti bunglon, dia pandai berkamuflase.


"Mas, tau nggak, awal-awal aku masuk kantor, ada yang bilang kalau jadi sekertaris kamu itu enak, orangnya baik, pengertian, tapi kenapa pas aku kerja sama kamu, sifatmu aneh, galak, otoriter? Sampai aku bete banget," Keluhku. Bintang tersenyul lebar sambil menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Aku sengaja. Kalau saat itu orangnya bukan kamu, pasti beda ceritanya," Dia mengaku kalau hanya iseng. Spontan aku memukul-mukul kecil bahunya dengan kedua tanganku.


"Dasar nyebelin. Ngerjain orang sampai lembur. Sengaja kan pasti. Kesel deh sama kamu, mas..." Aku pura-pura merengut, menunjukkan kejesalanku.

__ADS_1


"Kan aku sudah minta maaf, kok masih baper?" Tanyanya serius, akupun tergelak. Membuat Bintang jadi bingung sendiri.


"Selamat, anda kena prank pak Bintang," Aku melanjutkan tawaku dan Bintang juga ikut tertawa karena kekonyolanku.


"Nadya, nikah yuk.." Habis kalimat ini di ucapkan, aku diam. Lalu aku lanjut tertawa lagi.


"Kok malah ketawa sih?" Bintang tampak kesal, mungkin hanya pura-pura kesal. Aku melihat wajahnya yang setengah di tekuk itu, bukannya serem tapi malah cute.


"Aku nggak akan tertipu prankmu, mas. Baru kemarin malam jadian, mana mungkin hari ini ngajak nikah," Protesku, sambil mencibirnya. Dia pasti kecewa karena pranknya sudah tertebak olehku.


"Siapa yang ngeprank. Kamu nggak tau, seberapa gelisahnya aku semalam. Aku pengen cepat nikah sama kamu, Nad." Kali ini wajahnya tampak serius. Ternyata aku salah, dia benar-benar ingin nikah denganku.


Ketakutanku tentang tidak diterimanya aku di keluarganya saja masih terbayang jelas. Apa iya, mereka bisa menerimaku? Sampai menikah? Aku terlalu pesimis untuk membayangkan kelanjutan hubunganku dengan Bintang ke depannya.


Kalau misalnya akhir hubungan kami tidak baik, aku sudah pasrah. Mau apa lagi, keadaannya memang sudah seperti ini. Tidak akan ada yang bisa merubahnya. Perbedaanku dengan Bintang terlampau jauh, dia ada di langit, sedangkan aku berpijak di bumi.


"Mas, apa tidak terlalu terburu-buru? Aku takut kamu menyesal mengambil keputusan ini. Kamu belum mengenalku dengan baik. Belum lagi orangtua mas, mereka juga belum tentu mau menerima keadaan keluargaku begitu saja," Aku melipat-lipat acak tali tasku Untuk mengurangi kegusaran yang menyerang batinku saat ini.


"Aku tidak perduli semua itu, Nadya. Aku hanya mau bersamamu, menjadikanmu istriku, dan kita berdua bahagia dengan cinta yang kita punya. Keinginanku sangat besar untuk memilikimu. Jadi, kamu mau menikah denganku atau tidak?" Pertanyaan yang sulit. Kalau aku jawab tidak, pasti dia akan marah. Kalau di jawab iya, orangtuanya kan belum tentu setuju. Ck, jadi bingung.


"Aku mau menikah sama kamu, mas. Tapi bukan sekarang. Kamu ngerti kan? Aku belum pernah ketemu dengan orangtua kamu mas," Aku coba beralasan. Semoga dengan ini dia tidak merengek minta nikah lagi, aku belum siap.


"Kalau itu alasannya, oke. Akhir minggu ini kamu ku baea ke rumah. Kita bertemu dengan orangtuaku. Aku akan sekalian bilang kalau aku mau menikah sama kamu," Skakmat. Aku harus bilang apa kalau sudah begini. Aku seperti membuat lubang sendiri. Sekalinya punya pacar, malah ketemu yang kebeet nikah begini.

__ADS_1


"Baik. Kita ketemu sama orangtuamu. Kenapa sih, mas. Kamu mendadak ngebet nikah begini?" Aku jadi penasaran apa alasan Bintang tiba-tiba mengajakku menikah.


"Aku nggak punya alasan. Aku cuma mau menikah sama kamu, titik. Apa kamu nggak punya keinginan yang sama besar denganku, sayang?"Tanyanya serius padaku. Hah, dia tanyakan keinginan? Tentu saja aku punya keinginan. Tapi bukan sekarang juga, ini terlalu terburu-buru menurutku.


__ADS_2