Si Tampan Pemikat

Si Tampan Pemikat
05. Canggung


__ADS_3

#NadyaPOV


Sejak kejadian pagi tadi, di kantor kami jadi saling tidak tegur sama lain. Aku mengerjakan tugas yang telah di sediakan di atas meja. Bahkan untuk melirik Bintang pun aku tidak berani.


Bagaimana bisa ciuman itu terjadi. Padahal kami tidak ada hubungan apapun. Benar-benar gila, umpatku dalam hati. Ganteng sih, tapi mana mungkin dia menyukaiku, diantara kami jelas jauh berbeda. Aku di bumi dan dia adalah Bintang, yang hanya bisa aku pandangi tanpa bisa menyentuh.


Mengingat kisah-kisah di sebuah di sinetron,  jarang sekali hubungan percintaan beda kasta membuat hati patah, aku sedikit merasa ngilu. Membayangkan aku akan di tolak dan di maki habis-habisan oleh keluarganya, membuatku merinding. Meskipun aku sedikit terpesona pada Bintang, tetapi sebisa mungkin aku menghindarinya. Hubungan bos dan sekertaris tidak akan bisa di terima begitu saja.


Siapa yang tidak tertarik pada lelaki tampan dan mapan seperti Bintang? Setiap mata wanita yang memandang sudah pasti mengarah padanya tanpa kedip. Dapat menjadi orang yang bisa dekat dengannya saja membuatku bangga, meskipun hanya sebagai sekertarisnya.


kriing....


Lamunanku buyar seketika dering telepon kantor berbunyi. Aku segera mengangkat gagang telepon untuk mengetahui siapa dan apa tujuan penelepon di ujung sana.


"Ini direktur, segera suruh Bintang ke ruangan saya, Ada meeting penting."


Suara besar seorang bapak-bapak di ujung sana. Tentu saja itu ayah Bintang. Bicara via telepon saja aku grogi, apalagi jika harus jadi menantunya. Sepertinya otakku mulai rusak. Memikirkan hal yang terlalu mustahil bagiku.


Dengan terpaksa aku bangkit dari tempat dudukku dan mendatangi Bintang yang masih selalu sibuk mengerjakan file di laptopnya.

__ADS_1


"Pak Direktur memanggil anda untuk masuk ke ruangannya," tanpa menunggu jawabannya aku langsung berbalik untuk meninggalkannya. Sungguh, aku salah tingkah saat itu. Aku seperti ingin bersembunyi di balik punggungnya, agar au tidak perlu memandang wajah bosku itu.


"Sudah berani tidak sopan ya? meninggalkan aku begitu saja, bahkan aku belum merespon kata-katamu," Aku langsung menghentikan langkahku dan kembali menghadap ke arahnya. Auranya tiba-tiba menjadi sangat mengerikan sekali.


" Maaf pak, saya tidak bermaksud seperti itu." perasaanku masih tidak enak gara-gara peristiwa tadi pagi. Bayangan Bintang masih begitu jelas di mataku. Bagaimana ia menikmati momen kami, sementara di antara kami tidak ada hubungan apapun.


Apakah Bintang tidak menyadari perasaanku yang tengah kacau? Bisa-bisanya ia berkata seperti itu, padahal, ia dengan jelas dapat melihat, wajahku yang nampak memerah karena menahan malu dan canggung yang bercampur menjadi satu.


"Saat di kantor, tetaplah profesional. Masalah pribadi, mari kita bicarakan setelah pulang nanti,"


Dia senyum padaku. Manis sekali, " Sekarang ikut saya ke ruangan ayah," aku patuh dan berjalan mengikuti langkahnya. Apalagi yang harus dibicarakan setelah pulang kantor? Apakah tentang tadi pagi? Kami berdua masuk lift, aku melihat Bintang menekan angka delapan belas. Suasana sunyi.


"Maafkan tentang kejadian tadi pagi ya, aku sangat terbawa suasana." katanya tanpa menatapku. Suaranya terdengar lebih lembut dan menampilkan kesan ia sangat menyesal dengan kejadian yang terjadi di antara kami tadi pagi.


Suasana kembali hening.Sampai akhirnya aku dan Bintang sampai ke ruangan Pak Subroto. Kami membahas berbagai macam hal di sana. Pak subroto sendiri di dampingi oleh sekertarisnya, Elena.


Rapat selesai saat hari mulai sore. Penat sekali. Aku jadi banyak tahu tentang proyek-proyek yang sedang di kerjakan oleh perusahaan Bintang dan ayahnya. Sepulang kerja, Bintang mengajakku makan es krim di sebuah kedai es krim yang dia bilang cukup terkenal di area perkantoran kami.


"Aku mau kamu lupakan kecanggungan di antara kita dengan makan es krim. Kamu suka rasa apa?"

__ADS_1


tanyanya antusias. Melupakan kecanggungan katanya, hah, bosku itu ternyata cukup susah di tebak, dia selalu berubah-ubah setiap saat.


"Coklat, pak," jawabku singkat. Bintang memesan dua cup es krim rasa coklat untuknya dan aku. Apakah saat ini Bintang sedang dalam mode romantis? Rasanya, perjalanan kami ini mirip seperti sebuah kencan.


"Kalau di luar kantor, jangan panggil aku, pak, dong," pintanya. Ia menyodorkan satu buah cup sedang, es krim rasa coklat dan aku menerimanya.


"Baiklah, bagaimana kalau Mas Bintang ?" aku terbiasa memanggil kakak sepupuku dengan sebutan 'mas' dan aku harap, Bintang mau aku panggil dengan sebutan itu.


"Aku suka panggilan itu, jadi jangan panggil pak lagi ya..." senyumnya begitu sumringah. Aku seperti bertemu sosok Bintang yang ada dalam cerita Elena. Mungkin memang ini dia yang sebenarnya, yang kemarin mungkin dia masih sangat kecewa padaku pada saat insiden di koridor. kalau di pikir-pikir lagi, aku memang sangat keterlaluan, sudah bersalah, tetapi tidak mau mengalah.


"Baik, mas," aku membalas senyumannya. Kami saling bercerita satu sama lain. Bintang memang supel, rasanya waktu berapa jam pun tidak akan cukup saat bersamanya.


#BintangPOV


Semenjak kejadian di apartemenku, Nadya jadi canggung padaku. Ia sangat fokus bekerja tanpa sedikitpun melihat ke arahku. Rasanya sangat aneh, aku ingin seperti hari kemarin, dimana aku bisa menjahili dia, tetapi beberapa saat kemudian aku sadar, seorang wanita tidak akan melupakan kejadian seperti itu. Bahkan, aku mulai khawatir, Nadya akan menganggapku sebagai lelaki mesum.


Sesaat setelah menerima telepon ia berjalan ke arah meja kerjaku dan mengatakan ayah memanggilku untuk rapat, Lalu aku mengajaknya pergi ke ruangan ayah sambil menyampaikan permintaan maafku untuk insiden tadi pagi. Aku memang bersalah, dengan tiba-tiba menciumya seperti itu, sangat tidak sopan. Aku tidak menyangkal, aku sangat menikmati apa yang terjadi di antara kami dan ini bisa di sebut sebagai ciuman pertamaku.


Hubunganku dengan  Ruby tidak seharmonis pasangan seperti pada umumnya. Kami menjalani semuanya hanya sebagai penggugur kewajiban. Aku bahkan tidak pernah ada niat untuk bersikap romantis terhadapnya. semuanya berjalan seakan kami hanya hanyut mengikuti arus.

__ADS_1


Sepulang kerja aku mengajak Nadya pergi ke kedai es krim. Dia bilang suka rasa coklat, sama dengan kesukaannku. Ia tampak menikmatinya. Kalau pacarku di ajak ke kedai es krim, pasti menolak. Dia bilang, tempat seperti ini hanya untuk anak-anak. Dia lebih suka ke Clubing, Hang out bersama teman-temannya. Ada sedikit harapan, kekasihku sendiri bisa se-humble Nadya. Manis, lucu, dan sederhana.


Terlintas di pikiranku, seandainya Ruby sebaik Nadya dan sesederhana dia, aku pasti akan membuka pintu hatiku perlahan. Sekarang aku terjebak perasaan yang tidak biasa dengan gadis yang tengah menikmati es krim di sampingku ini, sepertinya aku telah jatuh hati dalam waktu singkat padanya.


__ADS_2