
#NadyaPOV
Aku kaget saat Bintang tiba-tiba mengajakku makan malam. Sebenarnya aku ingin menolak, kedekatanku dan dia mulai tidak normal. Ketakutanku tidak bisa mengendalikan perasaan adalah alasannya. Bagaimanapun aku seorang wanita normal, yang tidak bisa biasa saja saat di perlakukan istimewa.
Bosku yang berkarisma itu sudah menyedot perhatianku. Setiap saat pergi dengannya aku merasakan debaran yang berbeda. Sebenarnya aku takut, jika aku sampai jatuh cinta padanya.
Jahatnya, setiap ingin mengajakku kemanapun dia selalu mengancam posisi kerjaku hingga aku tidak bisa menolak dan terpaksa mengikuti keinginannya.
Malamnya, aku menggunakan dress terbaik yang ku punya, berwarna merah menyala dan tampak kontras dengan warna kulitku yang kuning langsat. Aku merias wajah dan rambutku sebaik mungkin dengan bantuan mama.
"Anak mama cantik banget," Puji mamaku sambil melihat pantulanku di dalam cermin. Diam-diam aku sendiri pun kagum, dengan sedikit bersolek, tampilanku jadi semenarik ini.
"Nadya, nak Bintang sudah datang," Teriak papa memanggilku. Mendengar nama bintang, hatiku kembali berdebar-debar. Perasaanku mungkin salah, aku seperti sedang jatuh cinta pada bosku yang otoriter itu.
Aku keluar kamar, mendapati tampilan Bintang yang sangat spesial. Malam ini ketampanannya seperti berkali-kali lipat. Aku tersenyum padanya sambil menyelipkan rambut ke belakang telingaku dengan malu-malu. Sebaliknya Bintang menatapku nanar, sepertinya dia terhipnotis dengan penampilanku.
"Nadya, nak bintang sudah minta izin sama papa, silahkan kalian pergi makan malam, jangan lupa hati-hati dan jangan pulang terlalu larut," Pesan Papa. kami berdua mengangguk dan mengiyakan secara bersamaan.
"Kompaknya, kalian serasi, sepertinya jodoh," Ledek papa.
"Amin," Sahut Bintang, eh tunggu dulu, dia barusan mengaminkan kata-kata papa. Jangan-jangan malam ini dia mau mengungkapkan perasaannya? Apalagi dia bilang sudah putus kan dengan Ruby? aduh, geser nih otakku, mikir apa sih? Aku mencoba menyadarkan diriku sendiri yang sepertinya mulai berhalusinasi.
Bintang menggandeng tanganku. Semoga ia tidak merasakan tanganku yang gemetar saat ini. Ini adalah pertama kalinya ada cowok yang menggandengku mesra di depan orangtuaku. Aku yakin, saat ini pipiku pasti merah merona karena terlalu malu.
Aku masuk ke mobil dengan bantuan Bintang. Perlakuannya padaku membuat perasaanku melambung. Biarlah aku merasa jadi seorang putri saat ini dengan pangeran di sampingku. Diam-diam aku meliriknya, saat ia sedang konsentrasi penuh menyetir.
"Melirik bos, potong gaji sepuluh persen," Bintang ternyata menyadari aku menatapnya.
"Maaf, mas. Saya nggak bermaksud kurang ajar sama kamu. Aku cuma..."
"Aku bercanda kok, Nad. Kamu boleh menatapku sampai puas. Aku bukan milik siapa-siapa sekarang," Bintang seperti sengaja memproklamirkan kalau dia sedang jomblo. Seandainya aku punya pacar seperti dia, pasti bahagia sekali.
"Nad..." Panggilnya.
__ADS_1
"Ya.." Aku menengok ke arah Bintang.
"Kamu... Cantik," Deg... deg... deg.. Jantungku berdegup lebih kencang mendengar pujiannya.
"Terimakasih, mas." Aku yakin saat dia melihatku, ia akan tahu kalau pipiku memerah.
"Maaf ya, kalau selama ini di kantor aku bertindak seolah-olah aku otoriter sama kamu," Katanya dengan nada lembut.
"Nggak papa, mas. Nanti kalau kamu terlalu baik, akunya yang jadi manja. Iya kan?" Aku meminta pendapatnya tentang kebenaran kalimat yang aku ucapkan.
"Jujur, aku suka tipe wanita seperti kamu, penurut, apa adanya, supel, sopan lagi," Ocehnya, membuatku tersenyum simpul.
"Mas lagi muji aku?" Kuberanikan diri meliriknya yang ternyata juga melirikku. Spontan kami sama-sama mengalihkan pandangan. Kami berdua gugup.
Bintang meminggirkan mobilnya, beberapa saat ia diam, aku tidak tahu kenapa. Sepertinya ia sedang ingin mengatakan sesuatu.
"Nadya..." Panggilnya dengan nada bicara yang bergetar.
"Ya.." Sahutku sambil mengalihkan pandanganku ke arahnya.
"Aku nggak mau..." Jawabku cepat.
"Kenapa nggak mau? Kamu udah punya pacar?" Bintang kaget mengetahui aku menolaknya.
"Bukan, tapi aku nggak mau kalau cuma jadi kekasih, aku juga mau jadi istri," Kataku sambil tersenyum. Seketika rona wajahnya cerah dan menyinarkan rona bahagia.
"Tentu. Aku akan menjadikanmu istriku. Jadi malam ini kita ngedate, ya. Bukan dinner lagi," Katanya sambil mulai menghidupkan mesin mobilnya kembali.
"Sebenarnya kita dinner ini acara apa sih, mas?" Aku penasaran. Sepertinya acaranya sangat penting sampai aku harus berdandan sespesial ini.
" Nggak ada. Dinner ini cuma kita berdua, tapi aku ingin ini jadi dinner spesial, sekaligus merayakan hari jadi kita," Ungkapnya jujur. Aku tertipu, kukira acara malam ini ada hubungannya sama perusahaan ternyata bukan. Sampai harus mengancam segala.
"Mas, kamu ngajak aku pacaran bukan untuk jadiin aku pelarian kan?" Selidikku. Tentu saja aku khawatir, baru tadi siang dia memutuskan Ruby dan malamnya dia menyatakan perasaannya padaku.
__ADS_1
"Pelarian? Pelarian dari siapa?" Bintang malah tidak paham dengan maksudku.
"Ruby. Tadi siang kan kamu baru putus dengannya," Aku benar-benar mencurigainya atau bisa jadi aku cemburu karena takut perasaannya masih terbagi.
"Aku sudah selesai dengan Ruby. Sejak dulu hubungan kami memang hanya status. Aku bahkan tidak pernah menyentuh tangannya," Ucapnya tegas Sepertinya dia berkata yang sebenarnya.
"Tapi , mas sudah mencuri ciuman pertamaku, kenapa mas bisa melakukannya? Malah tidak bisa dengan Ruby," Protesku kesal. mengingat kejadian di apartemen Bintang beberapa saat yang lalu.
"Karena kamu berbeda. Jangan merasa rugi begitu, itu juga pertama kali bagiku melakukannya," Ungkapnya malu-malu. Pipinya merona merah. Aku gemas melihatnya.
"Serius? Orang sekeren dan setampan mas belum pernah pacaran yang sebenarnya?" Aku mengintrogasinya.
"Aku mana ada waktu. Hari-hariku habis hanya untuk bekerja. Aku pacaran baru sekali dengan Ruby, itupun ibuku yang menjodohkan kami," Curhatnya. What? astaga, aku tidak menyangka masih ada cowok murni di jaman ini.
"Makanya, jangan maniak kerja. Mulai sekarang, aku akan sering mengajakmu jalan keluar, apa mas keberatan?" Aku menawarkan diri padanya. Dia harus menikmati hidupnya.
"Tentu saja tidak, aku senang ada seseorang yang mau menemaniku jalan-jalan. Aku juga ingin bahagia seperti yang lainnya. Saat pertama kali ketemu kamu, aku merasa kamu memang dikirimkan Tuhan untukku, " Bintang melemparkan senyuman manisnya padaku. Sesuai namanya, dia sekarang bersinar di hatiku.
"Mas, kenapa nama kamu Bintang?" Ku sedikit ingin tahu asal-usul namanya yang menurutku sedikit aneh.
"Saat hamil aku, ibuku suka sekali melihat bintang dari halaman rumah, makanya saat aku lahir, ibuku memberiku nama Bintang," Kisahnya,
"Memangnya kenapa? Namaku jelek?" Sambungnya.
"Nggak mas, aku malah suka banget sama nama mas. Ibaratnya sama seperti bintang, mas itu udah bikin orang-orang di sekeliling mas bahagia," Kataku sedikit ngelantur.
"Itu restonya, kita sudah sampai. Yuk, turun," Ajaknya. Aku malah terpaku melihat keadaan sekeliling. Sepi tanpa pengunjung, jangan-jangan dia salah tempat, fikirku.
"Ini yakin tempatnya, mas? kok sepi?" Aku kebingungan dan tidak percaya. Bintang malah tersenyum lebar.
"Jelas sepi, aku sudah booking seluruh area resto ini. Hanya ada kita berdua yang akan dinner," Pernyataannya mengejutkanku.
Buat apa coba? booking tempat sebesar ini hanya akan makan berdua? bagiku tentu saja ini pemborosan. Aku kurang paham dengan cara berfikir orang kaya.
__ADS_1
"Baiklah, kita masuk. Lain kali aku nggak mau mas kaya gini lagi, ya. Ini pemborosan, mas. Kan sayang uangnya, bisa di tabung untuk keperluan lainnya," Omelku. Bintang hanya tertawa kecil.
"Kamu tau nggak, ini yang buat aku jatuh cinta sama kamu. Kesederhanaanmu yang buat aku makin sayang," Bintang memujiku. Iyakah aku seperti itu? Apa karena selama ini aku selalu mau menemaninya makan di pinggir jalan? dari situ dia jatuh cinta padaku? Aku tidak perduli darimana awalnya dia jatuh cinta, yang pasti saat ini aku merasa bahagia. Bintang, aku padamu...