
#BintangPOV
Sepulang dari luar kota bersama Nadya, aku membuat janji dengan ruby untuk bertemu di sebuah kafe. Sekarang aku yakin untuk memulai hubungan yang nyata, bukan hanya status di atas kertas. Aku ingin mengakhiri hubungan politikku dengan Ruby. Tidak perduli lagi bagaimana reaksi orangtuaku menyikapi keputusanku ini. Antara aku dan dia jauh dari kata cocok.
Ku lihat arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah hampir pukul setengah dua, Ruby belum juga datang. Tidak seperti biasanya, ia selalu tepat waktu. Aku berusaha sabar untuk menunggunya sebentar lagi.
"Bintang, maaf lama menunggu. Aku baru saja mengantar ibuku arisan, ada apa? tumben ajak aku bertemu?" Seperti biasa, Ruby memang tidak pernah romantis kecuali saat akan akan meminta uang atau sesuatu dariku.
"Aku mau membicarakan tentang kita," Kataku langsung ke poinnya. Aku tidak ingin basa-basi lagi, sekarang ataupun nanti, akhirnya hubungan kami akan tetap berakhir.
"Sepertinya menarik. Jadi apa yang mau kamu bicarakan sekarang?" Ruby memainkan handphonenya, gadis ini sama sekali tidak perduli padaku. Berbeda dengan Nadya yang selalu menatapku saat aku sedang bicara.
"Aku mau, perjodohan kita di batalkan," Kataku datar. Aku tahu dia tidak akan perduli, tetapi setidaknya aku lega setelah mengatakan ini padanya, aku tidak perlu lagi pura-pura baik-baik saja dan menjalin hubungan yang hanya seperti status palsu.
"Di batalkan? Bagus, aku setuju. Aku juga tidak berminat menjalin hubungan serius denganmu. Jujur saja, kamu bukan tipeku Bintang," Ruby melenggang pergi tanpa rasa bersalah. Aku sudah tahu, reaksinya pasti seperti ini. Dia fikir, dia tipeku? Cih, kalau bukan karena perjodohan konyol ini, aku juga tak sudi mengenal gadis angkuh sepertinya. Aku juga segera beranjak dari tempat dudukku dan meninggalkan tempat itu setelah meninggalkan uang di meja sebagai bayaran atas minuman yang telah ku minum sambil menunggu Ruby tadi.
Aku kembali ke kantor. Sekarang aku bebas, tak ada lagi hubungan palsu yang terjalin antara aku dan Ruby. Saatnya aku fokus pada perasaanku terhadap Nadia. Memperjuangkan apa yang seharusnya aku perjuangkan.
__ADS_1
Gadis itu sudah menarik perhatianku. Dia tidak hanya cantik, tapi juga menarik. Aku suka dia yang apa adanya dan tidak pernah menuntut. Mulai detik ini, aku tidak akan melepasnya. Aku menginginkannya untuk menjadi milikku dan mungkin juga, untuk mendampingi hidupku.
Aku mungkin memang harus berjuang sedikit keras untuk mendapatkan hatinya. Karena besar kemungkinan dia adalah gadis yang tidak bisa dengan mudah jatuh cinta begitu saja padaku. Apapun tantangan yang harus aku hadapi, aku siap untuk itu.
"Bapak darimana?" tanya Nadya saat aku baru saja masuk ke ruang kerja kami. Sebenarnya pertanyaan itu tidak harus dia lontarkan padaku, karena kesannya dia sangat ikut campur dengan urusan pribadiku, tapi aku sangat menyukai bentuk perhatian kecilnya itu. Mungkin, kalau yang menanyakan itu bukan dia, aku tidak akan senang.
"Aku ada meeting di luar," kilahku, aku tidak mau gadisku itu salah paham lagi. Kalau aku bilang pergi menemui Ruby, pasti dia fikir aku kencan dengan wanita itu. Aku tahu, belum tentu dia berpikiran seperti itu, tetapi aku tidak ingin dia mengetahui pertemuan kami.
Padahal, kenyataan yang terjadi, aku dan Ruby bertemu hanya untuk memutuskan hubungan kami. Selama ini, kami menjalani semuanya hanya sebuah rekayasa. Semua terjadi atas nama perusahaan. Padahal, aku sudah berusaha keras untuk mencintainya. Hanya saja, Ruby tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan.
"..." Dia tidak merespon apapun. kembali terbenam dalam dunia kerjanya. Ia terlihat sangat serius dan bekerja keras. Benar-benar tipeku. Aku sangat kagum pada sosok wanita yang tidak menggilaiku, seperti dia yang bereaksi biasa saa saat berada di dekatku.
"Malam nanti, temani saya makan. Saya jemput kamu jam delapan. Jangan buat saya menunggu, atau gaji kamu saya potong lima puluh persen," Terlihat sangat kejam, tapi ini trik supaya dia tidak menolak untuk pergi bersamaku. Maaf Nadya, aku sedikit licik, batinku.
"Baik, pak. Dalam rangka apa bapak mengajak saya makan malam?" Tampaknya Nadya curiga dengan ajakanku yang spontan ini. Aku harus segera mengalihkan perhatiannya, karena aku tidak memiliki awaban untuk pertanyaannya ini.
"Jangan banyak tanya, atau gajimu akan..."
__ADS_1
"Baik, baik, saya tidak akan tanya lagi, pak. Saya ikuti apa mau bapak." lucu, gadis itu sangat patuh padaku. Aku suka, dia juga sangat imut. Please Bintang, kembalilah menjadi normal! aku mengutuk diriku sendiri. Aku merasa tidak biasa dengan perasaanku yang berbunga-bunga ini.
"Bagus, saya suka karyawan yang tidak banyak menuntut dan patuh seperti kamu. Lanjutkan bekerja. Saya tidak mengizinkan kamu sampai lembur malam ini." lebih tepatnya, aku tidak mau acara makanku denganmu sampai batal karena pekerjaan. Aku segera meninggalkannya dan kembali ke mejaku, pura-pura fokus dengan pekerjaan dan mati-matian menahan perasaan hatiku yang meletup-letup.
Pasti saat ini Nadya sedang kesal dalam hati dan menilai aku terlalu otoriter. Aku suka melihatnya menahan emosi. Senyum terpaksa, sikap yang terpaksa di buat manis, itu menarik sekali. Melihatnya sedikit tidak senang adalah hal yang membuatku bahagia.
"Kenapa bapak tidak makan malam dengan Mbak Ruby saja?" Protesnya kemudian. Aku tersenyum kecut. Aku bahkan tidak pernah makan malam dengannya kecuali saat ada acara keluarga atau perusahaan.
"Saya dan Ruby sudah tidak ada hubungan apapun. Jadi tolong jangan sebut namanya lagi,"Aku mendengus kesal. Nadya menunduk seperti merasa bersalah. Apa aku terlalu kasar? Mendadak aku merasa bersalah kepadanya.
"Maaf, pak. Saya tidak tahu kalau anda dan Mbak Ruby sudah putus," katanya takut-takut. Aku pasti sudah menakutinya dengan sikapku yang sedikit tempramen saat membahas Ruby.
"Tidak masalah, yang penting nanti malam dandan yang terbaik, karena malam ini adalah malam yang spesial," Aku memberinya kode, entah dia sadar atau tidak. Malam ini aku akan mengungkapkan perasaanku padanya. Aku sudah siap, meskipun malam ini Nadya menolakku.
"Baik pak, saya akan menampilkan dandanan yang terbaik untuk menemani bapak malam ini," Nadya menyanggupinya, aku sungguh tidak sabar untuk melihatnya malam nanti, mungkin ia akan berubah menadi seorang wanita yang lebih anggun dari apa yang aku lihat biasanya.
Lega hatiku mendengar jawaban darinya. Aku bisa membayangkan bagaimana Nadya sangat cantik dan anggun nanti malam. Dengan tampil biasa saja , dia sangat mempesona. Membuat naluriku sebagai laki-laki memandangnya sebagai perempuan.
__ADS_1
Aku tidak menyangka secepat ini, tapi hatiku benar-benar jatuh padanya. Aku ingin segera mempersuntingnya menjadi istriku. Rasanya jatuh hati ternyata sungguh luar biasa.