
#BintangPOV
Sejak aku membaca biodata Nadya Safira, aku merasa sesuatu yang berbeda. Meskipun kita dipertemukan dengan kisah awal yang menyebalkan, tapi justru itu yang membuatku terkesan padanya. Di depanku ia menunjukan amarahnya, tapi dia sebenarnya sangat lembut dan kelembutannya itu yang membuatku jatuh hati.
Aku tidak menyangka, aku bisa begitu mudah jatuh cinta pada seorang wanita. Aku bahkan sudah mencobanya dengan belajar mencintai Ruby, tapi hasilnya tidak terlalu bagus. pada akhirnya, aku tetap tidak bisa jatuh cinta padanya.
Hari ini aku berencana mengajaknya pergi keluar kota menemui seorang relasi kerjaku beberapa hari. Sebenarnya masa kerja di sana hanya tiga hari, tapi aku sengaja mengatakan padanya kalau kami harus pergi selama satu minggu. Aku ingin menjalin kedekatan dengannya dan ingin dia lebih memahamiku sebagai diriku, bukan sebagai bosnya.
Senang rasanya dapat berjumpa dengan kedua orangtua Nadya, untuk pergi kesana bahkan aku sampai mengeluarkan hampir sluruh isi lemariku agar terlihat rapi dan menarik. Bahagia rasa hatiku saat dia bilang aku keren.
Orangtua Nadya menyambut kedatanganku dengan baik. Sepertinya mereka mengira aku pacar anaknya. Aku memang ingin menjadikannya pacarku, tapi dengan status Ruby masih jadi kekasihku, ini jelas bukan keputusan yang baikuntuk di ambil saat ini, dia pasti akan menolakku mentah-mentah.
Aku juga merasa lega, informasi dari orang tuanya mengatakan kalau Nadya belum punya pasangan. Aku harus bertindak cepat, merebut hatinya sebelum ada laki-laki lain yang membawanya pergi. Aku memng menjadi sedikit parnoan akhir-akhir ini.
"Nad, Apa menurutmu aku ini tampan?" tanyaku setelah ngobrol kesana kemari dengannya, pertanyaanku memang konyol, tetapi aku hanya ingin tahu, seperti apa aku dari sudut pandangnya.
"Mas Bintang tampan, sangat tampan," katanya jujur. Aku tahu saat ini dia tidak sedang berbohong. ia tampak sangat polos saat mengatakan ini.
"Jadi, apa aku pantas di cintai?" tanyaku lagi. Aku menanyakan ini, jelas karena Ruby yang tidak memandangku sebagai lelaki yang di cintainya.
"Sangat pantas, mas. Setiap orang di dunia ini pantas untuk di cintai," Jawabnya dengan ceria. Senyumnya yang merekah membuat kesan manis melekat padanya.
__ADS_1
"Tapi kenapa Ruby tidak mencintaiku dan hanya mencintai jabatan dan uang yang ku punya?" Aku mengetes Nadya, kira-kira apakah dia cemburu merasa aku mengharapkan Ruby.
"Mungkin Mas kurang perhatian pada Mbak Ruby, makanya dia tidak perduli dengan Mas Bintang," Di luar dugaan, dia tidak cemburu sedikitpun. Apa dia benar-benar tidak menaruh hati padaku? Apa aku kurang menarik? kurang keren?Prasangka buruk tentang diriku sendiri akhirnya bermunculan.
"Begitu ya, Apa menurutmu aku orang yang terlalu cuek?" Aku mencoba mencari tahu, bagaimana aku menurut Nadya.
"Ya, sedikit. Cuek, nyebelin, jahil lagi." Hah, jadi seperti itu aku menurut pandangan Nadya. Tapi aku senang, bukankah ada kemungkinan suatu hari dia bisa jatuh cinta padaku?
"Nad, kalau seandainya aku minta kamu menjadi pacarku, apa kamu bersedia?" Aku menggodanya, kira-kira dia akan jawab apa ya?
"Tidak," Sudah ku duga, pasti dia menjawab tidak.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Jadi, kalau aku tidak ada hubungan dengan siapapun, kamu mau menerimaku?" Aku ingin tahu, perasaan seperti apa yang dia miliki padaku saat ini. Apakah selama ini dia juga menyimpan sebuah perasaan terembunyi untukku?
"Mas, jangan bicara omong kosong. Aku tidak suka di beri harapan palsu, bagaimanapun itu sangat menyakitkan," Aku tahu, mungkin saat ini di dalam hatinya ada aku meskipun hanya sedikit. Tapi dia sendiri sangat takut mengakuinya. Untuk mendapatkan hatinya, aku harus berusaha lebih keras. Terutama, membatalkan perjodohanku dengan Ruby.
Sepanjang perjalanan, kami berdua saling diam. Aku bingung mau mengajaknya bicara apa lagi. Mungkin saat ini dia juga canggung karena statusku yang memiliki pasangan. Aku kemudian memutuskan untuk lebih fokus menyetir saja.
Minggu depan, rencananya aku ingin membicarakan pembatalan perjodohan dengan Ruby. sejak awal diantara kami tidak ada kecocokan. Diteruskanpun hasilnya tidak akan baik. Ruby juga sudah pasti akan menerima keputusanku.
__ADS_1
Kami berdua akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah villa di dekat pantai, kami akan tinggal di sana beberapa hari. Seandainya saat kami pergi, status kami sudah pacaran, tentu tinggal di pantai seperti ini akan menadi sangat manis.
Di hari pertama ketemu rekan kerja...
"Selamat pagi, pak Frans," Aku mendatangi rekan bisnisku di tepi pantai. Kami sengaja membahas pekerjaan dalam suasana santai.Telah banyak waktu yang aku lalui dengan serius, sesekali menikmati santai sambil bekerja sekaligus nampaknya sangat menarik.
Nadya tentu saja bersamaku. Ia tampak anggun hari ini, dengan dress santai berwarna soft pink, membuat aura kecantikannya keluar. Aku tertegun saat pertama kali melihatnya tadi pagi. Mungkin perasaan sukaku padanya yang membuat ia tampak mempesona di setiap keadaan.
"Hei, selamat pagi pak Bintang, senang bertemu anda, maaf, ini bukannya Nadya?" Frans mengenali Nadya? Aku harus waspada, kira-kira sedekat apa mereka? Tampaknya lama-kelamaan perasaanku berlebihan.
"Iya betul, ini Nadya, sekertaris pribadi saya pak Frans. Kok bapak bisa mengenalnya?" Tanyaku menyelidik.
"Tentu saja pak, Nadya ini anak teman papa saya, kami sudah beberapa kali bertemu sebelumnnya, bukan begitu Nadya?" Frans melempar senyum ke Nadta, dan gadis itu membalasnya. Sialnya, aku merasa cemburu sekarang. Membayangkan hubungan Frans dengan orangtua Nadya sudah akrab.
"Oh begitu, Apa kalian pernah memiliki hubungan spesial?" Aduh, aku malah menanyakan hal yang tidak penting. Nadya semoga tidak curiga kalau saat ini aku sedang cemburu.
Semenjak ada rasa dengan Nadya, rasanya aku menjadi sedikit aneh. Ingin mengawasinya, mencurigainya, dan merasa ada ini dan itu dengan gadis itu.
"Tentu saja tidak, saya dan pak Frans hanya berteman biasa kok," Gadis itu angkat bicara, Senyumnya sangat manis.Membuat aku jadi merasakan sesuatu yang tidak biasa. Mungkin perasaanku padanya benar-benar mulai tumbuh.
"Baiklah, lupakan yang tadi, mari kita bahas bisnis yang akan kita kembangkan pak," Aku mengalihkan topik, sementara Nadya dengan setia duduk mendampingiku. Beruntung, pembicaraan kami yang sedikit keluar jalur dapat teratur kembali.
__ADS_1
Kami menikmati waktu yang tersisa dengan jalan-jalan ke tempat-tempat yang bagus untuk di kunjungi. Nadya tampak sangat menikmati kegiatan yang sedang kami lakukan, sesekali kami bermain air dan melihat indahnya deburan ombak. Aku ingin mengulur waktu bersamanya lebih lama lagi.