
NadyaPOV
Malam semakin larut. Akhirnya tugas yang di berikan Bintang selesai juga. Rasanya badanku remuk. Mataku sudah lelah, menatap layar laptop seharian. Ingin segera tidur, rindu kasur empukku di rumah.
Setelah aku rapikan meja, dengan segera aku keluar ruangan. Suasana sepi, padahal jam di dinding kantor masih menunjukkan angka sembilan. Di lobi tampak seorang satpam sedang berjaga.
"Lembur non?" Tanyanya dengan sopan. Bapak satpam itu mengingatkanku pada seorang guru di sekolah dulli, saat aku masih SMA. Badannya tinggi besar, serta kumis yang melengkung dan tebal. Hampir menutupi bibir bagian atasnya.
"Iya pak," jawabku singkat. Aku melemparkan senyumanku.
"Non baru ya, saya baru lihat hari ini?" Ia mengajakku berkomunikasi.
"Betul pak, saya baru bekerja hari ini. Saya mendapatkan tugas sangat banyak. Jadi harus pulang selarut ini."Aku mencoba menjelaskan.
"Jam segini sudah jarang ada taksi lewat area kantor non, harus keluar dulu sekitar lima puluh meter." terang si bapak. lumayan juga, lima puluh meter, kakiku bisa kram.
"Pantas saja dari tadi sepi. Kalau begitu saya akan jalan keluar, Pak. Terimakasih infonya," kataku kepada si bapak sambil menunduk hormat.
Meski lelah sudah menyerang tubuhku aku mencoba untuk berjalan menyusuri jalan menuju ke jalan raya utama. Hari ini begitu berat. Sepertinya Bintang memang sengaja mengerjaiku. Dia fikir aku akan menyerah dan resain dari kantor. Coba saja, tidak semudah itu aku akan menyerah.
Tiin..Tiiin..!
Sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti tepat di sampingku. Pemilik mobil lalu menurunkan kacanya.
"Ayo masuk, aku akan mengantarmu pulang. Sebagai tanda terimakasih sudah bekerja keras hari ini, jadi jangan geer," kata si pemilik mobil yang ternyata Bintang, dengan ekspresi dingin. Ajakan macam apa, bukannya bikin terkesan malah membuat aku merinding. Pemilik mobil ini benar-benar percaya diri.
"Tidak perlu pak bos, Saya naik taksi saja," aku coba tersenyum, meski itu palsu.
__ADS_1
"Jadi, kamu menolak kebaikan saya?" ekspresinya semakin dingin. Sepertinya dia marah. Aku langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Baiklah, saya terima kebaikan bapak. " Kataku dengan terus senyum terpaksa. sepertinya lama-lama keram juga pipiku jika terus seperti ini. Bos yang menyebalkan.
"Bagus," Katanya sambil tersenyum licik. Sepanjang perjalanan kami sama-sama diam. Suasana yang sepi dan musik yang selow membuatku mengantuk. Bintang hanya fokus ke jalan. Rasanya membosankan satu mobil dengannya. Aku pun terlelap.
Pagi harinya, aku telah terbangun di sebuah kamar asing. Aku segera memeriksa pakaianku. Berarti aku aman semalam. Semua masih lengkap. Syukurlah, tapi aku sekarang ada di mana?
Aku memandang seisi kamar yang begitu luas. seluruh perabotan tampak begitu mewah. Aku terjebak memandang sebuah foto yang terpajang di meja. Itu kan foto Bintang.
"Sudah bangun rupanya, semalam kamu tertidur sangat pulas, aku sudah berusaha membangunkanmu. Tapi kamu sangat susah di bangunkan, jadi aku bawa kamu kesini. Jangan mikir macam-macam. Aku tidak berbuat apa-apa." Bintang baru saja keluar dari kamar mandi.
Sepertinya ia sengaja memamerkan dada bidang dan perut kotak-kotaknya padaku. Dasar mesum. Beraninya dia menemuiku hanya memakai handuk seperti itu. Terlalu seksi.
"Maaf bos, Tapi penampilan bos sangat tidak sopan." Aku risih melihatnya. Sebaliknya, Bintang tampak tersenyum geli memandangku.
"Jangan sok pintar, biar aku buka." katanya sambil mengulurkan tangan yang berotot dan kekar itu ke arah tombol kode pintu.
Posisi apa ini? Apa Bintang sengaja menggodaku? Wangi tubuhnya sehabis mandi begitu semerbak. Aku akui badannya sangat indah. Aku tidak bisa menahan pesonanya.
"Mandilah, kita harus segera ke kantor. Aku sudah membelikanmu seragam khusus sekertaris pribadiku," bisiknya di telingaku. Aku merasa bulu kudukku merinding karena tingkahnya.
"Bagaimana dengan orangtuaku pak," tanyaku padanya. tiba-tiba aku ingat papa mamaku. Bagaimana kalau mereka tahu aku satu ruangan dengan Bintang?
"Jangan khawatir. Aku sudah menelepon ke rumahmu dan mengatakan kalau kita meeting ke luar Kota." katanya lagi, masih dengan posisi yang sama. Dia sangat dekat denganku. Tangannya masih memegang kode pintu, setengah memelukku.
Aku berbalik arah tanpa perhitungan dan cup, tanpa sengaja aku mencium bibir Bintang. kami berdua mematung. Mata kami bertemu. Aku melihat pipinya memerah.
__ADS_1
"Maaf pak," Kataku singkat. Aku sangat malu. Aku mendorongnya menjauh, tetapi akhirnya aku dan dia malah sama-sama terjatuh. Posisiku berada di atas tubuhnya. Tanganku memegang dadanya. Bibirku tepat di bibirnya. Kami terdiam beberapa saat. Aku tidak bisa berkata sepatah kata pun.
Bukan menjauh, Bintang mencium bibirku lagi. Aku merasakan hangat bibirnya yang lembut. Aku terbawa suasana dan membalas ciumannya. Entah apa yang merasuki kami berdua.
"Cukup pak, Kita sudah melewati batas. Saya akan bersiap-siap," Aku tersadar dan mendorong wajah Bintang menjauh. Aku takut akan semakin jauh. Aku bangkit. Mengambil tas yang berisi seragam kerja dan menuju kamar mandi. Bintang membuatku gila pagi ini.
BintangPOV
Entah kenapa tiba-tiba aku merasa iba kepada sekertaris baruku itu. Aku merasa sudah sangat keterlaluan. Memberikannya tugas terlalu banyak sampai ia lembur semalam ini.
Aku sengaja menunggunya keluar dari kantor. Aku lega saat ia tampak bercakap-cakap dengan satpam kantor. Aku bisa melihat wajahnya yang lelah dan matanya yang menahan kantuk.
Setelah itu aku melihat dia berjalan ke arah jalan raya utama dengan gontai. Rasanya semakin tidak tega. Aku segera mengikutinya.
Aku berhenti tepat di sampingnya, aku buka kaca mobilku sambil menawarkan tumpangan. Tentu saja aku pakai ekspresi dingin supaya dia tidak kesenangan. Dia mencoba menolak. Membuat aku sedikit kesal. Akhirnya dia mau naik ke mobilku.
Di perjalanan, Kami saling diam. Aku sengaja membiarkannya rileks dengan musik selow. Tapi lama kelamaan dia malah tertidur pulas. Aku memandanginya sesaat. Dia gadis yang manis. Aku memutuskan membawanya ke apartemen setelah menghubungi keluarganya.
Sesampainya di apartemen aku menggendongnya, ia sama sekali tidak terbangun. Pelan-pelan aku menidurkannya di ranjangku dan menyelimutinya.
"Selamat tidur.." ucapku pelan. Aku tahu dia tidak akan mendengarku. Aku tinggalkan dia di sana. Aku merebahkan tubuhku di sofa dan terlelap.
Pagi harinya aku terbangun. Nadia masih tidur pulas. Aku segera mandi. Saat keluar dari kamar mandi aku melihatnya kebingungan. Aku cepat-cepat memberikan penjelasan bahwa semalam tidak terjadi apa-apa.
Dia seperti terpana melihat dada dan perutku yang terbuka. Aku hanya memakai handuk. Ia sepertinya malu dan ingin keluar dari kamarku. Tentu saja tidak bisa, pintu kamarku memakai kode. Aku berinisiatif membukakan kodenya.
Aku begitu nyaman dekat dengannya. Muncul ideku untuk menggodanya. Tiba-tiba saja dia berbalik, tanpa sengaja bibirnya menyentuh bibirku, lembut sekali.
__ADS_1
Dia mendorongku, akhirnya kami terjatuh bersama. lagi-lagi bibirnya bersentuhan dengan bibirku. Aku tergoda untuk menciumnya, dan aku lakukan itu. Dia tidak melawan dan sangat menikmatinya. Kami terlibat sebuah ciuman panas. Sampai akhirnya dia menyadari apa yang terjadi dan mendorongku. Dia meninggalkan aku untuk membersihkan diri dengan hasrat yang masih tinggi. Kelinci manis. Aku menyukaimu.