Si Tampan Pemikat

Si Tampan Pemikat
03. Bos Jahil


__ADS_3

#NadyaPOV


Gara-gara kerjaan yang menumpuk, sudah sampai jam pulang kantor, tugasku belum juga selesai. Rasanya aku sangat kesal pada bosku itu. Tega sekali dia, memberikan tugas yang sangat banyak kepada karyawan baru seperti aku.


Aku melirik si bos. Dia masih sibuk mengerjakan sesuatu. Benar-benar robot berwujud manusia! umpatku dalam hati. Dia sepwrti tidak mempermasalahkan soal waktu. Baginya pekerjaan adalah hal utama. Ia bahkan tidak melirik ke arah jam dinding atau jam tangannya sedikitpun.


Rasa kesalku memuncak. Tanganku mulai terasa kebas. Sementara pekerjaanku belum juga selesai. Aku meremas kertas dan membentuknya bulat, ingin aku lempar kepala Bintang, setelah aku hampir melemparnya tiba-tiba dia menatap ke arahku. Spontan aku buang bola kertas itu ke tong sampah.


"Nad, tolong buatkan saya kopi,"


Dia memerintahku. Dia benar-benar tidak memiliki rasa iba. Di saat aku sudah kelelahan begini, ia masih sempat memintaku untuk membuatkannya seselas kopi.


"Baik, Pak,"


Sahutku. Aku langsung beranjak pergi dari ruangan yang menyesakkan itu menuju pantry. Di sana aku bertemu dengan seorang laki-laki. Aku mengabaikannya dan fokus pada tugasku membuatkan secangkir kopi untuk tuan tampan.


"Pegawai baru ya,"


Tanyanya ramah, lebih tepatnya sedikit sok kenal. Nada bicaranya juga bukan seperti orang ingin berkenalan, lebih mirip seperti seseorang yang sedang mrnggoda.


"Iya, baru kerja hari ini. "


Sahutku sambil menyiapkan kopi pesenan Bintang. Aku sempat mencium bau harum kopi yang tengah ada di tangan lelaki itu.


"Sekertaris barunya Bintang ya?"


tebaknya, Aku mengangguk. Kebetulan atau apa, dia ternyata bisa tepat menebak posisiku ada dimana.


"Wah, pintar juga si Bintang, cari sekertaris pilih yang cantik, bisa sambil cuci mata,"


Lelaki itu tertawa kecil, seperti sedang mencemoohku karena bekerja di bawah pimpinan

__ADS_1


"Apaan sih, kalau kamu siapa?"


Tanyaku penasaran. Aku sedikit menyesal karena harus berbasa-basi dengan orang asing.


"Aku kakaknya Bintang. Namaku Davin."


Ternyata lelaki itu kakaknya Bintang. Apa mungkin seisi kantor ini isinya keluarga semua?


"Aku mampir sebentar, kebetulan abis meeting di wilayah sini," Imbuhnya, padahal aku juga tidak ingin tahu tujuannya ke kantor Bintang.


"Kalau begitu, selamat berkunjung.Saya duluan, pak. Pak Bintang pasti sudah menunggu saya."


Aku cepat-cepat pergi meninggalkan Davin. Takutnya nanti Bintang marah karena terlalu lama menunggu aku datang.


"Permisi, Pak. Ini kopi Bapak.."


Aku berusaha sopan sambil meletakkan kopi buatanku di atas meja kerjanya. Ia menyeruput kopi buatanku itu.


"Ini terlalu manis, cepat tambahkan air. Aku takut kena diabetes," Ia menyodorkan gelas kopinya. Aku kembali ke pantry untuk menambah air kopi Bintang. Secepatnya aku kembali ke ruangannya. Aneh, padahal aku yakin sudah pas dengan takaran, tapi kenapa hasilnya jadi terlalu manis?


"Ini Terlalu pahit. Sebenarnya kamu bisa bikin kopi atau tidak?!" Dia setengah membentakku. Salah lagi. Kenapa dia tidak bikin sendiri saja? Sudah menyuruh, masih komplain juga.


"Akan saya tambah gula pak," Aku mencoba sabar. Meskipun aku paham, sepertinya Bintang sengaja melakukan ini.


"Nggak perlu, nanti kemanisan lagi! Saya mau pulang saja! lanjutkan semuanya sampai selesai!"


Bintang menenteng Tas kerjanya dan meninggalkan aku sendiri. Kopi yang ku buat di tinggalkan begitu saja. Setelah aku yakin dia keluar ruangan, aku mencicipi kopi itu, ternyata pas. Seperti dugaanku, dia sengaja melakukan ini padaku.


Brrakk!


Aku memukul mejanya kesal dan kembali ke meja kerjaku, dia pasti sengaja melakukan ini untuk menguji kesabaranku. Mau tidak mau aku harus kembali tenggelam dalam tugasku yang masih menumpuk. Kapan selesainya ini? Aku mulai sedikit putus asa.

__ADS_1


#BintangPOV


Aku melihat Nadya sesekali melihat jam sambil mengebaskan tangannya. Pasti dia sangat lelah karena terlalu banyak tugas di hari pertamanya kerja. Aku juga melihat sesekali ia melirikku. Jangan-jangan dia terpesona dengan ketampananku? Ah, mulai lagi, aku terlalu percaya diri.


Aku ingin membuatnya lebih kesal lagi, terlintas sebuah ide nakal untuk mengerjai sekertaris baruku itu. Aku akan menyuruhnya buat kopi. Bukan karena ingin ngopi, tapi aku hanya mengerjainya saja.


Saat aku akan menyuruhnya, aku melihat dia akan melemparkan gulungan kertas, tapi secepat kilat ia urungkan niatnya karena aku memergokinya. Aku tahu, dia sangat tidak terima dengan perlakuanku.


Dia langsung berangkat saat aku menyuruhnya dengan wajah lelah. Kasihan sekali sekertarisku itu. mungkin besok dia tidak akan masuk kantor karena tepar. Aku tidak perduli, aku hanya ingin melihatnya kesal, itu memberikan efek tersendiri bagiku.


Saat dia kembali, aku sengaja bilang kemanisan, padahal rasanya sudah pas dengan seleraku. Aku suka kopi yang manis. Aku yakin, dalam hatinya pasti sangat kesal. Saat ia berbalik badan dan kembali ke pantry aku tersenyum geli.


Di kopi yang kedua, aku bilang terlalu pahit, padahal sebenarnya masih enak di minum. Rasanya puas sekali melihatnya menahan amarah seperti itu.


Setelah itu aku meninggalkannya pulang begitu saja. setelah keluar, aku mengintipnya dari kaca, dia menyeruput kopi buatannya lalu dia memukul meja.


Sepertinya dia sadar aku jahili. maaf Nadya.


Aku bergegas ke ruangan papa, hari ini ada hal yang harus kami bahas berdua mengenai perusahaan dan juga perencanaan kecil mengenai strategi bisnis ke depan.


"Bintang, apa kamu suka dengan sekertaris pilihan papa? Dia gadis yang baik, papa yakin dia sangat membantu. Saat tes, kerjanya juga cukup cekatan." puji papa, aku mengakui itu. Nadya cukup bisa di andalkan, meskipun dia orang baru.


"Lumayan, Pa. Dia memang gesit kerjanya. Terima kasih telah memilihnya untukku. Aku harap, ke depan aku bisa kerjasama dengan baik dengannya." aku mengakuinya di depan papa kalau Nadya memang cukup rekomen.


"Syukurlah. Aku harap kamu bisa bersikap baik padanya. Meskipu ia anak baru, ia juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan sekertarismu yang lama." Papa mencoba mengingatkan aku. Sekertaris lamaku memang sangat dekat denganku, ia sudah seperti saudaraku sendiri. Mungkin karena sudah cukup lama bersama.


Bedanya dulu aku tidak sejahil pada Nadya saat sekertarisku itu baru bergabung. Karena ia juga tidak menabrak dan memarahiku seperti Nadya. Sungguh, aku merasa seperti orang jahat.


"Tenang saja, Pa. Aku akan memperlakukan sekertarisku dengan baik. Kata Papa, ada hal yang ingin di bicarakan. Apa itu, Pa?" aku penasaran dengan tujuan papa mengajakku bertemu. Biasanya memang selalu seperti ini, kami selalu membicarakan hal-hal penting berdua, lebih tepatnya berdiskusi.


"Papa berencana merekrut beberapa tour guide, bagaimana menurutmu? Apa itu cukup membantu untuk kemajuan proyek ke depan?" papa meminta pendapatku.

__ADS_1


"Bagus juga, Pa. Aku setuju. Kalau begitu nanti aku akan minta bagian HRD untuk membuat info lowongan pekerjaan." aku menyetujui masukan papa.


Kami terus berbincang. Saat berdua dengan papa seperti ini sering aku rindukan. Beliau bukan hanya seorang ayah, tetapi juga partner kerja.


__ADS_2