Si Tampan Pemikat

Si Tampan Pemikat
02. Bos Misterius.


__ADS_3

#NadyaPOV


Aku sangat senang, hatiku berbunga saat aku di terima kerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata. mirip seperti agen traveling. posisiku sebagai sekertaris dari wakil direktur. Hari ini hari pertamaku masuk kantor. Jangan tanya bagaimana rasanya, aku sangat senang bisa mendapatkan pekerjan ini. Dari sekian banyak pelamar,  aku berhasil menduduki posisi ini.


Seorang wanita dengan perawakan tinggi langsing dan rambutnya di ikat ekor kuda mengantarkan aku ke ruangan si bos. Dia memperkenalkan dirinya bernama Elena, sekertaris direktur. Dia sangat cantik menurutku, tampilannya begitu elegan, bahkan, dia cocok untuk menjadi seorang bos sekalipun. Aku senang sekali bertemu dengan orang seramah dia, mungkin ke depan, aku akan banyak belajar darinya nanti.


Elena bilang wakil direktur perusahaan adalah anak dari pak direkturnya sendiri. dia juga bercerita kalau calon bosku itu orangnya sangat menyenangkan, supel, ramah dan suka membantu pekerjaan bawahannya. Aku sampai bisa membayangkan betapa enaknya menjadi sekertarisnya.


"Pak, ini Nadya, sekertaris baru bapak," ucapnya sopan pada seorang lelaki yang tengah duduk di meja kerjanya. Ia tampak sangat fokus pada laptop yang di hadapannya. Aku sangat penasaran, bagaimana wajah bosku ini.


"Tinggalkan dia disini, aku mau memberitahukan beberapa hal padanya," ucapnya dingin. Tanpa melihat ke arah kami. Aku heran, kenapa sikapnya sangat berbeda dari apa yang di sampaikan Elena. Justru yang di hadapanku adalah orang yang menyebalkan. Acuh dan dingin, sama sekali tidak menyenangkan.


"Baik pak," Elena meninggalkan aku berdua dengan si bos. Aku jadi merinding. Aku mencium ketidak beresan. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan setelah ini, walaupun aku belum tahu apa itu.


"Duduk," perintahnya. Tetap dengan nada dingin. Aku menurutinya. menarik sebuah kursi yang ada di hadapannya dan duduk di sana. Perasaanku semakin tidak enak. Aku berusaha menatap waahnya yang datar, kalau saa ia tidak cukup tampan, keadaan itu pasti semakin membuatnya semakin seram.


"Jadi nama kamu Nadya?" tanyanya sambil menatapku, senyumnya sinis.


Aku terbelalak. Melongo. Ternyata bosku adalah Bintang. Seorang lelaki tampan yang aku tabrak di koridor saat interview kemarin dan parahnya aku justru memarahinya. Perasaanku jadi semakin tidak enak. Mungkin pria di hadapanku ini sedang berpikir, cara apa yang pantas ia gunakan untuk membalasku.

__ADS_1


"Benar pak, nama saya Nadya. Salam kenal. Maaf pak soal kemarin, saya tidak bermaksud memarahi bapak, semua salah saya,"


Kataku pelan. dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. Seharusnya aku tidak pernah melakukan itu. Bagaimana kalau dia masih menyimpan dendam padaku dan memecatku hari itu juga? ini adalah pekerjaan impianku. Bukankah akan sangat lucu, di pecat di hari pertama bekerja?


"Aku bukan tipe orang yang pendendam. Aku hanya ingin memberikan tugas pertamamu sebagai sekertarisku. Kamu lihat di pojok sana, itu meja kerjamu, dan yang menumpuk itu adalah berkas-berkas yang harus kamu periksa. Catat semua daftar customer, tujuan destinasi, dan tanggal keberangkatan secara rinci, ingat... urutkan tanggalnya, jangan sampai kelewat. Harus selesai hari ini. Bila perlu kamu harus lembur"


dia tersenyum sinis.


Mataku tak berkedip melihat tumpukan map yang menggunung di mejaku. Tugas pertamaku sangat berat. Bosku ternyata sangat gila kerja. Dia mengira aku robot atau monster? Sampai harus mengerjakan tugas sebegitu banyak di hari pertamaku kerja. Sungguh ini lebih mengerikan dari yang aku bayangkan sebelumnya.


"Baik, pak," ucapku pelan. Aku tidak bisa membantah apapun. Aku harus semangat dan menyelesaikan tugasku tanpa kesalahan sedikitpun. Ini adalah langkah pertamaku untuk meyakinkannya bahwa aku cukup bisa di andalkan.


#BintangPOV


Aku mempelajari berkas biodata sekertaris baruku yang di berikan Elena, sekertaris papa. Aku sangat terkejut saat melihat foto dari sekertaris baruku itu. Aku teringat bagaimana kemarin dia dengan ketusnya membentak dan menyalahkan aku menabraknya. Ternyata apa yang dikatakan Davin benar, aku bertemu lagi dengannya, wanita aneh itu.


Padahal jelas-jelas dia yang salah. Berjalan tergesa-gesa tanpa melihat aku di depannya.


Sekertaris lamaku memutuskan berhenti bekerja setelah menikah dan suaminya tidak mengizinkannya masuk kantor lagi. Terpaksa aku meminta tolong papa untuk mencarikan penggantinya dan menurut papa Nadia cocok menjadi sekertarisku.

__ADS_1


Papaku dulu pernah kuliah jurusan psikolog. Ia membaca raut wajah Nadya saat di interview sebagai sosok pegawai yang pekerja keras dan tangguh. Jadi aku setuju dengan pilihan papa.


Tapi setelah aku tahu siapa Nadya itu, aku sepertinya ingin mencari kebenaran dari pandangan papa terhadapnya. Apakah dia sekuat itu? Aku penasaran, setangguh apa dia.


Saat Elena mengantarkannya kepadaku, aku sengaja bersikap dingin. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihatku. Ternyata dia terkejut. bahkan dia meminta maaf atas kesalahannya padaku. Manis sekali. Seperti seekor kelinci. Wajahnya yang menampakkan rasa bersalah itu menampakkan keimutan yang tidak bisa aku gambarkan,  mungkin itu sisi kelebihan pertamanya di hadapanku.


Sebagai tugas pertama, aku sengaja menyuruhnya menyelesaikan pendataan jadwal kunjungan konsumen sengaja aku kumpulkan seluruh berkas dalam sebulan, padahal itu sudah di kerjakan oleh sekertarisku sebelumnya. aku ingin tahu, seberapa teliti si sekertaris baruku ini.


Seperti tebakanku, dia menurut tanpa protes sedikitpun. Dia sangat patuh dan tanpa pembelaan. Mungkin dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Sebenarnya aku cukup tidak tega, memberinya pekerjaan padanya begitu banyak di hari pertamanya bekerja, tapi hasil kerjanya pasti akan aku pertimbangkan untuk kelangsungan kerjanya ke depan. Aku harap, dia rela dan tidak merasa terintimidasi.


"setiap hari, aku akan memberimu tugas yang tidak masuk akal, aku ingin tahu, seberapa tahan kamu menjadi sekertarisku, " gumamku sangat pelan. Aku terus menatapnya yang sekarang sibuk meneliti berkas dalam map-map yang menggunung itu. Aku tersenyum puas. Selamat lembur Nadya.


Aku bergegas keluar ruangan. Bahkan Nadya tidak perduli dengan kehadiranku. Ia sangat konsentrasi. Aku suka cara dia bekerja. Aku menemui seseorang di lobi kantor.


"Sayang..."


Seorang wanita cantik berlari menemuiku. Dia Ruby, pacarku. Lebih tepatnya pacar pilihan orangtuaku. Dia memang cantik, cerdas, anak dari salah satu pengusaha sukses indonesia. Orang tuanya adalah sahabat baik orangtuaku. Kemungkinan besar kami akan segera di nikahkan tahun depan.


Sebenarnya aku tahu, kalau Ruby tidak pernah mencintaiku, dia hanya mencintai kekayaan keluargaku. Bahkan aku sering mendengar dari beberapa teman kalau mereka melihat Ruby bersama laki-laki lain ke beberapa tempat berbeda. Tak apa, aku tidak ambil pusing untuk itu, lagipula kami memang belum menikah, aku tidak mau oveprotek terhadapnya.

__ADS_1


Seperti biasa, Ruby mengajakku pergi melihat pameran tas keluaran terbaru yang telah lama ia impikan. Aku menurutinya untuk menyenangkan hati wanita itu.


__ADS_2